Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Proyek Rekayasa Lahan Tergila di China yang Mengubah Hukum Alam
ilustrasi proyek rekayasa lahan di China (unsplash.com/Christian Lue)
  • China meratakan sekitar 700 bukit kapur di Lanzhou untuk menciptakan kawasan perkotaan baru, dengan memindahkan jutaan meter kubik tanah dan batuan menggunakan alat berat serta dinamit.
  • Bandara Hechi Jinchengjiang dibangun di ketinggian 677 meter setelah puluhan bukit diratakan; landasan 2,2 kilometernya beroperasi terbatas hingga tiga penerbangan penumpang per jam.
  • Proyek lain mencakup reklamasi Kepulauan Spratly, penghalang gurun berbahan bambu, serta jalur Qinghai-Tibet yang memakai pendinginan pasif untuk melintasi dataran beku di atas 4.000 meter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika negara lain masih berdebat soal tata ruang kota, China justru sibuk menulis ulang peta geografis mereka sendiri. Dari memotong ribuan puncak gunung demi mendirikan kota di atas awan, hingga menyulap gurun gersang menjadi daratan hijau raksasa. Negeri Tirai Bambu telah membawa rekayasa teknik ke level yang menantang logika. Bagi para insinyur di sana, bentang alam bukanlah batasan mutlak, melainkan sekadar kanvas mentah yang siap dibentuk ulang.

Ambisi megastruktur ini bukan sekadar unjuk gigi kekuatan ekonomi, melainkan jawaban ekstrem atas krisis lahan, energi, dan pertumbuhan populasi yang masif. Hasilnya adalah deretan proyek rekayasa tanah paling dramatis dalam sejarah modern, sebuah bukti nyata ketika teknologi canggih berbenturan langsung dengan hukum alam. Yuk, simak lima mega proyek paling gila yang membuktikan bahwa di tangan China, peta dunia bisa diubah sesuai keinginan!

1. Proyek meratakan 700 gunung di Lanzhou

potret Lanzhou (unsplash.com/Mick Haupt)

Proyek di Lanzhou, Provinsi Gansu, merupakan salah satu upaya pengubahan bentang alam paling ekstrem dalam sejarah modern Tiongkok. Untuk mengatasi kelangkaan lahan di lembah kota asal yang sempit, pemerintah bersama pengembang memotong dan meratakan puncak dari sekitar 700 bukit kapur demi menciptakan area perkotaan baru seluas ratusan kilometer persegi di pinggir gurun.

Dilansir laman The Guardian, secara teknis proyek ini dijalankan dengan pengerahan ribuan unit buldoser, armada alat berat, dan ledakan dinamit terencana yang dilakukan dalam waktu singkat. Eksekusi ini memindahkan jutaan meter kubik tanah dan batuan untuk mengisi lembah-lembah serta meratakan daratan tinggi, membuktikan kemampuan rekayasa konstruksi skala raksasa yang mengubah peta geografi dalam waktu relatif singkat.

2. Hechi Jinchengjiang, bandara di atas puncak bukit

ilustrasi Hechi Jinchengjiang (unsplash.com/Hat Trick)

Bandara ini merupakan proyek rekayasa yang sangat unik dibangun di atas bukit  pada ketinggian 677 meter di atas permukaan laut. Untuk membangun bandara senilai 850 juta yuan, dilansir laman People’s Daily Online, puluhan puncak bukit diratakan sehingga landasan pacunya terlihat seperti kapal induk raksasa yang mengapung di tengah pegunungan.

Bandara ini memiliki landasan pacu sepanjang 2,2 kilometer dan tercatat sebagai salah satu landasan tersempit di dunia. Karena letaknya ekstrem dan lahannya yang terbatas, kapasitas operasional bandara ini sangat ketat, di mana lokasinya hanya dapat melayani maksimum tiga penerbangan penumpang dalam waktu satu jam. Meskipun tantangan geografisnya tinggi, Bandara Hechi berfungsi penting sebagai titik transit bagi rute penerbangan yang menghubungkan Chongqing dan Haikou di Provinsi Hainan.

3. Rekayasa reklamasi great wall of sand

ilustrasi great wall of sand (unsplash.com/Richard Multimedia)

China melakukan proyek reklamasi lahan secara masif di Kepulauan Spratly dengan cara mengeruk pasir dan melapisinya menggunakan semen di atas terumbu karang hidup. Dilansir laman The Guardian, proyek Great Wall of Sand ini berhasil menciptakan daratan buatan seluas lebih dari 4 kilometer persegi dalam waktu singkat untuk memperkuat maritim dan klaim wilayah.

Langkah agresif ini juga memicu perdebatan bagi negara-negara tetangga seperti Filipina dan Amerika Serikat. Pulau buatan tersebut dilengkapi dengan fasilitas seperti bangunan, dermaga, dan landasan pacu yang dapat dimanfaatkan untuk menyokong kekuatan militer China.

4. Rekayasa sabuk hijau tembok hijau besar

ilustrasi Great Green Wall China (unsplash.com/Victor He)

Para ilmuwan China beralih memanfaatkan bambu untuk memperkuat proyek penahan gurun raksasa yaitu Great Green Wall di wilayah utara China yang kering. Setelah bertahun-tahun mengandalkan sekat jerami dan plastik, bambu dipilih sebagai alternatif terbarukan karena pertumbuhannya yang sangat cepat, kuat, fleksibel, serta ramah lingkungan.

Penggunaan bambu ditujukan untuk mengatasi kelemahan metode lama, seperti sekat jerami yang rentan lapuk dalam 2-3 tahun dan bahan plastik yang meninggalkan limbah sulit terurai. Dilansir laman South China Morning Post, penahan pasir dari olahan bambu memiliki ketahanan berkisar antara 3-10 tahun sekaligus memangkas total biaya operasional penahan pasir hingga lebih dari 20 persen.

5. Rekayasa jalur kereta dan konstruksi lahan beku Tibet

ilustrasi proyek jalur kereta Tibet (unsplash.com/6-A04-W96-K38-S41-V38)

Proyek jalur kereta api Qinghai-Tibet salah satu contoh nyata dan ekstrem dari rekayasa lahan di China. Hal tergila dari proyek ini adalah jalur kereta yang melintasi dataran tinggi ekstrem dengan ketinggian lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut. Jalur ini berhasil mengatasi tantangan iklim dan geografis yang sangat berat melalui inovasi teknologi canggih seperti sistem pendingin pasif untuk menjaga stabilitas daratan.

Proyek kereta api senilai miliaran dolar ini bertujuan untuk mempercepat integrasi ekonomi dan politik Tibet dengan daratan utama Tiongkok. Keberadaan jalur ini secara signifikan memangkas waktu serta biaya pengiriman komoditas, serta membuka peluang investasi perdagangan yang pesat di kawasan yang sebelumnya sangat terisolasi.

Dari meratakan ratusan puncak gunung di Lanzhou, membendung gurun dengan benteng bambu, membangun bandara di atas awan, hingga menaklukkan tanah beku abadi Tibet, China telah membuktikan bahwa batas-batas geografis bukanlah penghalang bagi ambisi pembangunan mereka. Mega proyek ini bukan sekadar pencapaian infrastruktur teknis yang spektakuler, melainkan simbol tekad manusia dalam menundukkan alam demi melayani dorongan urbanisasi, konektivitas, dan pertumbuhan ekonomi masif.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article