Mengenal Gunung Etna, Gunung Berapi Paling Aneh di Dunia

- Mount Etna dikenal sebagai gunung berapi paling aktif di Eropa dengan perilaku unik yang tidak mengikuti pola stratovolkano biasa, memuntahkan lava alkalin lebih sering dari seharusnya.
- Penelitian terbaru mengungkap Etna tidak cocok dalam kategori vulkanik umum seperti zona subduksi atau hotspot, menjadikannya anomali geologi yang membingungkan para ilmuwan.
- Hasil studi menunjukkan Etna mendapat suplai magma dari cadangan lama di kedalaman sekitar 80 km, menjelaskan aktivitasnya yang terus berlanjut dan penting bagi mitigasi risiko wilayah sekitarnya.
Gunung berapi Mount Etna telah berdiri selama lebih dari setengah juta tahun, namun aktivitasnya masih jauh dari kata mereda. Dengan ketinggian sekitar 3.400 meter, gunung ini dikenal sebagai gunung berapi paling aktif di Eropa, dengan letusan yang bisa terjadi beberapa kali dalam setahun.
Yang membuatnya semakin menarik, Etna tidak berperilaku seperti stratovolkano pada umumnya. Ia secara rutin mengeluarkan lava alkalin, jenis magma yang biasanya membutuhkan waktu lama untuk terbentuk. Namun, di sini justru muncul lebih sering dari yang seharusnya.
Fenomena ini membuat Etna menjadi teka-teki geologi selama puluhan tahun karena tidak ada proses yang benar-benar mampu menjelaskan asal-usul maupun suplai magmanya.
Sebuah studi terbaru menemukan bahwa Etna kemungkinan didorong oleh mekanisme magma langka yang sebelumnya hanya dikaitkan dengan gunung berapi bawah laut berukuran kecil, bukan raksasa daratan seperti Etna.
1. Gunung Etan punya mekanisme unik
Studi terbaru menunjukkan bahwa Mount Etna terbentuk dan beroperasi dengan cara yang berbeda dari kebanyakan gunung berapi lainnya. Para peneliti bahkan menyebutnya sebagai “tempat yang unik di Bumi” karena kemampuannya melepaskan magma dari zona kecepatan rendah di dalam mantel Bum, lalu memuntahkannya ke permukaan secara relatif efisien.
Temuan ini penting tidak hanya untuk memahami Etna, tetapi juga bagi ilmu vulkanologi secara umum, terutama dalam menilai potensi bahaya yang ditimbulkan. Lokasi gunung ini yang dekat dengan kota besar seperti Catania dan Messina membuat pemahaman tentang perilakunya menjadi sangat krusial bagi keselamatan ratusan ribu penduduk di sekitarnya.
Secara umum, gunung berapi terbentuk ketika material mantel mencair menjadi magma dan naik ke permukaan melalui kerak Bumi. Salah satu mekanisme paling umum terjadi ketika dua lempeng tektonik saling menjauh, yang memungkinkan material mantel naik, mencair, dan kemudian membentuk kerak samudra baru saat lava mendingin. Namun, Etna tampaknya tidak sepenuhnya mengikuti pola ini.
2. Tidak masuk kategori vulkanik mana pun

Secara umum, gunung berapi terbentuk melalui tiga mekanisme utama. Selain batas lempeng yang saling menjauh, gunung berapi juga bisa muncul di zona subduksi, ketika satu lempeng tektonik menyusup ke bawah lempeng lain, membawa air ke dalam mantel dan menurunkan titik lelehnya, sehingga memicu letusan yang kerap bersifat eksplosif.
Alternatif lainnya adalah hotspot, yaitu titik panas di dalam mantel Bumi yang mendorong material superpanas naik ke permukaan, seperti yang membentuk kepulauan Hawaii.
Sebagian besar gunung berapi di Bumi bisa diklasifikasikan ke dalam salah satu mekanisme tersebut. Namun, Mount Etna justru menjadi pengecualian. Secara geologis, Etna adalah stratovolkano yang berada di atas zona subduksi, tetapi komposisi kimia lavanya justru lebih mirip dengan gunung berapi hotspot.
Anehnya, tidak ada bukti keberadaan hotspot di wilayah tersebut. Ini menjadikan Etna sebagai anomali yang selama ini membingungkan para ilmuwan.
3. Punya sumber magma “tersembunyi”
Untuk memahami keanehan ini, para peneliti mengumpulkan sampel lava dari Mount Etna dan merekonstruksi profil kimianya selama sekitar 500.000 tahun terakhir. Hasilnya menunjukkan bahwa komposisi lava Etna ternyata sangat konsisten sepanjang waktu, bahkan ketika terjadi perubahan tektonik yang biasanya memengaruhi karakter gunung berapi lain.
Temuan ini menunjukkan bahwa Etna tidak bekerja seperti gunung berapi pada umumnya, yang biasanya memuntahkan magma baru hasil proses pembentukan terkini. Sebaliknya, Etna tampaknya mendapat suplai magma secara perlahan dari cadangan lama yang terperangkap di kedalaman sekitar 80 kilometer, tepatnya di antara mantel atas dan dasar lempeng tektonik. Mekanisme unik inilah yang diduga menjadi kunci aktivitasnya yang terus berlanjut hingga kini.
Temuan ini membantu menjelaskan mengapa Mount Etna tetap aktif dan “aneh” dibanding gunung berapi lain di Bumi. Lebih dari itu, pemahaman baru tentang mekanisme magmanya bisa menjadi kunci penting untuk memprediksi aktivitas di masa depan sekaligus meningkatkan mitigasi risiko bagi wilayah di sekitarnya.







![[QUIZ] Dari Jenis Satelit Alam yang Kamu Pilih, Ini Peranmu dalam Lingkungan Sosial](https://image.idntimes.com/post/20220124/416280main-image-1560-full-cfccf5fdd2b072d1854823e184b7d3ba-438b5effbc0b8fea3b8e2f65ff572025.jpg)










