7 Hewan dengan Zoofarmakognosi, Pandai Mengobati Dirinya Sendiri

- Orangutan menggunakan tanaman Commelina sebagai obat luar untuk meredakan nyeri otot, mirip dengan cara manusia menggunakan salep otot.
- Kambing atau domba hutan mengonsumsi tanaman yang mengandung kadar tanin untuk melawan parasit di saluran pencernaan mereka.
- Burung gagak menggunakan semut hidup untuk membasmi tungau dan kutu, serta membersihkan bulu mereka dengan asam format yang dicari dari semut.
Pernahkah kamu memperhatikan kucing peliharaanmu tiba-tiba memakan rumput padahal ia adalah seekor karnivora? Fenomena unik ini bukanlah perilaku tanpa alasan, melainkan sebuah insting bertahan hidup yang dikenal dalam dunia sains sebagai zoofarmakognosi. Istilah ini merujuk pada kemampuan luar biasa hewan untuk mendeteksi dan menggunakan zat alami dari tumbuhan atau mineral guna mengobati penyakit mereka sendiri.
Alam liar ternyata bukan sekadar medan perburuan yang kejam, melainkan sebuah apotek raksasa yang menyediakan berbagai ramuan penyembuh bagi penghuninya. Mulai dari hutan hujan tropis hingga kedalaman samudra, berbagai spesies telah mengembangkan pengetahuan medis yang mungkin jauh lebih tua daripada peradaban manusia. Penasaran bagaimana para hewan ini meracik obat tanpa bantuan laboratorium medis? Mari kita telusuri lebih dalam mengenai tujuh spesies luar biasa yang memiliki kemampuan "dokter" alami ini!
1. Orangutan

Orangutan merupakan salah satu primata paling cerdas yang diketahui menggunakan tanaman sebagai obat luar untuk meredakan nyeri otot. Dilansir laman BBC, para peneliti di Kalimantan mengamati bahwa orangutan sering mengunyah daun tanaman Commelina hingga menjadi busa putih yang kental, namun busa tersebut tidak mereka telan. Busa kaya akan zat anti-inflamasi ini kemudian dioleskan secara merata ke bagian tangan atau kaki yang terasa pegal atau membengkak setelah mereka beraktivitas berat.
Perilaku hewan satu ini sangat mirip dengan cara manusia menggunakan salep otot atau koyo untuk meredakan peradangan dan rasa sakit pada persendian. Fakta uniknya, penggunaan tanaman ini dilakukan secara sadar dan sering kali diajarkan oleh induk kepada anaknya melalui pengamatan langsung.
2. Kambing atau Domba Hutan

Kambing dan domba hutan memiliki insting yang sangat peka untuk mendeteksi keberadaan parasit di dalam saluran pencernaan mereka. Melansir Wiley Online Library, ketika mereka merasa terinfeksi cacing atau parasit perut, hewan-hewan ini akan sengaja mencari dan mengonsumsi tanaman yang mengandung kadar tanin atau senyawa sekunder yang sangat tinggi. Senyawa kimia ini secara efektif dapat melumpuhkan atau membunuh parasit tanpa merusak organ tubuh si domba itu sendiri.
Menariknya, mereka hanya akan memakan tanaman pahit ini dalam jumlah tertentu sesuai dengan kebutuhan medis, bukan sebagai menu makanan harian yang utama. Jika mereka dalam kondisi sehat, domba-domba ini cenderung menghindari tanaman tersebut karena rasanya yang kurang menyenangkan dan adanya efek samping jika dikonsumsi berlebihan.
3. Burung Gagak

Dilansir laman A-Z Animals, burung gagak sering melakukan sebuah ritual aneh namun sangat fungsional yang oleh para ilmuwan disebut sebagai perilaku anting. Dalam ritual ini, seekor gagak akan menangkap semut hidup menggunakan paruhnya dan kemudian menggosokkannya ke seluruh permukaan bulu mereka.
Semut yang merasa terancam akan mengeluarkan asam format sebagai mekanisme pertahanan diri, dan zat kimia inilah yang sebenarnya dicari oleh si burung. Asam format tersebut bekerja sebagai insektisida alami yang sangat ampuh untuk membasmi tungau, kutu, dan berbagai parasit mikro lainnya yang bersarang di sela-sela bulu gagak.
Selain sebagai pembasmi hama, asam ini juga membantu menghilangkan minyak lama dan kotoran, sehingga bulu burung tetap bersih dan sehat untuk terbang. Beberapa peneliti bahkan berpendapat bahwa asam semut ini memiliki efek menenangkan yang memberikan sensasi nyaman bagi kulit si burung.
4. Lebah Madu

Lebah madu adalah arsitek sekaligus dokter komunitas yang sangat handal dalam menjaga kebersihan rumah tangga mereka dari serangan patogen. Dilansir laman Royal Society, untuk mensterilkan sarang, lebah mengumpulkan getah dari tunas pohon tertentu yang kemudian mereka olah menjadi zat lengket yang disebut propolis. Propolis ini mengandung senyawa antimikroba, antijamur, dan antivirus yang sangat kuat untuk melapisi dinding sel sarang serta menutup celah-celah kecil.
Dengan melapisi seluruh interior sarang menggunakan propolis, lebah berhasil menciptakan lingkungan yang hampir bebas kuman untuk melindungi ratu dan larva mereka. Jika ada penyusup seperti tikus kecil yang mati di dalam sarang dan terlalu berat untuk dikeluarkan, lebah akan "membalsem" bangkai tersebut dengan propolis agar tidak membusuk dan menyebarkan bakteri.
5. Lumba-lumba

Di kedalaman laut, lumba-lumba hidung botol memiliki cara unik untuk merawat kesehatan kulit mereka melalui interaksi dengan ekosistem laut. Melansir laman Dolphin Watch Alliance, mereka sering terlihat mengantre dengan tertib untuk menggosokkan tubuh mereka ke jenis terumbu karang tertentu, seperti Gorgonia dan spons laut.
Terumbu karang ini diketahui mengeluarkan lendir khusus yang mengandung senyawa bioaktif dengan sifat antibakteri dan sitotoksik yang kuat. Proses menggosokkan diri ini berfungsi sebagai "lulur medis" yang membantu lumba-lumba mencegah infeksi kulit serta menjaga elastisitas kulit mereka di lingkungan air asin. Para ilmuwan mengamati bahwa lumba-lumba melakukan rutinitas ini secara berkala, terutama setelah mereka bangun tidur atau sebelum memulai aktivitas berburu.
6. Rusa

Dilansir laman Deer-Forest Study, rusa memiliki kebiasaan unik yang disebut geofagi, yaitu perilaku sengaja memakan tanah atau menjilati mineral di tebing-tebing tanah liat. Perilaku ini bukan disebabkan oleh rasa lapar, melainkan sebagai bentuk detoksifikasi atau penawar racun alami bagi sistem pencernaan mereka.
Banyak tanaman yang dimakan rusa mengandung racun alkaloid atau zat pelindung tumbuhan yang jika menumpuk dapat berbahaya bagi kesehatan organ dalam mereka. Tanah liat tertentu mengandung mineral kaolin dan smektit yang mampu mengikat racun-racun tersebut di dalam perut dan membuangnya dari tubuh sebelum terserap ke aliran darah.
Selain sebagai pembersih racun, tanah liat ini juga menyediakan asupan garam dan mineral esensial yang sulit ditemukan dalam makanan hijau sehari-hari. Kamu mungkin sering melihat mereka di area yang disebut "mineral licks", di mana banyak rusa berkumpul hanya untuk mengonsumsi tanah ajaib ini.
7. Kera Capuchin

Kera Capuchin di Amerika Tengah memiliki teknik pengobatan diri yang cukup ekstrem namun sangat efektif untuk melindungi diri dari gigitan serangga. Saat musim hujan tiba dan nyamuk mulai mewabah, kera-kera ini akan mencari kelabang besar yang memiliki sekresi kimia beracun sebagai pertahanan.
Melansir laman World Land Trust, mereka akan menangkap kelabang tersebut, menggigitnya sedikit agar mengeluarkan cairan, lalu mengoleskan cairan berbau tajam itu ke seluruh bulu tubuh mereka. Cairan kelabang ini mengandung senyawa benzoquinone yang secara sains terbukti merupakan penolak serangga (repellent) yang jauh lebih kuat daripada banyak produk buatan manusia. Menariknya, kera Capuchin sering melakukan aktivitas ini secara berkelompok dan saling membantu mengoleskan "obat nyamuk" alami ini ke bagian tubuh yang sulit dijangkau.
Fenomena zoofarmakognosi ini membuka mata kita bahwa kecerdasan hewan dalam menjaga kesehatan jauh melampaui apa yang pernah kita bayangkan sebelumnya. Setiap tindakan medis yang mereka lakukan, mulai dari mengurapi diri dengan serangga hingga memakan tanah liat, adalah hasil evolusi ribuan tahun yang sangat presisi. Menarik sekali bukan!

















