tangki hidrogen cair SLS sedang diproduksi untuk Misi Artemis IV NASA (commons.wikimedia.org/NASA Michoud Assembly Facility/NASA/Eric Bordelon)
Hidrogen dianggap sebagai sumber energi bersih yang menjanjikan karena satu-satunya limbah yang dihasilkannya hanyalah air. Sayangnya, metode saat ini dalam memperoleh bahan bakar hidrogen menghasilkan emisi gas rumah kaca yang begitu ekstrem sehingga manfaat utamanya menjadi hampir sia-sia. Meskipun merupakan unsur paling melimpah di alam semesta, hidrogen sulit diperoleh dalam bentuk murninya.
Adapun, metode yang paling banyak digunakan saat ini adalah proses yang disebut steam-methane reforming (reformasi uap metana). Menurut U.S. Department of Energy, proses ini menggabungkan metana (CH4) dari gas alam dengan uap bersuhu sangat tinggi atau sekitar 704,4 derajat Celcius, untuk memicu reaksi kimia yang memisahkan hidrogen. Namun, yang mengkhawatirkan, proses industri steam-methane reforming menghasilkan sekitar 830 juta metrik ton CO² setiap tahunnya. Ini setara dengan emisi seluruh negara Iran pada tahun 2026, seperti yang dikutip World Population Review.
Energi nuklir dapat menjadi alternatif bebas karbon bagi metode produksi hidrogen saat ini. Panas yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga nuklir dapat dimanfaatkan untuk proses steam-methane reforming, sehingga mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Pendekatan yang bahkan lebih menarik, yang saat ini sedang dalam tahap penelitian dan pengembangan, adalah memproduksi hidrogen dari air dengan memanfaatkan panas nuklir. Hal ini memerlukan pemanfaatan suhu yang sangat tinggi dari reaktor nuklir (hingga 1.000 derajat Celsius) untuk memecah molekul air menjadi atom hidrogen dan oksigen yang terpisah.
Satu-satunya limbah yang dihasilkan dari proses ini hanyalah sisa air. Teknologi ini masih dalam tahap pengembangan, akan tetapi seiring dengan meningkatnya permintaan global akan hidrogen, teknologi ini pada akhirnya bisa menjadi salah satu penerapan terpenting dari tenaga nuklir.
Tenaga nuklir memang punya potensi besar untuk menghasilkan listrik. Namun, pembangkit listrik hanya mampu mengubah sekitar sepertiga dari energi yang dihasilkannya menjadi listrik. Dua pertiga sisanya bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lain yang jarang mendapat sorotan, karena hal tersebut umumnya terjadi di lingkungan industri yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat umum, seperti yang sudah kita bahas di poin-poin sebelumnya. Itu artinya, energi nuklir sebenarnya memainkan peran yang lebih besar dalam kehidupan sehari-hari. Tapi bukan berarti energi nuklir tidak ada kekurangannya, ya!