Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mitigasi Bencana Tak Cuma soal Teknologi, Pengetahuan Lokal Juga Perlu

Mitigasi Bencana Tak Cuma soal Teknologi, Pengetahuan Lokal Juga Perlu
Pameran gabungan science dan seni bertajuk Setanah, Tak Diam (IDN Times/Fatkhur Rozi)
  • Pameran “Setanah, Tak Diam” di Bandung menggabungkan riset bahaya geologi dengan pengetahuan yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat.
  • Pengalaman pengrajin dan tukang bangunan dipandang relevan untuk memahami material, konstruksi, lingkungan, serta cara manusia beradaptasi.
  • Pameran menampilkan sains, teknologi, seni, dan praktik masyarakat untuk membahas kesiapan menghadapi risiko bencana.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pembicaraan mengenai mitigasi bencana sering berpusat pada penelitian ilmiah, teknologi, dan berbagai pendekatan modern untuk memahami risiko yang ada. Pameran riset bertajuk "Setanah, Tak Diam" hasil kolaborasi antara British Geological Survey (BGS), BRIN, dan ITB mengenai kondisi dan potensi bahaya geologi di Bandung mencoba memperluas perspektif tersebut. Hasil penelitian yang tertuang dalam ruang seni tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat yang terbentuk dari kehidupan sehari-hari juga dapat menjadi bagian penting dalam memahami cara beradaptasi dengan lingkungan.

Pendekatan tersebut mempertemukan pengetahuan masa kini dengan pengetahuan yang telah berkembang di tengah masyarakat selama bertahun-tahun. Pengalaman pengrajin, tukang bangunan, dan berbagai kelompok masyarakat dapat menyimpan informasi yang relevan mengenai bagaimana manusia menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan tempat mereka tinggal.

Gagasan itu menjadi salah satu bagian dari pameran yang menggabungkan penelitian mengenai risiko bencana dari beberapa negara, termasuk Indonesia, Nepal, Jepang, dan Inggris. Fokusnya bukan sekadar menunjukkan potensi bencana yang ada, tetapi mengajak masyarakat memahami kemampuan adaptasi yang sebenarnya sudah dimiliki dan bisa dikembangkan untuk menghadapi risiko di masa depan.

  1. 1. Pengetahuan mitigasi tidak selalu datang dari ilmuwan

    IMG20260828145122.jpg
    Summer Xia dari British Council dan Dr. Ekbal Hussain dari British Geological Survey dalam pameran gabungan science dan seni bertajuk Setanah, Tak Diam (IDN Times/Fatkhur Rozi)

    Salah satu gagasan yang diangkat dalam pameran adalah menghapus jarak antara pengetahuan ilmiah dengan pengalaman masyarakat. Pengetahuan mengenai mitigasi bencana selama ini bisa terasa jauh karena banyak informasi berasal dari ilmuwan, engineer, desainer, atau ahli yang kemudian disampaikan menggunakan pendekatan yang tidak selalu dekat dengan kehidupan sehari-hari.

    Padahal, pengetahuan mengenai cara manusia beradaptasi dengan lingkungan juga bisa ditemukan pada aktivitas masyarakat lokal sehari-hari. Pengrajin dan tukang bangunan, misalnya, memiliki pengetahuan yang terbentuk dari pekerjaan mereka dan dalam beberapa kasus diwariskan melalui praktik yang berlangsung dalam waktu lama.

    "Sebenarnya, dari para pengrajin dan pedagang, terdapat banyak pengetahuan yang lahir dari keahlian mereka; sayangnya, hal yang jarang kita sadari adalah adanya pengetahuan atau informasi yang bisa kita pelajari—yang pada kenyataannya turut berkontribusi terhadap apa yang kita hasilkan di era modern ini.," jelas Dr. Ekbal Hussain dari British Geological Survey.

  2. 2. Tukang bangunan juga bisa menjadi engineer sekaligus ilmuwan

    IMG20260828150853.jpg
    Pameran gabungan science dan seni bertajuk Setanah, Tak Diam (IDN Times/Fatkhur Rozi)

    Pendekatan tersebut sekaligus mempertanyakan batas yang selama ini memisahkan disiplin ilmu. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat dapat menggunakan prinsip yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman praktis secara bersamaan tanpa harus mendefinisikan pekerjaannya berdasarkan satu disiplin tertentu.

    Dr. Endra Gunawan dari ITB memberikan contoh seorang tukang bangunan yang dalam praktik pekerjaannya sebenarnya menjalankan beberapa peran sekaligus. Pengalaman dalam memahami material, konstruksi, kondisi lingkungan, dan cara sebuah bangunan dibuat membuat pengetahuan praktis tersebut memiliki hubungan dengan pendekatan yang digunakan engineer maupun ilmuwan.

    "Seorang pengrajin—misalnya, seorang tukang bangunan—pada hakikatnya adalah seorang insinyur sekaligus ilmuwan yang menyatukan semua peran tersebut dalam dirinya, tanpa menciptakan jarak di antara berbagai disiplin ilmu," jelasnya. Menurut Dr Endra, pendekatan lintas disiplin seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru karena sudah melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

  3. 3. Dari mengetahui risiko menuju kemampuan beradaptasi

    IMG20260828151219.jpg
    Pameran gabungan science dan seni bertajuk Setanah, Tak Diam (IDN Times/Fatkhur Rozi)

    Pameran tersebut juga berusaha mengubah cara masyarakat melihat bencana. Ketika membicarakan gempa atau bencana lainnya, pertanyaan yang muncul sering kali berkaitan dengan bagaimana manusia dapat mencegahnya, padahal ada aspek lain yang tidak kalah penting, yaitu kemampuan untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan.

    Berbagai upaya adaptasi kemudian ditampilkan melalui pendekatan sains, teknologi, hingga seni. Pada saat yang sama, pameran juga mengangkat praktik yang telah dilakukan masyarakat selama ini untuk menunjukkan bahwa kemampuan menghadapi lingkungan tidak selalu dimulai dari teknologi baru.

    Tujuannya bukan membuat pengunjung pulang dengan ketakutan setelah mengetahui berbagai risiko bencana di sekitar mereka. Pameran justru diarahkan menjadi ruang refleksi mengenai apa yang dapat dilakukan sebagai individu maupun keluarga agar lebih siap dan aman ketika menghadapi bencana di masa depan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More