Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal Basilika St. Agnes di Luar Tembok, Gereja Kuno Bergaya Byzantium
potret interior Gereja St. Agnes di luar tembok, gereja kuno bergaya Byzantium dari abad ke-7 M di Kota Roma (commons.wikimedia.org/Livioandronico2013)
  • Basilika St. Agnes di luar tembok di Roma berakar pada abad ke-4 dan bangunan kini berasal dari abad ke-7, berdiri di atas makam martir St. Agnes.
  • Bergelar basilika minor, gereja ini mempertahankan arsitektur Kristen awal, dengan langit-langit ukiran kayu, 14 pilar marmer Corinthian, serta mozaik Byzantium abad ke-7.
  • Setiap 21 Januari, dua anak domba diberkati dalam tradisi “The lambs of St Agnes”; bulunya kemudian ditenun menjadi pallium bagi Uskup Agung Metropolit baru.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Basilica San't Agnese fuori le Mura atau yang lebih dikenal dengan nama Basilika Santa (St) Agnes di luar tembok adalah sebuah gereja Katolik Roma yang terletak di Via Nomentana 349, Kota Roma. Jejak sejarah bangunan religius pertama di lokasi gereja saat ini berasal dari masa kuno era Kristen awal di Roma yakni pada abad ke-4 M. Kemudian pada abad ke-7 M, bangunan religius tersebut direstorasi dan direnovasi hingga menjadi bangunan gereja yang dapat dilihat hingga hari ini. Meski telah mengalami sejumlah restorasi dan renovasi tersebut, basilika ini dinilai masih mempertahankan sebagian besar struktur dan arsitektur dari era Kekristenan awal di Kota Roma yang menjadikannya sebagai salah satu contoh basilika Kristen yang paling utuh dan terawat dari era kuno yang masih terjaga kondisinya dan berdiri hingga saat ini.

Seturut namanya gereja ini menyandang status kehormatan yang diberikan oleh Takhta Suci Vatikan sebagai gereja basilika (minor basilica). Status basilika menunjukkan gereja ini memiliki signifikansi sejarah dan sebagai pusat peribadatan dan peziarahan umat. Ada pula nama uniknya dalam bahasa Italia: fuori le mura atau di luar tembok, karena basilika tersebut berada di luar Tembok Aurelian (Aurelian Walls) yang merupakan tembok yang dibangun pada abad ke-3 M atas perintah Kaisar Aurelian untuk melindungi Kota Roma dari ancaman invasi bangsa Jermanik. Tembok yang mengelilingi pusat sejarah Kota Roma tersebut merupakan salah satu tembok kuno terpanjang serta paling terjaga kondisinya di dunia.

Ingin tahu lebih lanjut mengenai gereja bersejarah di Roma yang terkenal dengan tradisi kuno: "The lambs of St Agnes" ini? simak empat fakta menariknya berikut ini, yuk!

1. Dibangun di atas makam seorang martir Kristen

potret fasad Baslika St. Agnes di luar tembok yang merupakan gereja kuno dan bersejarah di Roma (commons.wikimedia.org/S. Agnese)

Menurut laman Roman Churches Fandom, situs ini mulai tercatat dalam sejarah ketika St. Agnes dimakamkan di katakombe atau lorong ruangan bawah tanah untuk pemakaman pada tahun 304 M. St. Agnes merupakan salah satu martir Kristen terkemuka dari Kota Roma, ia dieksekusi oleh penguasa Romawi pagan karena mempertahankan kesucian dan imannya akan Yesus Kristus. Karena kemartirannya, St. Agnes menjadi Santa pelindung bagi mereka yang mengupayakan kesucian dan kemurnian hidup, serta para anak muda. Ia menjadi sosok orang Kudus yang dihormati di dalam Gereja Katolik Roma, Gereja Orthodox, Anglikan dan Gereja Lutheran. Gereja Katolik Roma memperingati pesta namanya setiap tanggal 21 Januari.

Pada abad ke-4 M, dibangun sebuah gereja di atas makam St. Agnes dan dalam perjalanan waktu sebuah basilika besar juga pernah dibangun setelahnya, namun basilika tersebut mengalami kerusakan dan hancur. Bangunan basilika yang masih dapat kita lihat saat ini berasal dari abad ke-7 M dan dibangun pada masa Kepausan Paus Honorius I (masa Kepausan 625-638). Meski dari luar bangunan basilika ini terlihat tak terlalu menarik karena merupakan bagian dari sebuah kompleks bangunan yang tampak campur aduk akibat berbagai penambahan struktur bangunan dari waktu ke waktu, namun bagian interior basilika ini sangat indah. Dinding jalan masuk gereja ini dihiasi oleh berbagai plakat kuno yang menarik.

2. Memiliki dekorasi langit-langit dan pilar interior ikonik

potret dekorasi pahatan di langit-langit dan barisan pilar-pilarnya yang ikonik di bagian interior basilika (commons.wikimedia.org/ S. Agnese)

Basilika St. Agnes di luar tembok ini memiliki dekorasi langit-langit dan pilar-pilar interior yang ikonik. Dilansir laman Walks in Rome, dekorasi ukiran kayu yang sangat detail dan megah untuk menutupi struktur kerangka langit-langitnya dibuat pada masa Kepausan Paus Paulus V (masa Kepausan 1605-1621) dan direstorasi pada pertengahan abad ke-19 yang memberikan skema warna yang dapat dilihat hingga saat ini. Di bagian tengah langit-langitnya terdapat ukiran sosok St. Agnes, dan ukiran 2 sosok lainnya adalah St. Cecilia dan St. Constantia.

Selain dihiasi oleh ukiran kayu pada langit-langitnya, interior basilika juga dihiasi dengan pilar-pilar megah yang terbuat dari batu marmer berkualitas tinggi. Terdapat 14 pilar megah bergaya Corinthian pada bagain nave (lorong) utama gereja yang terbuat dari marmer berkualitas tinggi yang langka. Sejumlah sumber informasi sejarah menyebutkan bahwa 4 pilar di dekat area paduan suara gereja (choir) terbuat dari marmer merah Porta Santa, sebuah jenis batu marmer yang memiliki rona warna merah muda yang langka. Dua pilar berikutnya terbuat dari marmer pavonazzetto yang memiliki rona warna putih dan 8 pilar terakhir terbuat dari batuan sedimen breksi abu-abu asal daerah Serravezza, Provinsi Lucca, Italia.

3. Memiliki seni mozaik Kristen bergaya Byzantium abad ke-7

potret mozaik bergaya Byzantium dari abad ke-7 M di bagian apse basilika (commons.wikimedia.org/archive.org)

Menurut laman Turismo Roma, Basilika St. Agnes di luar tembok ini memiliki mozaik religius Kristen bergaya Byzantium dari abad ke-7 M. Mozaik bergaya Byzantium tersebut merupakan salah satu seni mozaik Kristen bergaya Byzantium tertua di dunia yang tak ternilai harganya. Mozaik tersebut menggambarkan St. Agnes yang sedang dianugerahi mahkota kemartirannya. Ia digambarkan mengenakan pakaian Ratu Permaisuri Byzantium berupa jubah ungu yang dipadukan dengan selendang berhias permata serta sepatu berwarna merah.

Sosok St. Agnes dalam mozaik tersebut diapit oleh Paus Honorius I (masa Kepausan 625 M-638 M) yang memegang miniatur gereja dan Paus Symmachus (masa Kepausan 498 M-514 M) yang memegang Kitab Injil berhias permata. Selain mozaik terdapat pula lukisan fresko dari abad ke-19 di bagian atas arkade (bagian lengkungan) yang ditopang oleh pilar-pilar interior basilika. Lukisan fresko baru dari abad ke-19 tersebut mungkin menutupi sisa-sisa lukisan fresko abad pertengahan yang telah rusak

4. Terkenal dengan tradisi religius kunonya

potret palium yang dibuat dari tenunan bulu domba yang diberkati di Basilika St. Agnes di luar tembok dalam sebuah tradisi kuno yang dikenal dengan "The lamb of St. Agnes" (commons.wikimedia.org/Piotrus)

Salah satu fakta menarik dari Basilika St. Agnes di luar tembok ini adalah, ia terkenal dengan tradisi religius kunonya yang dikenal dengan nama "The lambs of St Agnes". Menurut laman Vatican News, tradisi tersebut berkaitan dengan sebuah legenda kuno St. Agnes yang konon menampakkan diri kepada orang tuanya setelah ia wafat. Saat orang tuanya datang untuk berdoa di makamnya, mereka melihat St. Agnes dikelilingi paduan suara para kudus dan sedang mengendong seekor anak domba di lengannya. Berkaitan dengan legenda tersebut terdapat tradisi religius kuno yang dilakukan di basilika ini, 2 ekor anak domba akan diberkati pada peringatan perayaan St. Agnes di Basilika St. Agnes di luar tembok setiap tanggal 21 Januari setiap tahunnya.

Setelah diberkati di Basilika St. Agnes di luar tembok, domba-domba tersebut dibawa ke hadapan Paus untuk diberkati dan kemudian diserahkan untuk dipelihara oleh para biarawati Benediktin. Setelah cukup waktunya, bulu domba-domba tersebut akan dicukur dan bulu-bulu tersebut akan ditenun menjadi sebuah palium yang akan diberkati oleh Paus sendiri. Pallium adalah pakaian liturgis dalam gereja Katolik Roma berbentuk selempang melingkar yang dikenakan di atas pundak oleh Paus serta Uskup Agung Metropolit. Pallium-pallium tersebut akan diberikan Paus kepada para Uskup Agung Metropolit yang baru dia angkat sebagai lambang persatuan gereja Katolik universal dengan Takhta Suci Vatikan dan juga penanda amanah para Uskup Agung dalam "menggembalakan" umatnya dengan kasih dan pengorbanan.

Bagaimana, apakah kamu tertarik untuk mengunjungi basilika kuno dan bersejarah ini jika nanti ada kesempatan untuk berwisata ke Kota Roma?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article