Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Fakta Nobi, Sistem Perbudakan di Korea yang Berlangsung 2.000 Tahun

5 Fakta Nobi, Sistem Perbudakan di Korea yang Berlangsung 2.000 Tahun
ilustrasi fakta sejarah nobi di Korea (unsplash.com/Mathew Schwartz)
  • Sistem nobi di Korea berlangsung sekitar 1.500–2.000 tahun, berawal dari tawanan perang, hukuman kriminal, serta warga yang menyerahkan diri karena kemiskinan dan utang.
  • Status nobi diwariskan lintas generasi dari era Silla, Goryeo, hingga Joseon, sekaligus menjadi penopang ekonomi bangsawan melalui tenaga kerja dan perlindungan ekonomi bagi sebagian rakyat.
  • Berbeda dari perbudakan Barat yang berbasis ras, nobi memperbudak sesama etnis Korea; sistem ini resmi dihapuskan lewat Reformasi Gabo pada 1894.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ketika mendengar kata perbudakan, biasanya terlintas di pikiran langsung tertuju pada perdagangan budak atau kisah kelam di Benua Amerika. Namun, tak banyak yang tahu bahwa Semenanjung Korea ternyata memegang rekor sebagai salah satu wilayah dengan sistem perbudakan paling panjang dan paling awet dalam sejarah peradaban manusia, yakni bertahan hingga sekitar 1.500 sampai 2.000 tahun. Perbudakan tersebut dikenal dengan sebutan nobi.

Para budak dulunya membentuk kelas sosial terbawah secara turun-temurun mengabdi dan diperjualbelikan layaknya properti oleh kaum bangsawan. Praktik yang telah mengakar sejak era kerajaan kuno ini terus membelenggu kehidupan jutaan rakyat Korea selama berabad-abad, sebelum akhirnya resmi dihapuskan melalui Reformasi Gabo tahun 1894. Yuk, simak lima fakta sejarah sistem perbudakan di Korea yang berlangsung selama 2.000 tahun berikut ini!

  1. 1. Berasal dari status tawanan perang hingga utang

    ilustrasi sejarah perbudakan (commons.wikimedia.org/Internet Archive Book Images)
    ilustrasi sejarah perbudakan (commons.wikimedia.org/Internet Archive Book Images)

    Sistem perbudakan nobi di Korea berakar kuat sejak era Tiga Kerajaan, di mana konflik dan perang antarwilayah menjadi pintu masuk utama pembentukan kelas ini. Pada masa-masa awal, tawanan perang dari pihak yang kalah langsung dijadikan nobi oleh para pemenang demi mengamankan pasokan tenaga kerja dan kekayaan. Selain faktor peperangan, masyarakat biasa juga bisa jatuh ke status nobi akibat vonis hukum atas tindak kriminal, atau secara sukarela menyerahkan diri akibat jeratan dan kemiskinan ekstrem agar tetap bisa bertahan hidup, dilansir laman The Korea Times.

  2. 2. Status perbudakan yang diwariskan secara turun-temurun

    ilustrasi sejarah perbudakan Korea (commons.wikimedia.org/Cornell University Library)
    ilustrasi sejarah perbudakan Korea (commons.wikimedia.org/Cornell University Library)

    Hal yang membedakan sejarah nobi di Korea dengan perbudakan di negara lain adalah sifatnya yang sangat stabil dan berlangsung tanpa putus selama lebih dari 1.500 tahun. Karena peralihan kekuasaan antar dinasti, mulai dari Silla ke Goryeo, hingga ke Joseon berlangsung relatif damai bagi kaum bangsawan, tatanan sosial tidak pernah terguncang. Akibatnya, keturunan nobi tetap mewarisi status orang tua mereka secara turun-temurun, sehingga kelompok tawanan perang dan pelaku utang di masa lalu terperangkap dalam sistem perbudakan lintas generasi.

  3. 3. Memiliki peran penting dalam perekonomian Dinasti Joseon

    ilustrasi Dinasti Joseon (commons.wikimedia.org/Republic of Korea from Seoul, Republic of Korea)
    ilustrasi Dinasti Joseon (commons.wikimedia.org/Republic of Korea from Seoul, Republic of Korea)

    Seiring berjalannya waktu, institusi nobi berkembang menjadi pilar ekonomi utama yang menopang kehidupan para elit dan bangsawan Korea. Meskipun pada akhirnya sistem ini perlahan melorot dan secara resmi dihapuskan pada akhir abad ke-19 melalui Reformasi Gabo tahun 1894, keberadaan nobi mencatatkan sejarah unik sebagai salah satu garis keturunan perbudakan tertua di dunia yang seluruhnya terdiri dari sesama etnis Korea. Dilansir laman Britannica, tingginya beban pajak, kewajiban kerja paksa, dan wajib militer yang dijatuhkan oleh pemerintah pusat maupun para bangsawan sering kali memicu tekanan finansial berat bagi rakyat biasa. Kondisi ini mendorong sebagian rakyat untuk secara sukarela menurunkan status sosial mereka menjadi nobi di bawah naungan aristokrat demi mendapatkan perlindungan ekonomi serta menghindari pungutan pajak negara yang mencekik.

  4. 4. Berbeda dengan sistem perbudakan di barat

    ilustrasi sistem perbudakan (commons.wikimedia.org/Wilfredor)
    ilustrasi sistem perbudakan (commons.wikimedia.org/Wilfredor)

    Perbedaan paling mendasar terletak pada faktor etnis dan asal-usul status sosialnya. Perbudakan di barat bertumpu pada eksploitasi rasial, di mana budak didatangkan dari luar negeri dan diisolasi secara permanen oleh prasangka warna kulit serta agama. Sebaliknya, sistem nobi di Korea bersifat internal, di mana orang pribumi memperbudak sesama etnisnya sendiri. Karena membagikan bahasa, budaya, dan ciri fisik yang sama dengan kelompok penguasa, batas sosial antara nobi dan rakyat jauh lebih kabur dan tidak menciptakan sekat rasial yang kaku seperti di barat.

  5. 5. Resmi dihapuskan melalui Reformasi Gabo pada 1894

    ilustrasi penghapusan budak di Korea (commons.wikimedia.org/Bernard Gagnon)
    ilustrasi penghapusan budak di Korea (commons.wikimedia.org/Bernard Gagnon)

    Sebelum abad ke-19, sistem perbudakan dan hierarki kasta di Korea perlahan mulai rapuh akibat krisis ekonomi domestik dan perubahan tata kelola sosial. Tekanan beban pajak, kegagalan panen, serta tingginya biaya pemeliharaan budak membuat kelas bangsawan mulai kesulitan mempertahankan kepemilikan aset manusia mereka secara permanen. Di saat yang sama, komersialisasi ekonomi dan bertambahnya populasi kelas menengah menciptakan celah bagi sebagian budak untuk membeli kebebasan mereka sendiri atau melarikan diri, yang secara bertahap mengurangi populasi perbudakan jauh sebelum undang-undang resmi diterbitkan. Puncak dari seluruh proses pergeseran ini terjadi melalui pelaksanaan Reformasi Gabo pada tahun 1894. Melalui serangkaian undang-undang baru yang diundangkan oleh Dewan Musyawarah, Korea secara hukum resmi menghapuskan perbudakan, perdagangan manusia, dan sistem kasta feudal. Kebijakan ini menjamin kesetaraan derajat di mata hukum bagi seluruh warga negara dan membuka jalan bagi pembentukan masyarakat Korea modern.

    Sistem perbudakan nobi menjadi cerminan kelam dari kompleksitas tatanan sosial Korea yang mampu bertahan hingga dua millennium. Berbeda dari praktik perbudakan di belahan dunia lain yang umumnya berbasis rasa tau hasil penaklukkan asing, nobi tumbuh dan berakar kuat dari dalam struktur masyarakatnya sendiri. Keberadaannya yang sangat lama menunjukkan betapa dalamnya ketergantungan ekonomi dan politik Kerajaan Korea terhadap tenaga kerja tak berbayar demi menopang kenyamanan serta kekuasaan kaum elit bangsawan.

     

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More