Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

7 Fakta Unik Burung Seriama Kaki Merah, Cakarnya Mirip Dinosaurus!

7 Fakta Unik Burung Seriama Kaki Merah, Cakarnya Mirip Dinosaurus!
potret burung seriama kaki merah (pexels.com/Lucas Pezeta)
  • Seriama kaki merah adalah burung darat Amerika Selatan bertubuh tinggi, berkaki merah, dan berjambul; cakar sabit di jari keduanya mirip deinonychosaur akibat evolusi konvergen, bukan dinosaurus hidup.
  • Sebagai predator oportunistis, seriama berburu artropoda hingga reptil, tikus, dan ular, termasuk ular koral; kaki panjang, paruh, serta cakar membantunya mengejar dan mengendalikan mangsa.
  • Burung ini lebih mengandalkan lari daripada terbang, bersifat teritorial dengan vokalisasi keras, serta hidup soliter, berpasangan, atau dalam keluarga dengan kedua induk merawat anak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ada burung yang tampak seperti hasil perpaduan antara kalkun, burung pemangsa, dan dinosaurus kecil. Salah satunya adalah seriama kaki merah (Cariama cristata), burung darat dari Amerika Selatan yang memiliki tubuh tinggi, leher panjang, kaki merah, jambul khas, serta sepasang cakar melengkung pada jari kakinya. Sekilas, penampilannya memang membuat siapa pun mudah membayangkan dunia ketika dinosaurus masih mendominasi daratan. Namun, kemiripan tersebut bukan berarti seriama merupakan dinosaurus yang selamat dari kepunahan. Secara taksonomi, spesies ini termasuk famili Cariamidae dalam ordo Cariamiformes. Salah satu kelompok burung modern yang memiliki sejarah evolusi tersendiri. Pusat Nasional Informasi Bioteknologi (NCBI) bahkan menempatkan Cariamidae dalam garis keturunan burung modern yang berada di dalam kelompok teropoda secara evolusioner, sebagaimana seluruh burung modern merupakan keturunan dinosaurus teropoda.

Keunikan seriama kaki merah tidak berhenti pada penampilannya. Burung yang banyak ditemukan di habitat terbuka Amerika Selatan, terutama kawasan Cerrado Brasil, ini merupakan predator darat yang dapat mengejar mangsa dengan berlari, menangkap reptil, memangsa ular, dan menggunakan kakinya untuk membantu menahan mangsa. Bahkan, sebuah penelitian khusus mengenai penggunaan cakarnya menemukan bahwa cakar pada jari kedua seriama memiliki bentuk melengkung, seperti sabit dan biasanya terangkat dari permukaan tanah. Bentuk tersebut secara kasatmata mengingatkan pada cakar deinonychosaur, kelompok dinosaurus teropoda yang telah punah. Para peneliti menekankan bahwa kemiripan itu kemungkinan merupakan hasil evolusi konvergen, bukan karena seriama mempertahankan cakar dinosaurus secara langsung. Penasaran, kan? Yuk, kita telusuri fakta unik dari burung kaki merah yang satu ini!

  1. 1. Cakarnya benar-benar mirip cakar dinosaurus

    ilustrasi burung seriama kaki merah yang cakarnya mirip dinosaurus
    ilustrasi burung seriama kaki merah yang cakarnya mirip dinosaurus (commons.wikimedia.org/Rhalah)

    Inilah alasan paling kuat mengapa seriama kaki merah begitu menarik bagi para penggemar dinosaurus. Pada jari kedua kakinya terdapat cakar besar yang melengkung dan berbentuk seperti sabit. Cakar tersebut tidak selalu menapak ketika burung berjalan, sehingga tampak seperti “senjata” yang siap digunakan. Hasil penelitian tahun 2023 memaparkan bahwa cakar melengkung pada jari kedua ini memiliki kemiripan bentuk dengan cakar pada deinonychosaurs dan beberapa avialan basal yang telah punah.

    Yang lebih menarik, penelitian tersebut tidak sekadar membandingkan bentuk tulang atau cakar seriama dengan fosil dinosaurus. Para peneliti mengamati bagaimana seriama modern menggunakan cakarnya ketika berinteraksi dengan benda dan makanan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa jari kedua dapat digunakan untuk menjepit atau menahan objek, termasuk ketika burung berhadapan dengan mangsa. Dalam konteks ini, cakar bukan sekadar ornamen anatomi, melainkan bagian dari perangkat mekanis yang membantu seriama mengendalikan makanan. Observasi tersebut memberikan analogi perilaku yang menarik bagi paleontolog ketika mencoba memahami kemungkinan fungsi cakar pada teropoda tertentu.

    Namun, ada satu hal penting yang perlu diluruskan. Seriama bukan dinosaurus non-avian yang berhasil bertahan hingga sekarang. Kemiripan cakarnya lebih tepat dipahami sebagai contoh evolusi konvergen, yakni ketika struktur serupa muncul secara independen pada garis keturunan berbeda karena menghadapi kebutuhan ekologis atau fungsional yang mirip. Journal of the Arizona-Nevada Academy of Science secara eksplisit menyebut kemungkinan bahwa kemiripan cakar seriama dengan deinonychosaurs berkembang secara konvergen berkaitan dengan gaya hidup dan cara memperoleh makanan. Jadi, kalau ingin menyebutnya “mirip dinosaurus”, itu sahih secara morfologi—tetapi bukan berarti seriama adalah “dinosaurus hidup” dalam pengertian populer.

  2. 2. Predator darat yang bisa memangsa ular

    ilustrasi burung seriama kaki merah hendak memangsa ular
    ilustrasi burung seriama kaki merah hendak memangsa ular (commons.wikimedia.org/Bernard DUPONT)

    Seriama kaki merah merupakan predator oportunistis dengan menu yang cukup beragam. Penelitian menunjukkan bahwa makanan si burung berkaki merah ini mencakup berbagai artropoda, kadal, amfibi, ular, tikus, bahkan anak burung. Di sisi lain, burung ini juga dapat mengonsumsi bahan tumbuhan seperti biji-bijian dan buah. Birds of the World and Cornell Lab of Ornithology berhasil mencatat beragam artropoda dan vertebrata kecil sebagai bagian dari dietnya, termasuk beberapa jenis ular. Hal tersebut membuat seriama menjadi predator yang cukup penting di ekosistem padang rumput dan habitat terbuka tempatnya hidup.

    Kemampuannya memangsa ular menjadi semakin menarik karena seriama tidak hanya berhadapan dengan mangsa yang tidak berbahaya. Pada 2017, misalnya, pernah didokumentasikan kejadian Cariama cristata memangsa ular koral di Brasil. Catatan tersebut kemudian diterbitkan oleh Caldasia. Para peneliti menyebut observasi tersebut sebagai catatan pertama predasi Micrurus cf. Carvalhoi oleh seriama kaki merah, dan menekankan bahwa interaksi antara ular koral dan predatornya jarang terlihat secara langsung.

    Kemampuan tersebut membuat seriama memiliki citra seperti “raptor darat”, meskipun secara taksonomi ia bukan elang atau burung pemangsa dalam kelompok Falconiformes. Tubuhnya lebih disesuaikan dengan kehidupan di permukaan tanah; kaki panjang, leher panjang, ekor panjang, dan sayap relatif pendek. Kombinasi itu memungkinkannya mencari mangsa sambil berjalan atau berlari, kemudian menggunakan paruh dan kaki untuk mengendalikan makanan.

  3. 3. Lebih jago berlari daripada terbang

    ilustrasi burung seriama kaki merah yang lebih jago berlari daripada terbang
    ilustrasi burung seriama kaki merah yang lebih jago berlari daripada terbang (commons.wikimedia.org/Giles Laurent)

    Kalau membayangkan burung, kita biasanya langsung memikirkan kemampuan terbang. Seriama justru memiliki hubungan yang agak berbeda dengan udara. Burung ini sangat bergantung pada kehidupan di tanah dan memiliki morfologi yang mendukung pergerakan terestrial. Kaki panjang dan kuat menjadi bagian penting dari cara hidupnya, sementara sayapnya relatif pendek. Karena itu, seriama dapat terlihat lebih seperti burung pelari daripada burung yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di udara. Catatan biologis mengenai spesies ini juga menggambarkannya sebagai burung besar dan teritorial yang hidup di habitat terbuka Amerika Selatan.

    Penelitian Revista Brasileira de Ornitologia memberikan gambaran yang menarik mengenai hal tersebut. Dalam 110 jam pengamatan terhadap 17 individu, para peneliti mencatat perilaku lokomosi sebagai salah satu kelompok perilaku utama. Ketika makanan berada di luar jangkauan, seriama dapat melakukan lari pendek untuk mendekatinya. Pola tersebut memperlihatkan bahwa kaki bukan sekadar alat untuk menopang tubuh yang tinggi, tetapi benar-benar menjadi bagian penting dari strategi burung ini dalam mengeksplorasi habitat dan mencari makanan.

    Kecenderungan hidup di tanah juga menjelaskan mengapa seriama sering terasa seperti “burung yang salah tempat” jika dibandingkan dengan gambaran umum burung. Ia memiliki bulu dan sayap seperti burung pada umumnya, tetapi perilakunya sangat terrestrial. Dalam penelitian mengenai perilaku seriama di lingkungan yang mengalami urbanisasi, lokomosi dan istirahat menjadi dua kategori perilaku yang paling banyak tercatat dari 273 observasi perilaku alami. Penelitian tersebut juga mencatat bahwa vokalisasi penuh seriama sangat keras dan terutama dilakukan pada pagi hari.

  4. 4. Suaranya keras dan bisa menjadi penanda wilayah

    ilustrasi burung seriama kaki merah yang punya suara keras
    ilustrasi burung seriama kaki merah yang punya suara keras (commons.wikimedia.org/Henrique Bitencourt)

    Kalau penampilannya membuat seriama terlihat seperti dinosaurus kecil, suaranya justru dapat membuat orang mengira ada hewan lain di sekitar. Seriama kaki merah terkenal dengan vokalisasinya yang keras dan khas. Redford dan Peters dalam penelitian klasik mengenai biologi dan nyanyian seriama yang diterbitkan di Journal of Field Ornithology pada 1986 mendokumentasikan karakteristik vokalisasi spesies ini dan kaitannya dengan perilaku sosial serta teritorial.

    Penelitian lebih lanjut memperlihatkan bahwa vokalisasi seriama memiliki beberapa bentuk perilaku. Pada vokalisasi penuh, burung mengeluarkan rangkaian nada sambil menggerakkan leher secara vertikal, membuka paruh, mengarahkan kepala ke atas, dan mempertahankan kaki dalam posisi lurus. Vokalisasi tersebut dapat dilakukan sendirian maupun secara duet. Dalam interaksi agonistik, seriama juga dapat mengeluarkan suara tertentu dengan bulu leher mengembang dan paruh terbuka ketika menghadapi individu lain atau penyusup.

    Fungsi suara itu tidak semata-mata untuk “bernyanyi”. Penelitian mengenai perilaku teritorial seriama menunjukkan bahwa vokalisasi keras berperan dalam mempertahankan wilayah. Sebuah penelitian yang diterbitkan Ornitologia Neotropical pada 2018 mencatat bahwa C. cristata merupakan spesies teritorial dan vokalisasi kerasnya digunakan dalam pertahanan teritori. Jadi, ketika seriama mengeluarkan suara yang terdengar sampai jauh, ia sebenarnya sedang melakukan komunikasi sosial yang penting—termasuk memberi tahu individu lain bahwa suatu wilayah sudah ditempati.

  5. 5. Punya jambul yang menjadi ciri khas

    ilustrasi burung seriama kaki merah yang punya jambul khas
    ilustrasi burung seriama kaki merah yang punya jambul khas (commons.wikimedia.org/Giles Laurent)

    Selain cakar, ada satu bagian tubuh seriama yang langsung membuatnya mudah dikenali; yaitu jambul di kepalanya. Burung ini memiliki struktur bulu panjang pada bagian depan kepala yang membentuk semacam jambul khas. Bersama kaki merah dan tubuh yang tinggi, jambul tersebut menjadi kombinasi visual yang sangat kuat sehingga seriama hampir tidak mungkin disamakan dengan burung darat Amerika Selatan lainnya. Bahkan, beberapa catatan penelitian mendeskripsikan Cariama cristata dengan ciri berupa jambul besar serta kaki dan paruh berwarna merah.

    Jambul itu juga menjadi bagian dari tampilan ekspresif seriama ketika berinteraksi dengan individu lain. Penelitian lanjutan menunjukkan bahwa perilaku sosial dan agonistik spesies ini dapat melibatkan perubahan postur tubuh, posisi leher, pembukaan paruh, dan perubahan kondisi bulu. Dengan kata lain, tubuh seriama bukan hanya alat bergerak; perubahan postur dan penampilan fisiknya juga menjadi bagian dari bahasa tubuh yang digunakan dalam kehidupan sosial.

    Keberadaan jambul tersebut menjadi semakin menarik jika dipadukan dengan gaya hidup seriama. Burung ini berjalan di antara rerumputan, berlari mengejar atau mendekati mangsa, berdiri dengan tubuh tinggi, kemudian mengeluarkan suara keras sambil mengangkat leher. Siluetnya pun menjadi sangat khas. Kepala berjambul, leher panjang, tubuh kecokelatan, ekor panjang, dan kaki merah. Tidak mengherankan apabila seriama sering dianggap sebagai salah satu burung modern yang memiliki penampilan paling “prasejarah”, meskipun istilah tersebut lebih merupakan gambaran visual daripada klasifikasi ilmiah.

  6. 6. Kehidupan keluarganya cukup kompleks

    ilustrasi burung seriama kaki merah dengan kehidupan keluarganya
    ilustrasi burung seriama kaki merah dengan kehidupan keluarganya (commons.wikimedia.org/Manfred Werner Tsui)

    Di balik penampilan garangnya, seriama kaki merah ternyata mempunyai kehidupan sosial dan reproduksi yang cukup menarik. Burung ini dapat ditemukan sebagai individu soliter, pasangan, atau kelompok keluarga. Studi mengenai teritorialitas juga menyebutkan bahwa kelompok keluarga dapat terdiri atas pasangan yang telah kawin bersama hingga dua anak.

    Dalam proses reproduksi, kedua induk terlibat dalam berbagai aktivitas yang berhubungan dengan sarang dan anak. Penelitian lanjutan berhasil mendokumentasikan perilaku seperti pembangunan sarang, kopulasi, pengeraman telur, perawatan anak, dan pemberian makanan kepada anak. Material sarang dikumpulkan dari lingkungan sekitar dan dibawa dengan paruh, terkadang melalui penerbangan pendek. Pengamatan tersebut memperlihatkan bahwa meskipun seriama merupakan burung yang sangat teresterial, ia tetap menggunakan kemampuan terbangnya secara fungsional ketika aktivitas tertentu membutuhkannya.

    Data reproduksi yang lebih lama juga memberikan gambaran mengenai perkembangan anak. Dalam pengamatan terhadap seriama di Bahia, Brasil, tercatat sarang yang dibangun dari ranting kering dengan bagian dasar dilapisi material seperti tanah liat dan daun kering. Dalam pengamatan tersebut terdapat dua telur, dengan masa pengeraman sekitar 29 hari, sedangkan anak yang bertahan berada di sarang sekitar 30 hari. Temuan ini tentu merupakan pengamatan dari lokasi dan kondisi tertentu, sehingga tidak semestinya dianggap sebagai angka mutlak untuk seluruh populasi, tetapi tetap menjadi salah satu referensi penting mengenai biologi reproduksi spesies tersebut.

  7. 7. Bukan dinosaurus, tetapi mengingatkan kita pada mereka

    ilustrasi burung seriama kaki merah yang mengingatkan pada dinosaurus
    ilustrasi burung seriama kaki merah yang mengingatkan pada dinosaurus (commons.wikimedia.org/Bernard DUPONT)

    Inilah fakta yang mungkin paling menarik sekaligus paling sering disalahpahami. Seriama kaki merah memang merupakan burung modern yang secara evolusioner termasuk dalam garis keturunan teropoda, karena semua burung modern berasal dari dinosaurus teropoda. Namun, Cariama cristata bukanlah dinosaurus non-avian yang “selamat” dari kepunahan 66 juta tahun lalu. NCBI menempatkan spesies ini dalam Aves, Neognathae, dan kelompok Australaves, kemudian Cariamiformes serta Cariamidae. Jadi, menyebut seriama sebagai burung modern yang masih memperlihatkan sejumlah karakter yang secara visual mengingatkan pada dinosaurus jauh lebih tepat daripada menyebutnya sebagai dinosaurus yang masih hidup.

    Kemiripan paling spektakuler memang terletak pada cakarnya. Journal of the Arizona-Nevada Academy of Science secara khusus menggunakan perilaku seriama untuk membantu membahas kemungkinan penggunaan cakar pada deinonychosaurs. Seriama diketahui menggunakan jari kedua dengan cakar melengkung untuk membantu menjepit atau menahan objek. Para peneliti berpendapat bahwa kesamaan morfologi dan penggunaan tersebut dapat menjadi analogi perilaku yang berguna dalam paleontologi, meskipun harus hati-hati karena anatomi dan sejarah evolusi kedua kelompok tetap berbeda.

    Di titik inilah seriama menjadi jauh lebih menarik daripada sekadar “burung dengan cakar mirip dinosaurus”. Ia memperlihatkan bagaimana evolusi dapat menghasilkan solusi anatomi yang serupa pada hewan yang berbeda ketika mereka menghadapi tantangan ekologis tertentu. Cakar, kaki panjang, paruh kuat, tubuh tinggi, dan perilaku predatornya membentuk satu paket adaptasi yang sangat khas. Jadi, ketika kita melihat seriama berjalan di padang rumput Amerika Selatan dengan jambul terangkat dan cakar sabit menggantung di atas tanah, kita sebenarnya sedang melihat salah satu contoh hidup bagaimana sejarah evolusi burung masih menyisakan bentuk-bentuk yang terasa seperti berasal dari dunia prasejarah.

    Seriama kaki merah pada akhirnya mengingatkan kita bahwa dunia burung jauh lebih beragam daripada sekadar hewan bersayap yang terbang dari pohon ke pohon. Ada spesies yang justru menghabiskan hidupnya di tanah, mengejar mangsa dengan kaki panjang, menghadapi ular, menggunakan cakar sabit untuk mengendalikan makanan, dan berkomunikasi melalui suara keras yang menggema di habitat terbuka. Cariama cristata bahkan mampu membuat hubungan antara zoologi modern dan paleontologi terasa begitu dekat. Satu kakinya berada di dunia burung masa kini, sementara bentuk cakarnya membuat imajinasi kita melompat kembali kepada teropoda yang telah lama punah.

    Namun, justru karena kemiripan itu sangat menggoda, seriama perlu dilihat dengan kacamata ilmiah, bukan sekadar sensasi “dinosaurus hidup”. Ia adalah hasil evolusi modern dengan adaptasi yang berkembang untuk lingkungan dan cara hidupnya sendiri. Cakar mirip sabit tersebut merupakan contoh menarik tentang bagaimana struktur serupa dapat muncul pada garis evolusi berbeda, sementara perilaku berburu, vokalisasi, kehidupan keluarga, dan kemampuan berlari memperlihatkan betapa kompleksnya burung yang satu ini. Di tengah jutaan spesies burung yang menghuni planet kita, seriama kaki merah menjadi bukti bahwa kadang-kadang hewan yang paling “prasejarah” justru masih hidup di hadapan kita—bukan sebagai dinosaurus yang lolos dari kepunahan, melainkan sebagai burung modern yang membawa gema evolusi masa lalu dalam anatomi dan perilakunya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More