Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Mamalia Endemik Kalimantan yang Paling Terancam karena Karhutla
Bekantan sedang bersantai. (commons.wikimedia.org/7layersoflands)
  • Karhutla mengancam habitat dan kelangsungan hidup berbagai mamalia endemik Kalimantan.

  • Orang utan kalimantan dan gajah kalimantan kehilangan habitat serta sumber makanan akibat kebakaran.

  • Bekantan dan kucing merah juga terancam karena kerusakan habitat serta konflik dengan manusia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Fenomena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kalimantan sejak pertengahan 2026 mengisahkan banyak cerita pilu, duka, dan rumit. Dampaknya mulai dari makin luasnya wilayah yang mengalami karhutla, dampak saat dan setelah karhutla terhadap aktivitas manusia, sampai berbagai analisis ahli maupun media yang coba memecahkan penyebab karhutla di Kalimantan. Fenomena yang satu ini jelas tak hanya merugikan manusia, tetapi juga berbagai jenis makhluk hidup yang tinggal di sana, termasuk hewan.

Tak terhitung berapa banyak hewan yang melarikan diri dari habitat alami maupun terpanggang hidup-hidup akibat terjebak kebakaran yang semakin meluas. Mirisnya lagi, ada pula berbagai mamalia endemik Kalimantan yang turut terdampak, padahal keberadaan mereka jelas sangat penting bagi ekosistem maupun citra Pulau Kalimantan sebagai salah satu paru-paru dunia. Malahan, mayoritas hewan endemik itu sebenarnya sudah masuk dalam kategori hewan terancam punah karena populasi mereka terus menipis dari tahun ke tahun.

Siapa saja mamalia endemik yang dimaksud? Lalu, seperti apa dampak dari karhutla yang sedang terjadi terhadap keberlanjutan hidup mereka ke depannya? Untuk mengetahui jawaban lengkapnya, yuk, langsung gulirkan layarmu ke bawah!

1. Orang utan kalimantan

Seekor orang utan dewasa sedang beristirahat. (commons.wikimedia.org/Joeavison1)

Bukan Kalimantan namanya kalau tidak menempatkan orang utan kalimantan (Pongo pygmaeus). Tak hanya jadi ikon pulau tersebut, faktanya spesies kera besar ini sudah seperti citra hewan endemik Indonesia di mata dunia. Kalau dibandingkan dengan orang utan sumatra (Pongo abelii), orang utan kalimantan punya tubuh yang lebih besar, warna rambut yang lebih gelap, dan wajah yang lebih membulat karena bantalan pipi lebih melebar ke samping.

Sebenarnya, populasi orang utan kalimantan lebih besar ketimbang orang utan sumatra, tepatnya sekitar 50–100 ribu individu. Namun, mereka tetap masuk dalam kategori hewan dengan populasi yang kritis (Critically Endangered) menurut IUCN Red List. Dilansir World Wildlife Fund, dalam kurun waktu 60 tahun ke belakang, populasi orang utan kalimantan sudah menyusut hingga 50 persen. Alasannya terbilang beragam, mulai dari perburuan liar sampai yang paling parah berkurangnya habitat alami bagi si kera besar.

Bayangkan saja, luas wilayah yang bisa menjadi rumah orang utan di Pulau Kalimantan itu sudah menyusut lebih dari 55 persen hanya dalam kurun waktu 20 tahun ke belakang! Akibatnya, orang utan kalimantan jadi sulit menemukan rumah yang aman dan tak jarang terlibat konflik dengan manusia. Dalam konteks karhutla seperti yang sedang terjadi sekarang, sudah banyak kasus orang utan yang menghindari hutan yang terbakar hingga masuk ke pemukiman warga demi keamanan.

Padahal, peran orang utan kalimantan di hutan-hutan Pulau Kalimantan itu tidak main-main. Mereka berkontribusi untuk menyebarkan hingga 500 spesies benih tanaman buah ke berbagai tempat ketika makan. Alhasil, variasi dan kesehatan hutan lebih terjaga yang berujung pada keseimbangan ekosistem bagi seluruh makhluk hidup yang ada di dalamnya.

2. Gajah kalimantan

Kawanan gajah kalimantan sedang berkeliling. (commons.wikimedia.org/Denis Luyten)

Kita mungkin lebih akrab dengan gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus), subspesies gajah asia (Elephas maximus) yang ada di Pulau Sumatra. Padahal, Pulau Kalimantan juga punya subspesies gajah asia lain bernama gajah kalimantan (Elephas maximus borneensis). Mereka terkenal sebagai subspesies gajah asia terkecil di dunia dengan tinggi 1,5–2,5 meter, panjang tubuh 3,1–3,8 meter, dan bobot 2–2,5 ton saja.

Meski jadi subspesies gajah asia terkecil, gajah kalimantan tetap menyandang gelar sebagai mamalia terbesar di Pulau Kalimantan. Sebagai penghuni tetap hutan hujan tropis yang ada di sana, fenomena karhutla yang sedang terjadi di sebagian besar wilayah Kalimantan di Indonesia jelas punya dampak yang sangat signifikan bagi raksasa ini. Apalagi, dua wilayah persebaran utama mereka, yakni Nunukan dan Sabah, saat ini sama-sama sedang terdampak asap sisa-sisa karhutla.

Gajah-gajah jadi kehilangan ruang untuk bergerak, kekurangan sumber pangan akibat vegetasi yang terbakar, sampai kemungkinan cedera fisik karena api ataupun asap dari karhutla. Padahal, dilansir International Fund for Animal Welfare, kehadiran gajah kalimantan di hutan-hutan Kalimantan sangat penting untuk menjaga keseimbangan tanaman di sana. Sebab, seiring kawanan raksasa ini bergerak menjelajahi hutan, ada biji-bijian tanaman yang tersebar dan hewan kecil yang punya akses jalan karena pergerakan gajah membuka jalur hutan alami.

Sayangnya, populasi gajah kalimantan sendiri sedang tidak baik-baik saja. IUCN Red List memberi status subspesies gajah asia ini sebagai hewan terancam punah (Endangered) sejak 1986. Populasi mereka di alam diperkirakan hanya tersisa 1.000–1.500 individu. Kalau karhutla dan pembukaan lahan secara ilegal terus terjadi secara terus-menerus, bukan tak mungkin raksasa dari Kalimantan ini akan punah seutuhnya dalam waktu yang singkat.

3. Bekantan

Dua bekantan jantan muda sedang bersantai. (commons.wikimedia.org/Bernard DUPONT)

Kalau orang utan jadi spesies kera besar khas Kalimantan, untuk keluarga monyet yang paling khas layak disandang oleh bekantan (Nasalis larvatus). Mereka punya ukuran yang relatif lebih besar dibanding kebanyakan spesies monyet. Dilansir New Primate Conservancy, rata-rata individu tumbuh sepanjang 61–76 cm, ditambah dengan ekor ramping sepanjang 55–67 cm, dan bobot antara 10–22 kg. Ciri khas bekantan tentu terletak pada sebuah hidung besar dan memanjang yang mampu tumbuh hingga 10 cm. Hidung besar itu hanya dimiliki jantan dan dimanfaatkan untuk menarik perhatian betina ketika musim kawin tiba.

Spesies monyet ini sudah dikenal lama sebagai penghuni tetap hutan hujan tropis, hutan bakau, dan rawa gambut di seluruh wilayah Pulau Kalimantan. Artinya, pergerakan bekantan sangat bergantung dengan vegetasi yang rimbun di hutan. Ketika karhutla terjadi dalam skala masif, bekantan jelas kehilangan ruang gerak yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Ancaman kekurangan makanan pun jadi masalah serius yang pasti terjadi ketika habitat alami mereka habis dilalap si jago merah.

Saking parahnya karhutla yang terjadi belakangan ini, kita sudah melihat banyak spesies monyet, termasuk bekantan, yang masuk ke lingkungan manusia demi mencari perlindungan. Selain merugikan mereka, masyarakat yang daerahnya jadi “pengungsian” bagi monyet-monyet ini jelas turut merasa tak nyaman dan aman. Kalau sudah demikian, ancaman bertambah lagi bagi berbagai jenis monyet dan bekantan selaku spesies endemik Kalimantan: konflik dengan manusia.

Kondisi ini jelas tidak bisa dibiarkan. Sebab, bekantan sudah masuk dalam kategori hewan terancam punah (Endangered) dari IUCN Red List sejak 2015. Kerusakan lahan yang jadi faktor penurunan tajam populasi mereka paling besar disebabkan oleh karhutla yang terus berulang tanpa ada konsekuensi yang berarti bagi pelaku utama. Jika terus dibiarkan, tak hanya bekantan, tapi juga banyak spesies primata lain di Pulau Kalimantan yang akan punah akibat kehilangan habitat alami.

4. Kucing merah

satu dari sedikit foto kucing merah yang sangat misterius (commons.wikimedia.org/Jim Sanderson)

Kalau ada daftar spesies kucing liar paling misterius di dunia, kucing merah (Pardofelis badia atau Catopuma badia) pasti masuk di dalamnya. Bagaimana tidak? Bahkan, hingga zaman yang sudah modern dan berbagai peralatan canggih sekalipun, kita masih tidak punya banyak informasi soal spesies kucing liar endemik Pulau Kalimantan ini.

Saking misteriusnya, kita baru berhasil memfoto individu hidup pertama kali pada 1998. Individu yang tertangkap hidup-hidup pun sangat jarang. Kalaupun ada, kebanyakan dari mereka tak mampu bertahan hidup lama ataupun segera dilepas lagi ke alam sehingga tidak sempat untuk dipelajari lebih lanjut.

Yang jelas, kucing merah adalah spesies hewan penghuni dataran tinggi (antara 800–1.400 mdpl) di bagian tengah dan utara Kalimantan dengan vegetasi yang lebat, dilansir laman Wild Cats World. Ukuran mereka pun kurang lebih sama atau sedikit lebih besar dengan kucing domestik. Dalam konteks karhutla yang sedang terjadi di Pulau Kalimantan, sang predator misterius ini tak luput dari dampak negatif.

Akibat dari fenomena destruktif itu, ada beberapa individu yang ditemukan mati terbakar oleh api hingga anak kucing merah yang terpisah dari induk. Ini menunjukkan betapa besarnya karhutla sebagai bencana ekologis sampai-sampai memengaruhi habitat kucing merah yang sebenarnya sangat sulit diakses manusia. Padahal, spesies kucing liar ini sudah masuk dalam kategori hewan terancam punah (Endangered) dengan populasi tak lebih dari 2.200 individu saja, mengutip IUCN Red List.

Fenomena karhutla yang masih saja terjadi di Kalimantan ini sejatinya tak hanya mengancam keempat spesies mamalia endemik di atas. Seluruh keanekaragaman hayati unik di pulau terbesar ketiga di dunia itu turut mengalami ancaman yang sama, entah secara langsung ataupun tak langsung. Kondisi tersebut jelas tidak dapat dibiarkan. Pemadaman api yang masih menyala tetap jadi prioritas, tapi hukuman berat bagi para pelaku utama yang tak bertanggung jawab membakar hutan secara sengaja juga tak boleh luput dari perhatian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article