3 Fakta tentang Kereta Khusus Perempuan di Transportasi Publik Dunia

Di Indonesia, kereta khusus perempuan sudah menjadi bagian dari layanan transportasi publik, terutama KRL. Kebijakan ini dibuat untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi penumpang perempuan saat bepergian. Namun, konsep serupa ternyata tidak hanya ada di Indonesia.
Sejumlah negara lain juga menerapkan kebijakan yang sama dengan pendekatan yang berbeda-beda. Ada yang memberlakukan kereta perempuan hanya pada jam tertentu, ada pula yang menerapkannya secara lebih luas. Perbedaan ini menunjukkan bahwa setiap negara menyesuaikan kebijakan dengan kondisi sosial dan kebutuhan penumpangnya. Lalu, apa saja fakta menarik tentang kereta perempuan di transportasi publik dunia? Yuk, kupas tuntas jawabannya di bawah ini!
1. Jepang jadi pelopor kereta khusus perempuan pada jam sibuk

Jepang dikenal sebagai salah satu negara yang lebih dulu menerapkan kereta khusus perempuan di transportasi publik. Kebijakan ini muncul sebagai respons terhadap tingginya kepadatan penumpang, terutama pada jam sibuk. Pasalnya, pada waktu tersebut, risiko pelecehan di dalam kereta meningkat sehingga menjadi perhatian serius.
Oleh karena itu, operator kereta mulai mencari solusi untuk meningkatkan rasa aman penumpang perempuan. Dilansir web Guinness World Records, kereta khusus perempuan pada jam sibuk mulai diperkenalkan pada 2002 oleh JR West di Osaka. Kebijakan ini kemudian diikuti oleh banyak operator kereta lain di berbagai kota di Jepang.
Mengutip dari web Japan Experience, kereta khusus perempuan biasanya hanya dioperasikan pada jam-jam tertentu, seperti pagi dan sore hari. Penumpang bisa dengan mudah mengenali kereta ini melalui tanda khusus di peron maupun di dalam kereta. Dengan sistem ini, perempuan memiliki pilihan ruang yang lebih aman saat kondisi kereta sangat padat.
2. Tidak semua negara menerapkan kereta khusus perempuan sepanjang waktu

Tidak semua negara menerapkan kereta khusus perempuan sepanjang waktu. Dalam banyak kasus, kebijakan ini hanya berlaku pada jam-jam tertentu ketika kereta sedang sangat padat. Dilansir dari web Metropolis Japan, kereta khusus perempuan di Jepang umumnya hanya dioperasikan pada jam sibuk, terutama pada pagi hari saat hari kerja.
Pendekatan ini berbeda dengan di Indonesia. Kereta khusus perempuan tersedia secara permanen dalam rangkaian KRL. Sementara itu, kereta khusus perempuan di India juga tersedia secara khusus dan menjadi bagian dari sistem layanan di banyak kereta komuter. Perbedaan ini menunjukkan bahwa setiap negara memiliki kebijakan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi penumpang masing-masing.
3. Efektivitasnya masih diperdebatkan secara global

Meski banyak diterapkan, efektivitas kereta khusus perempuan masih menjadi perdebatan di sejumlah negara. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebijakan ini memang dapat membantu meningkatkan rasa aman penumpang perempuan dalam kondisi tertentu. Namun, tidak semua pihak menilai solusi ini cukup efektif dalam jangka panjang.
Berdasarkan studi yang terbit dalam jurnal International Journal of Comparative and Applied Criminal Justice pada 2020, kereta khusus perempuan dinilai membantu, tetapi belum tentu lebih efektif dibandingkan peningkatan pengawasan atau kebijakan lain. Temuan ini diperkuat oleh penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Women’s Health pada 2025 yang menyebutkan bahwa kebijakan tersebut belum sepenuhnya menyentuh akar masalah, seperti perilaku pelaku dan sistem keamanan yang belum optimal.
Itu sebabnya, kereta khusus perempuan dipandang sebagai salah satu solusi. Akan tetapi, langkah tersebut belum cukup untuk mengatasi masalah secara menyeluruh. Diperlukan dukungan kebijakan lain agar keamanan transportasi publik benar-benar terjamin untuk perempuan dan kelompok rentan lainnya.
Di Indonesia, kereta khusus perempuan umumnya ditempatkan di bagian depan dan belakang rangkaian KRL. Penempatan ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan rasa aman sekaligus memudahkan pengawasan. Menurutmu, apakah langkah ini sudah cukup atau masih perlu solusi lain agar transportasi publik lebih aman?


















