Mengenal Equal Earth Map, Peta Baru dengan Ukuran yang Lebih Akurat

- Majelis Umum PBB menyetujui resolusi untuk mendorong proyeksi peta dunia yang lebih akurat dalam menggambarkan ukuran daratan.
- Proyeksi Mercator membuat wilayah dekat kutub tampak lebih besar, sementara Afrika terlihat jauh lebih kecil dari luas sebenarnya.
- Equal Earth mempertahankan proporsi luas daratan, meski bentuk, arah, sudut, dan jarak pada peta tetap dapat berubah.
Equal Earth Map menjadi sorotan setelah Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa menyetujui resolusi yang mendorong penggunaan proyeksi peta dunia yang lebih akurat menggambarkan ukuran daratan, terutama Benua Afrika. Resolusi tersebut mendapat dukungan dari 164 negara, sementara Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menolak dan enam negara memilih abstain.
Perubahan ini penting karena peta dunia yang selama ini banyak digunakan, yakni proyeksi Mercator, memiliki distorsi yang cukup besar terhadap ukuran wilayah. Afrika misalnya dapat terlihat memiliki ukuran yang hampir sebanding dengan Greenland pada peta Mercator, padahal luas Afrika sekitar 14 kali lebih besar.
Equal Earth dirancang sebagai peta yang lebih proporsional

peta Equal Earth (Wikimedia Commons/Tom Patterson) Equal Earth merupakan proyeksi peta dunia jenis equal-area pseudocylindrical, yang berarti luas wilayah pada peta dipertahankan secara proporsional terhadap luas sebenarnya di permukaan Bumi. Pendekatan ini menjadi pembeda utama dibandingkan proyeksi Mercator, yang mengorbankan akurasi ukuran wilayah demi mempertahankan bentuk dan arah tertentu yang berguna untuk navigasi.
Secara visual, desain Equal Earth terinspirasi dari proyeksi Robinson yang dikenal memiliki bentuk peta dunia yang cukup familiar. Namun, Robinson bukan proyeksi equal-area, sedangkan Equal Earth dirancang agar proporsi luas wilayah tetap terjaga.
Sisi luar Equal Earth dibuat melengkung untuk memberikan kesan bentuk Bumi yang bulat, sementara garis lintangnya ditampilkan lurus. Susunan tersebut juga memudahkan pembaca membandingkan posisi suatu wilayah terhadap garis khatulistiwa tanpa harus mengorbankan proporsi luas benua.
Kenapa peta Mercator dianggap bermasalah?

ilustrasi peta dunia (pexels.com/Nataliya Vaitkevich) Proyeksi Mercator dibuat oleh kartografer Gerardus Mercator pada 1569 dan awalnya dikembangkan untuk membantu navigasi laut. Ketika permukaan Bumi yang berbentuk tiga dimensi dipindahkan ke bidang datar, distorsi tidak dapat dihindari sehingga setiap jenis proyeksi harus memilih aspek mana yang ingin dipertahankan.
Pada Mercator, wilayah yang semakin dekat dengan kutub akan terlihat semakin besar dibandingkan ukuran sebenarnya. Sebaliknya, daerah yang berada lebih dekat dengan garis khatulistiwa terlihat relatif lebih kecil, sehingga perbandingan ukuran antarnegara dan benua dapat berbeda jauh dari kondisi sebenarnya.
Afrika menjadi salah satu contoh paling jelas. Di peta Mercator, benua tersebut dapat terlihat hanya sedikit lebih besar dari Greenland, padahal Afrika sebenarnya sekitar 14 kali lebih luas. Distorsi semacam inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan munculnya dorongan untuk menggunakan peta yang mempertahankan proporsi luas wilayah.
Equal Earth tidak membuat semua bentuk menjadi sempurna
Equal Earth memang mempertahankan luas wilayah, tetapi bukan berarti peta ini dapat menampilkan seluruh aspek permukaan Bumi secara sempurna. Setiap proyeksi dua dimensi tetap harus menghadapi kompromi karena permukaan bola tidak bisa diratakan tanpa menghasilkan distorsi.
Dalam Equal Earth, luas wilayah dipertahankan, tetapi bentuk, arah, sudut, dan jarak tetap dapat mengalami perubahan. Area tropis dan lintang menengah dapat terlihat lebih memanjang ke arah utara dan selatan, sementara wilayah yang lebih dekat ke kutub mengalami kompresi dalam arah yang sama.
Karena karakter tersebut, Equal Earth terutama cocok digunakan untuk peta dunia berskala kecil dan peta tematik yang membutuhkan perbandingan luas wilayah secara akurat. Fokusnya bukan menggantikan semua jenis proyeksi untuk setiap kebutuhan, tetapi memberikan representasi global yang lebih proporsional ketika ukuran daratan menjadi informasi utama.
Kenapa Afrika terlihat jauh lebih besar?

ilustrasi peta Afrika (unsplash.com/James Wiseman) Perubahan paling mudah dikenali ketika membandingkan Equal Earth dengan Mercator adalah ukuran Afrika. Pada Equal Earth, Afrika terlihat jauh lebih besar dibandingkan Eropa, Greenland, dan sejumlah wilayah di lintang tinggi karena proporsi luasnya tidak lagi diperbesar atau diperkecil berdasarkan posisi terhadap kutub.
Perbedaan tersebut bukan berarti Equal Earth sengaja memperbesar Afrika. Justru peta ini mempertahankan perbandingan luas wilayah sehingga benua dan negara dapat dilihat dengan skala yang lebih sesuai satu sama lain.
Kelompok kampanye #CorrectTheMap menggambarkan besarnya Afrika dengan menyebut bahwa Amerika Serikat, China, India, Jepang, Meksiko, dan sebagian besar wilayah Eropa dapat dimasukkan ke dalam benua tersebut dan masih menyisakan banyak daratan. Pernyataan ini digunakan untuk menekankan seberapa besar perbedaan persepsi yang dapat muncul dari penggunaan proyeksi Mercator.
PBB mendorong penggunaan peta yang lebih proporsional
Resolusi mengenai perubahan peta tersebut diajukan Togo dan mendapat dukungan negara-negara anggota Uni Afrika. Sebanyak 164 negara mendukung resolusi itu, sementara enam negara abstain dan Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang memberikan suara menolak.
Resolusi tersebut tidak bersifat mengikat secara hukum, sehingga negara maupun institusi tidak diwajibkan hanya menggunakan Equal Earth atau dilarang memakai Mercator. Namun, keputusan PBB diperkirakan dapat memengaruhi penggunaan peta di materi pendidikan, teknologi, dan lembaga lain yang selama ini masih mengandalkan proyeksi Mercator.
Equal Earth sebenarnya sudah ada sejak 2018
Equal Earth bukan teknologi yang baru muncul setelah keputusan PBB. Proyeksi ini dikembangkan pada 2018 oleh Bojan Šavrič dari Esri, Tom Patterson dari US National Park Service, dan Bernhard Jenny dari Monash University.
Ketiganya merancang Equal Earth sebagai alternatif equal-area yang tetap memiliki tampilan familiar dan seimbang. Pendekatannya terinspirasi dari Robinson, tetapi mempertahankan ukuran relatif wilayah sehingga negara-negara tropis dan wilayah di utara dapat dibandingkan secara lebih proporsional.
Desain ini juga dibuat agar dapat diterapkan secara relatif sederhana dalam perangkat lunak pemetaan. Equal Earth telah tersedia dalam sejumlah sistem pemetaan, termasuk PROJ dan ArcGIS, yang memungkinkan proyeksi tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan visualisasi geografis digital.
Bukan sekadar mengganti gambar peta

ilustrasi peta dunia (pexels.com/lara-jameson) Perdebatan mengenai Mercator dan Equal Earth pada akhirnya tidak hanya membahas bagaimana sebuah peta terlihat. Cara wilayah digambarkan dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap ukuran, posisi, hingga pentingnya suatu kawasan dalam konteks global.
Equal Earth mencoba menawarkan kompromi berbeda dalam persoalan klasik kartografi tersebut. Proyeksi ini tetap tidak bisa menghilangkan seluruh distorsi ketika permukaan Bumi dipindahkan ke layar atau kertas, tetapi mempertahankan luas wilayah secara proporsional sehingga ukuran benua dan negara dapat dibandingkan dengan lebih akurat.









![[QUIZ] Pilih Lukisan Ini, Kami Bisa Tebak Kepribadianmu Sebenarnya](https://image.idntimes.com/post/20240426/tebak-kepribadian-berdasar-lukisan-7e92dbcc72c112686b745dd77d025d35.jpg)











