Alasannya satu: ikan sapu-sapu di sungai Indonesia menjadi hewan invasif yang mengganggu keseimbangan ekosistem alami. Kalau kita cari fakta lebih lanjut, sebenarnya ikan sapu-sapu memang bukan spesies asli Indonesia. Ikan yang satu ini punya persebaran alami di Amerika Selatan. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, ikan sapu-sapu menyebar ke tempat-tempat baru dan mengganggu keseimbangan di sana.
Kenapa Ikan Sapu-sapu bisa Menginvasi banyak Sungai di Indonesia?

Ikan sapu-sapu berasal dari Amerika Selatan dan masuk ke Indonesia lewat pelepasan dari akuarium.
Populasi mereka meledak karena sangat adaptif, rakus, dan hampir tidak punya predator alami.
Kehadiran mereka merusak ekosistem dengan mengalahkan ikan lokal, merusak tepi sungai, dan meningkatkan risiko banjir.
Belakangan ini, kita mulai sering mendengar gerakan menangkap ikan sapu-sapu (famili Loricariidae atau Hypostomus plecostomus) di banyak sungai besar di Indonesia, khususnya Jakarta. Biasanya, praktik menjaga lingkungan itu lebih banyak berfokus pada pengembalian populasi atau rupa alam ke kondisi semula. Namun, untuk urusan menjaga lingkungan sungai di Indonesia, eliminasi spesies ikan seperti ikan sapu-sapu belakangan dianggap jadi salah satu langkah yang penting.
Nah, pada kesempatan kali ini, yuk, kita bahas soal asal-usul ikan sapu-sapu di Indonesia. Pembahasan akan meliputi awal mula masuknya ikan ini ke negara kita, kenapa populasi mereka bisa meledak, dan apa saja dampak yang ditimbulkan atas kehadiran spesies asing ini. Penasaran dengan jawaban lengkapnya, kan? Yuk, langsung gulir layarmu ke bawah!
1. Dari mana asal ikan sapu-sapu?

Pada awal sudah disebutkan kalau ikan sapu-sapu berasal dari Amerika Selatan. Namun, lebih spesifik lagi, sebenarnya berasal dari negara mana saja dan seperti apa habitat alami mereka? Animalia melansir kalau negara yang jadi rumah asli bagi ikan sapu-sapu terdiri atas Brasil, Argentina, Venezuela, Suriname, Peru, Paraguai, Kolombia, Kosta Rika, Panama, dan beberapa negara Amerika Tengah serta Amerika Selatan lain.
Di habitat alami mereka, aliran sungai dan danau, ikan sapu-sapu tinggal di dasar dengan suhu air antara 22—30 derajat celsius. Dengan mulut yang berbentuk seperti sebuah penyedot debu, ikan yang satu ini mengonsumsi berbagai jenis material organik di dasar sungai atau danau. Karena hampir bisa memakan material organik apa saja, ikan sapu-sapu pun jadi populer sebagai ikan pembersih akuarium dan mulai tersebar ke seluruh dunia. Sayangnya, sesuatu yang dikira sebagai manfaat itu justru membawa bencana ekosistem di tempat-tempat ikan sapu-sapu diperkenalkan, salah satunya di sungai-sungai Indonesia. Lebih spesifik lagi, bagaimana cara ikan sapu-sapu bisa sampai masuk ke aliran sungai di Indonesia?
2. Bagaimana ikan sapu-sapu bisa masuk ke Indonesia?

Cara ikan sapu-sapu masuk ke perairan Indonesia sebenarnya cukup identik dengan beberapa negara lain. Ikan ini datang ketika ada pehobi akuarium membutuhkan ikan hias yang bertugas sebagai petugas bersih-bersih kotoran dan lumut alami di dalam tangki. Namun, ketika ukuran ikan sapu-sapu jadi lebih besar ketimbang tangki yang ditinggali mereka, ada saja oknum pehobi tak bertanggung jawab yang justru melepaskan ikan ini ke aliran sungai di dekat rumah. Karena kemampuan adaptasi dan reproduksi yang sangat mengesankan, muncul populasi baru ikan sapu-sapu di wilayah Indonesia.
Selain dilepas oleh oknum tak bertanggung jawab, awal mula kemunculan ikan sapu-sapu di sungai Indonesia juga ditengarai oleh unsur kesengajaan. Sebab, bentuk tubuh yang unik dan kemampuan mengonsumsi apa saja sempat dinilai sebagai poin positif jika ikan sapu-sapu sengaja dilepas ke alam. Namun, perkiraan itu meleset karena justru dengan melepaskan ikan sapu-sapu ke ekosistem sungai di Indonesia, kita seperti sedang menyalakan bom waktu.
Dewi Elfidasari dalam buku Yuk Mengenal Ikan Sapu-sapu Sungai Ciliwung menyebut kalau catatan kemunculan ikan sapu-sapu di sungai Indonesia, khususnya Sungai Ciliwung, bisa dilacak sejak 1900-an. Berdasarkan studi pustaka yang dilakukan Dewi Elfidasari, jejak keberadaan ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung setidaknya sudah ditemukan di antara 187 spesies ikan lain yang teridentifikasi pada tahun tersebut.
Pada survei lanjutan yang dilakukan pada 2005, hanya tersisa 20 spesies ikan yang ditemukan di sepanjang Sungai Ciliwung. Seramnya, lima spesies di antaranya merupakan spesies asing, termasuk ikan sapu-sapu. Angka ini menunjukkan pergeseran yang sangat mengerikan karena banyak spesies ikan lokal di sungai Indonesia yang justru tergeser dan musnah. Sementara, spesies asing, seperti ikan sapu-sapu, terus bertahan.
3. Apa tanda-tanda keberadaan ikan sapu-sapu di ekosistem sungai?

Dalam buku milik Dewi Elfidasari, disebutkan kalau identifikasi keberadaan ikan sapu-sapu di sungai merupakan bekas lubang ataupun sarang ikan yang sudah digali, berbentuk triangular ataupun oval. Lubang atau sarang itu paling banyak terlihat di bantaran sungai dan bisa dilihat lebih jelas lagi ketika air sedang surut. Sarang ikan sapu-sapu umumnya punya diameter 21 cm dengan kedalaman lubang sampai 1 meter.
Syarat utama agar ikan sapu-sapu bisa bertahan hidup itu sebenarnya hanya dua, yakni ada air dan makanan. Ya, percaya gak percaya, ikan yang satu ini bisa bertahan di perairan dengan kondisi sangat ekstrem, semisal tercemar logam berat, material limbah, dan kadar oksigen yang rendah. Soal makanan pun—seperti yang sudah dijelaskan—mereka tak rewel. Selama ada material organik yang cukup dengan ukuran mulut, ikan ini pasti akan menyedotnya.
4. Apa dampak kehadiran ikan sapu-sapu di sungai Indonesia?

Kalau hanya bisa bertahan di lingkungan ekstrem tanpa merugikan ekosistem, pastinya kehadiran ikan sapu-sapu di banyak sungai Indonesia tidak akan membuat kita pusing. Masalahnya, ikan yang satu ini turut memengaruhi populasi hewan akuatik lain yang ada di sekitar. Ditambah lagi, kemampuan reproduksi mereka sangat mengesankan. Rata-rata usia yang mampu mereka capai juga tak kalah hebat.
Dilansir Universitas Airlangga, ikan sapu-sapu adalah kompetitor langsung atas makanan bagi ikan atau makhluk air lain di sungai Indonesia. Tak hanya itu, mereka punya kecenderungan untuk mengonsumsi telur dan larva spesies ikan lokal sehingga kemampuan reproduksi ikan lokal jadi sangat menurun. Selain itu, ikan sapu-sapu hampir tak punya predator alami di sekitar sungai Indonesia karena tubuh yang keras ataupun populasi predator alami yang kian menurun.
Soal reproduksi, ikan sapu-sapu mampu menghasilkan 500—3 ribu butir telur per satu siklus reproduksi. Adapun, angka ini terbilang sangat besar. Di Sungai Ciliwung saja, data observasi yang dipaparkan Universitas Airlangga menunjukkan kalau populasi ikan sapu-sapu sudah melonjak sampai 24 kali lipat hanya dalam kurun waktu 15 tahun. Tak hanya dari kedua sisi tersebut, masalah kehadiran ikan sapu-sapu juga hadir dari sisi kerusakan muka sungai di Indonesia.
Ingat dengan sarang ikan ini yang berupa lubang di dekat tepian sungai? Nah, semakin banyaknya ikan sapu-sapu di sungai Indonesia, berarti semakin banyak lubang horizontal di dinding bantaran sungai. Mengingat lubang itu cukup dalam, potensi terjadinya erosi lateral dan pendangkalan sungai pun jadi semakin terbuka. Pada akhirnya, potensi bencana banjir pun bisa saja terjadi di sungai yang sudah diinvasi ikan sapu-sapu dalam skala besar.
5. Apakah mungkin kita mengatasi masalah kehadiran ikan sapu-sapu di sungai Indonesia?

Dari sederet fakta yang ada di atas, rasanya semakin jelas kalau kehadiran ikan sapu-sapu, apalagi dalam jumlah besar, merupakan masalah serius yang wajib ditangani. Masalahnya, memberantas ikan yang satu ini luar biasa sulit. Bukan cuma soal kemampuan adaptasi dan jumlah yang besar, melainkan juga soal bagaimana cara kita “memusnahkan” mereka pun masih sukar dilakukan.
Kalau ingin dimanfaatkan sebagai ikan konsumsi, kandungan logam berat pada tubuh ikan sapu-sapu akibat hidup di sungai yang tercemar justru bisa membahayakan orang yang mengonsumsi. Kalau dijadikan pupuk tanaman pangan, logam berat tersebut tetap bisa masuk ke tubuh manusia. Karena itu, Dr. Charles PH Simanjuntak, pakar ikan dan konservasi ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, punya tiga strategi yang bisa kita lakukan, yakni pencegahan, penangkapan, dan kontrol biologis.
Strategi pertama berkaitan dengan memperketat regulasi dan pengawasan pada toko ataupun pehobi ikan hias agar tidak sembarangan membuang ikan sapu-sapu ke ekosistem alami di Indonesia, baik secara sengaja ataupun tidak. Strategi kedua ialah aksi langsung. Seluruh elemen masyarakat bahu-membahu menangkap ikan sapu-sapu di satu titik sebelum akhirnya dimusnahkan agar populasi tidak meledak.
Strategi terakhir ialah “melibatkan” berbagai predator alami aliran sungai di Indonesia. Tujuannya agar mereka bisa mengontrol populasi ikan sapu-sapu. Artinya, dengan menjaga berbagai spesies predator endemik sampai populasinya stabil, secara tak langsung kita turut berkontribusi untuk mengontrol spesies invasif, seperti ikan sapu-sapu.
Perjalanan untuk mengatasi kehadiran ikan sapu-sapu di sungai Indonesia memang masih panjang, bahkan belum begitu terlihat muaranya akan seperti apa. Sebab, sekalipun kita bisa menyingkirkan semua ikan sapu-sapu di satu sisi sungai, bukan tak mungkin mereka kembali ke tempat yang sama karena terbawa arus sungai dari sisi lain. Namun, hal ini bukan berarti kita harus berdiam diri.
Dengan semakin masifnya kepedulian terhadap ekosistem lokal dan gerakan untuk memberantas ikan sapu-sapu, diharapkan hal tersebut bisa jadi batu fondasi awal bagi masyarakat Indonesia untuk lebih cinta pada lingkungan. Dari kehadiran ikan sapu-sapu di Indonesia, kita harus belajar kalau sudah sepatutnya kita tidak pernah melepaskan spesies hewan asing ke wilayah alami negara kita. Semoga saja kita segera menemukan solusi konkret agar ledakan populasi ikan sapu-sapu di perairan Indonesia bisa diatasi sampai ke akarnya, ya!




![[QUIZ] Dari Jenis Satelit Alam yang Kamu Pilih, Ini Peranmu dalam Lingkungan Sosial](https://image.idntimes.com/post/20220124/416280main-image-1560-full-cfccf5fdd2b072d1854823e184b7d3ba-438b5effbc0b8fea3b8e2f65ff572025.jpg)













