Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

3 Teknologi The Hunger Games yang Mulai Terlihat di Dunia Nyata

3 min read
3 Teknologi The Hunger Games yang Mulai Terlihat di Dunia Nyata
Katniss Everdeen dan Finnick Odair dalam The Hunger Games: Catching Fire. (instagram.com/thehungergames)
  • Teknologi pengawasan audio di dunia nyata dapat merekam dan menganalisis suara melalui mikrofon serta sistem komputer, mirip fungsi Jabberjays yang memata-matai pemberontak.
  • Rekayasa genetika CRISPR-Cas9 telah digunakan untuk menyunting gen serangga demi penelitian fungsi gen dan pengendalian hama, tetapi belum menciptakan tawon seperti Tracker Jackers.
  • VR dan AR makin dikembangkan untuk menghadirkan simulasi visual interaktif dalam pendidikan serta pelatihan medis, meski belum mampu mengendalikan arena fisik seperti di film.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Siapa yang gak tahu The Hunger Games? Film yang diadaptasi dari novel karya Suzanne Collins ini menghadirkan dunia futuristik dengan berbagai teknologi canggih yang terasa jauh dari kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari sistem pengawasan, rekayasa genetika, hingga arena pertandingan yang bisa dikendalikan dengan teknologi khusus.

Menariknya, beberapa konsep tersebut ternyata punya kemiripan dengan perkembangan teknologi di dunia nyata. Bahkan, sebagian teknologinya sudah digunakan dalam berbagai bidang, meskipun belum secanggih yang digambarkan dalam film. Perkembangan sains dan teknologi pun membuat batas antara cerita fiksi dan kenyataan terasa semakin dekat.

Penasaran teknologi apa saja dari The Hunger Games yang mulai terlihat di dunia nyata? Yuk, kita kupas tuntas di bawah ini!

  1. 1. Jabberjays, teknologi pengawasan dan perekaman suara

    ilustrasi Jabberjays
    ilustrasi Jabberjays (pexels.com/Mi Carmo)

    Jabberjays merupakan burung hasil rekayasa genetika yang muncul pertama kali di The Hunger Games (2012) dan muncul secara secara lebih jelas di The Hunger Games: Catching Fire (2013). Dalam cerita, burung ini digunakan Capitol untuk merekam percakapan para pemberontak dan mengirimkan informasi kepada penguasa. Konsep tersebut ternyata memiliki kemiripan dengan teknologi pengawasan suara yang berkembang di dunia nyata.

    Menurut penelitian yang terbit dalam jurnal ACM Computing Surveys pada 2016, teknologi pengawasan audio dapat digunakan untuk menangkap dan menganalisis suara melalui perangkat mikrofon dan sistem komputer. Teknologi ini memungkinkan sistem mengenali suara atau aktivitas tertentu berdasarkan rekaman yang dikumpulkan. Meski begitu, pengawasan audio di dunia nyata menggunakan perangkat elektronik, bukan burung seperti Jabberjays dalam film.

  2. 2. Tracker Jackers, rekayasa genetika untuk mengubah karakteristik serangga

    ilustrasi Tracker Jacker
    ilustrasi Tracker Jacker (pexels.com/Skyler Ewing)

    Tracker Jackers adalah tawon hasil rekayasa genetika yang muncul dalam film pertama, The Hunger Games (2012). Katniss Everdeen dan peserta lainnya terkena serangan tawon ini saat pertandingan berlangsung. Sengatan Tracker Jackers menyebabkan rasa sakit hebat, halusinasi, hingga gangguan pada sistem saraf.

    Di dunia nyata, teknologi rekayasa genetika memang sudah memungkinkan ilmuwan mengubah materi genetik serangga. Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam Journal of Insect Physiology pada 2017, teknologi CRISPR-Cas9 telah digunakan untuk menyunting gen pada berbagai jenis serangga guna mempelajari fungsi gen dan mengembangkan metode pengendalian hama. Meski begitu, teknologi tersebut belum bisa menciptakan tawon dengan racun dan kemampuan seperti Tracker Jackers dalam film.

  3. 3. Hologram dan arena Hunger Games, teknologi simulasi digital

    ilustrasi teknologi hologram yang menciptakan mutan dalam film The Hunger Games.
    ilustrasi teknologi hologram yang menciptakan mutan dalam film The Hunger Games. (instagram.com/thehungergames)

    Arena Hunger Games dalam film digambarkan memiliki teknologi canggih yang memungkinkan Capitol mengendalikan lingkungan pertandingan dan menciptakan berbagai ancaman bagi peserta. Konsep ini memiliki kemiripan dengan teknologi simulasi digital yang berkembang di dunia nyata. Salah satunya adalah virtual reality (VR), teknologi yang memungkinkan seseorang merasakan lingkungan buatan melalui tampilan digital tiga dimensi.

    Penelitian yang terbit dalam jurnal Light: Science & Applications pada 2021 menunjukkan, teknologi VR dan augmented reality (AR) terus dikembangkan untuk menghasilkan pengalaman visual yang semakin realistis dan interaktif. Teknologi ini sudah dimanfaatkan dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan hingga pelatihan medis. Meski begitu, manusia belum memiliki teknologi yang mampu menciptakan dan mengendalikan arena fisik seperti yang ditampilkan dalam The Hunger Games.

    Teknologi dalam The Hunger Games memang masih terdengar seperti sesuatu yang mustahil, tapi beberapa konsepnya sudah mulai dikembangkan di dunia nyata. Perkembangan sains menunjukkan bahwa hal-hal yang dulu hanya ada dalam cerita fiksi perlahan bisa menjadi kenyataan. Menurutmu, teknologi mana dari The Hunger Games yang paling menarik untuk dikembangkan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More