Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Perempuan Era Renaisans yang Membentuk Sejarah Politik Eropa

Potret Margaret of Anjou
Ilustrasi Potret Margaret of Anjou (commons.wikimedia.org/Squwelf)
Intinya sih...
  • Eleanor of Aquitaine lahir di Prancis, menjadi Ratu Prancis dan Inggris, memainkan peran besar dalam politik kedua negaranya.
  • Joan of Arc memimpin pasukan Prancis, mengubah momentum Perang Seratus Tahun, dan menjadi simbol nasional Prancis hingga kini.
  • Isabella I of Castile membawa perubahan besar dalam sejarah Eropa melalui ekspedisi Columbus dan Alhambra Decree yang kontroversial.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sejarah sering menyorot para raja dan panglima laki-laki, tapi sebenarnya banyak perempuan yang memainkan peran besar dalam perjalanan politik dunia. Mereka hadir di masa ketika perempuan tidak diberi ruang dalam kekuasaan, namun tetap berhasil mengubah arah sejarah.

Kisah mereka bukan hanya tentang takhta, tetapi juga keberanian, strategi, dan keputusan penting yang mengubah perspektif serta arahan politik negaranya. Yuk, kenali tokoh perempuan era Renaisans yang membentuk sejarah politik Eropa yang kita kenal di masa kini!

1. Eleanor of Aquitaine

Potret Eleanor of Aquitaine
Potret Eleanor of Aquitaine (commons.wikimedia.org/Replica_effigy_of_Eleanor_of_Aquitaine)

Eleanor of Aquitaine lahir sekitar tahun 1122 di Poitiers, Prancis, dan tumbuh sebagai pewaris wilayah Aquitaine yang luas dan strategis. Ia menikah dengan Louis VII pada tahun 1137 dan menjadi Ratu Prancis, lalu bercerai pada 1152 dan menikah dengan Henry II, Calon Raja Inggris, sehingga ia menjadi Ratu Inggris pada 1154. Dalam kehidupan pribadinya, Eleanor dikenal cerdas, mandiri, dan punya ambisi politik yang tidak umum untuk perempuan kala itu. Ia juga ibu dari delapan anak, termasuk Richard the Lionheart dan King John.

Dalam konteks politik, Eleanor memainkan peran besar dalam pemerintahan kedua negaranya. Ia aktif dalam Perang Salib Kedua pada 1147 hingga 1149 dan memimpin pasukan dari sisi politik, bukan militer. Ia juga mendukung pemberontakan anak-anaknya terhadap Henry II pada tahun 1173 hingga 1174, langkah yang membuatnya dipenjara selama hampir 16 tahun. Ia baru bebas setelah Henry II meninggal pada 1189.

Pengaruhnya sangat signifikan di seluruh Eropa Barat, terutama dalam hubungan Prancis dan Inggris yang selalu panas. Eleanor berhasil mengamankan posisi politik anak-anaknya dan melanjutkan peran diplomatik hingga usia 80-an, usia yang jarang dicapai pada era itu. Lokasi kekuasaannya tersebar dari Aquitaine di Prancis hingga istana-istana Inggris, menjadikannya salah satu perempuan paling berpengaruh abad ke-12. Warisannya terasa dalam dinamika monarki Eropa selama berabad-abad berikutnya.

2. Joan of Arc

Ilustrasi potret Joan of Arc
Ilustrasi potret Joan of Arc (www.thecollector.com)

Joan of Arc lahir pada 1412 di Domrémy, Prancis dalam keluarga petani sederhana yang tidak pernah membayangkan anaknya akan masuk ke arena politik dan militer. Ia dikenal mengaku mendapat visi spiritual pada usia 13 tahun yang mendorongnya mendukung Charles VII. Joan tampil sebagai pemimpin spiritual dan militer, hal yang hampir mustahil bagi perempuan di abad ke-15. Dalam kehidupan pribadinya, ia tetap mempertahankan status perawan dan membawa identitas religius yang kuat.

Secara politik, ia muncul pada masa Perang Seratus Tahun antara Prancis dan Inggris yang berlangsung dari 1337 hingga 1453. Pada 1429, Joan berhasil memimpin pasukan Prancis merebut Orléans, sebuah kemenangan penting yang mengubah momentum perang. Visi politiknya jelas, yaitu memastikan Charles VII dimahkotai di Reims pada tahun yang sama. Aksi ini memperkuat legitimasi politik Raja Prancis di tengah ancaman Inggris dan Burgundia.

Namun, kisahnya berakhir tragis ketika ia ditangkap di Compiègne oleh Burgundia pada 1430 dan diserahkan kepada Inggris. Ia diadili di Rouen dan dibakar hidup-hidup pada 30 Mei 1431. Meski hidup singkat, Joan mempengaruhi arah politik Prancis dan menjadi simbol nasional hingga kini. Lokasi-lokasi seperti Orléans, Reims, dan Rouen menjadi bagian penting dari jejak sejarahnya hingga dibuatkan monumen penting di berbagai wilayah.

3. Isabella I of Castile

Ilustrasi Potret  Isabella I of Castile
Ilustrasi Potret Isabella I of Castile (https://commons.wikimedia.org/Sir Gawain)

Isabella I lahir pada 1451 di Madrigal de las Altas Torres, Spanyol, dan dikenal sebagai ratu yang membawa perubahan besar dalam sejarah Eropa. Kehidupan pribadinya penuh strategi sejak awal, termasuk pernikahannya dengan Ferdinand II dari Aragon pada 1469. Pasangan ini memadukan dua kerajaan sehingga membentuk Spanyol modern. Pada tahun 1474, Isabella naik takhta Castile dan memulai periode kekuasaan yang panjang.

Dalam dunia politik, Isabella berperan langsung dalam konsolidasi wilayah dan reformasi administrasi kerajaan. Ia mendukung ekspedisi Christopher Columbus pada 1492 yang akhirnya membuka jalan kolonisasi Spanyol ke Dunia Baru. Tahun yang sama, ia juga menerapkan Alhambra Decree yang mengusir orang Yahudi dari wilayah Spanyol, sebuah kebijakan politik dan agama yang kontroversial. Pemerintahannya turut mengakhiri Reconquista dengan jatuhnya Granada pada Januari 1492.

Isabella memimpin dari istana-istana di Castile dan sering berpindah wilayah untuk menjaga stabilitas politik. Bersama Ferdinand, ia membentuk dinasti yang mendominasi Eropa selama berabad-abad. Warisan politiknya mencakup ekspansi global, reformasi administratif, dan penyatuan kerajaan. Ia meninggal pada 1504 di Medina del Campo, meninggalkan dampak besar dalam sejarah dunia.

4. Margaret of Anjou

Margaret of Anjou
Margaret of Anjou (www.bbc.co.uk)

Margaret of Anjou lahir pada 1430 di Lorraine, Prancis, dan menikah dengan Henry VI dari Inggris pada 1445. Kehidupan pribadinya sangat dipengaruhi kondisi mental suaminya yang sering tidak stabil. Kondisi ini membuat Margaret memegang kendali politik yang seharusnya berada di tangan Raja. Ia dikenal ambisius, keras, dan memiliki insting politik tajam.

Margaret menjadi tokoh sentral dalam Perang Mawar, konflik dinasti antara keluarga Lancaster dan York yang berlangsung dari 1455 hingga 1487. Ketika Henry VI tidak mampu memimpin, Margaret mengambil alih strategi militer dan politik atas nama suaminya. Ia memimpin faksi Lancaster dalam pertempuran penting seperti Wakefield pada 1460 dan St Albans pada 1461. Meski mengalami kekalahan, ia tetap berupaya mengembalikan kekuasaan keluarganya.

Lokasi perjuangannya meliputi Inggris bagian tengah dan utara, wilayah yang menjadi medan utama Perang Mawar. Margaret sempat melarikan diri ke Prancis dan mencari dukungan asing untuk kembali ke Inggris. Kekalahannya pada Pertempuran Tewkesbury tahun 1471 menandai runtuhnya pengaruh Lancaster. Margaret meninggal pada 1482, namun perannya memberikan bentuk bagi sejarah politik Inggris.

5. Anne Boleyn

Ilustrasi Potret Anne Boleyn
Ilustrasi Potret Anne Boleyn (https://www.hevercastle.co.uk)

Anne Boleyn lahir sekitar 1501 di Blickling Hall, Inggris, dan tumbuh besar di lingkungan istana Prancis serta Inggris. Kehidupan pribadinya sangat terkait hubungan rumit dengan Raja Henry VIII. Hubungan mereka menyebabkan krisis politik besar ketika Henry ingin membatalkan pernikahannya dengan Catherine of Aragon. Anne menikah dengan Henry VIII pada 1533 dan menjadi Ratu Inggris.

Secara politik, Anne berpengaruh dalam lahirnya Reformasi Inggris. Karena pernikahan mereka tidak disetujui Paus, Henry VIII memutuskan hubungan dengan Gereja Katolik dan membentuk Gereja Inggris. Pada 1534, Act of Supremacy disahkan, menegaskan raja sebagai kepala gereja, perubahan besar dalam sistem keagamaan dan politik Inggris. Anne juga dikenal mendukung tokoh-tokoh reformis dan gerakan pembaruan teks-teks keagamaan.

Lokasi peristiwa politik Anne meliputi London, istana-istana kerajaan seperti Whitehall dan Greenwich, serta Westminster yang menjadi pusat hukum. Hidupnya berakhir tragis ketika ia dituduh berkhianat dan dieksekusi pada 19 Mei 1536 di Menara London. Meski singkat, masa pemerintahannya mengubah wajah Inggris secara permanen. Anne menjadi salah satu ratu paling berpengaruh dalam sejarah Eropa.

Setiap tokoh perempuan dunia ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki posisi penting dalam arus besar sejarah, meskipun mereka hidup pada masa yang sangat membatasi peran perempuan. Mereka mengambil keputusan yang memengaruhi kerajaan, agama, dan bahkan perjalanan dunia.

Dari medan perang hingga istana, tokoh perempuan era Renaisans yang membentuk sejarah politik Eropa turut berkontribusi bagi masa depan yang kita kenal saat ini. Menurut kamu, siapa tokoh perempuan yang paling menarik dan ingin dipelajari lebih dalam?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Science

See More

4 Hewan yang Mampu Memanipulasi Lingkungan Secara Biologis

11 Jan 2026, 18:05 WIBScience