“Memahami bagaimana parasit berubah secara genetik sangat penting agar kita bisa memastikan obat yang digunakan saat ini efektif. Sekaligus menjadi landasan untuk mengembangkan terapi baru di masa depan,” ujar puji.
Resistensi Malaria Mengintai, Efektivitas Obat Nyaris Batas Kritis

- BRIN memantau perubahan genetik Plasmodium falciparum karena resistensi obat dapat membuat parasit bertahan meski pasien telah menerima terapi standar.
- Efektivitas terapi lini pertama DHP turun dari 100 persen menjadi 90,3 persen pada uji 2026, nyaris ambang kritis WHO 90 persen.
- Peneliti menemukan indikasi berkurangnya respons terhadap piperakuin, sementara riset target obat baru seperti apikoplas terus dilakukan untuk mendukung eliminasi malaria 2030.
Perubahan genetik pada parasit penyebab malaria (Plasmodium falciparum) terus terjadi dari waktu ke waktu dan berpotensi memengaruhi efektivitas pengobatan antimalaria. Untuk itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara aktif melakukan kajian molekuler guna memantau perubahan genetik parasit serta mendeteksi dini munculnya resistensi terhadap obat antimalaria.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman BRIN, Puji Budi Setia Asih mengatakan, resistensi obat menjadi salah satu hambatan terbesar dalam upaya pengendalian malaria di dunia, termasuk Indonesia.
Adanya sinyal resistensi
Kemampuan parasit untuk beradaptasi secara genetik dapat membuat sebagian populasi tetap bertahan hidup meskipun telah diberikan terapi standar.
Ia menjelaskan pemantauan efektivitas obat dilakukan melalui metode Therapeutic Efficacy Study (TES), merupakan standar emas rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Metode ini tidak hanya mengevaluasi kinerja obat di tingkat populasi, tetapi juga mampu menangkap sinyal awal munculnya resistensi.
Kemanjuran obat yang menurun

Terapi kombinasi dihidroartemisinin-piperakuin (DHP) yang telah digunakan sebagai terapi lini pertama di Indonesia sejak 2010, hingga saat ini masih menunjukkan efektivitas di atas ambang batas 90 persen yang ditetapkan WHO. Namun, ia mengakui tren efektivitasnya terus menurun seiring waktu.
“Pada awal pemakaian, efektivitas DHP mencapai 100 persen. Namun, dari hasil uji efikasi berturut-turut terlihat penurunan, yaitu 93,1 perden pada 2022, 91,5 persen 2023, dan terbaru uji efikasi pada 2026 yang dilakukan bersama empat institusi (BRIN, Universitas Hasanuddin, Kementerian Kesehatan, dan WHO) efektivitasnya tercatat 90,3 persen,” papar Puji.
Ia menambahkan angka tersebut hampir menyentuh batas kritis 90 persen sehingga menjadi peringatan serius bagi pemerintah untuk segera mengevaluasi kebijakan terapi nasional.
Peneliti temukan adanya perubahan
Meskipun secara keseluruhan DHP masih tergolong efektif, tim peneliti mulai menemukan tanda-tanda perubahan pada populasi parasit yang berkaitan dengan menurunnya respons terhadap komponen piperakuin.
Hal ini terlihat dari munculnya kasus late parasitological failure (LPF), yaitu kemunculan kembali parasit dalam darah pasien pada masa pemantauan. Padahal, kadar piperakuin dalam tubuh masih tinggi.
“Ini mengindikasikan sebagian parasit sudah mulai mampu bertahan terhadap tekanan obat, khususnya piperakuin. Meski begitu, hingga kini kami belum menemukan parasit yang resisten terhadap artemisinin maupun turunannya,” Puji mengatakan.
Obat generasi terbaru

Untuk membedakan apakah kemunculan kembali parasit disebabkan infeksi baru atau kegagalan pengobatan, tim peneliti menganalisis penanda genetik seperti PfPM2 dan PfMDR1. Hasil awalnya menunjukkan sebagian besar parasit masih sensitif secara teoritis terhadap piperakuin. Namun, secara mengejutkan, di lapangan ditemukan beberapa parasit dengan karakteristik tersebut tetap mampu bertahan setelah terapi.
“Temuan ini menunjukkan mekanisme perubahan genetik yang menyebabkan resistensi parasit ternyata lebih kompleks dari yang kita perkirakan. Karena itu, penelitian mendalam masih sangat diperlukan,” imbuh Puji.
Selain memantau perubahan genetik terkait resistensi, BRIN juga meneliti target molekuler baru untuk obat antimalaria generasi mendatang. Salah satu yang menjadi perhatian utamanya adalah apikoplas, organel unik yang hanya dimiliki parasit Plasmodium dan tidak ada pada manusia. Apikoplas berperan penting dalam metabolisme parasit, sehingga sangat potensial sebagai sasaran terapi baru.
Dia mengingatkan penelitian terhadap perubahan genetik parasit malaria tidak boleh berhenti. Pemahaman mendalam tentang perubahan genetik parasit akan menjadi bekal penting untuk menjaga efektivitas terapi yang ada sekaligus mempercepat penemuan obat-obatan baru.
“Parasit akan terus mengalami perubahan genetik. Karena itu, riset harus terus berjalan agar strategi pengobatan kita selalu selangkah lebih maju dan tetap efektif dalam mendukung target eliminasi malaria di Indonesia pada 2030,” jelasnya.




![[QUIZ] Pilih Lukisan Ini, Kami Tebak Mentalmu Sekuat Baja atau Sebaliknya](https://image.idntimes.com/post/20250601/1000322455-d970b9a19a754cc9ecd9f9b6f7df74c6-21376d6b3c0ef32294f5bbfd3cbfacef.jpg)
![[QUIZ] Apakah Kucingmu Kesepian? Cari Tahu dari Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20231228/pexels-19492325-0a08b4c2ebe7bfb858f07109adee61c0-fc64a0a9b59fe661bc10ec99b606d8b1.jpg)















