Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengapa Gempa Dangkal Bisa Lebih Merusak?
ilustrasi tanah retak akibat gempa bumi (unsplash.com/Jens Aber)
  • Gempa dangkal bersumber kurang dari 70 kilometer, sering kali pada kedalaman 10–30 kilometer; kedalaman ini membuat guncangan permukaan bisa lebih kuat meski magnitudonya sedang.
  • Gelombang seismik dari sumber dangkal kehilangan lebih sedikit energi karena menempuh jarak pendek, sehingga dampak terkuat terkonsentrasi di wilayah dekat episentrum, termasuk kawasan kota.
  • Gempa Cianjur 2022 bermagnitudo 5,6 pada kedalaman sekitar 10 kilometer menunjukkan risikonya; kerusakan juga dipengaruhi tanah, kedekatan permukiman, dan ketahanan bangunan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika gempa terjadi, besar kecilnya magnitudo biasanya menjadi hal pertama yang diperhatikan. Padahal, ada faktor lain yang tidak kalah penting, yaitu kedalaman sumber gempa. Gempa dengan magnitudo sedang bisa menimbulkan kerusakan parah jika sumbernya berada sangat dekat dengan permukaan dan pusat aktivitas manusia.

Kondisi tersebut berkaitan dengan jarak yang harus ditempuh gelombang seismik sebelum mencapai permukaan. Semakin dekat sumber gempa dengan permukaan, semakin sedikit energi yang hilang selama perjalanan. Akibatnya, guncangan yang dirasakan di atas sumber gempa dapat menjadi sangat kuat.

1. Apa yang dimaksud dengan gempa dangkal?

Dalam seismologi, gempa dibedakan berdasarkan kedalaman hiposenternya atau titik di dalam bumi tempat gempa bermula. Gempa dangkal umumnya didefinisikan sebagai gempa yang sumbernya berada kurang dari 70 kilometer di bawah permukaan bumi.

Kendati batas tersebut cukup luas, banyak gempa yang menimbulkan kerusakan besar terjadi pada kedalaman hanya sekitar 10–30 kilometer. Sebagai perbandingan, gempa dengan kedalaman 70–300 kilometer dikategorikan sebagai gempa menengah, sedangkan gempa pada kedalaman 300–700 kilometer termasuk gempa dalam.

Artinya, gempa dengan magnitudo yang sama belum tentu memberikan dampak yang sama. Kedalaman sumbernya dapat menentukan seberapa kuat guncangan yang sampai ke permukaan.

2. Energi gempa lebih sedikit hilang di perjalanan

Salah satu alasan utama gempa dangkal bisa lebih merusak adalah fenomena yang disebut atenuasi. Sederhananya, gelombang seismik akan kehilangan sebagian energinya ketika bergerak menjauhi sumber gempa.

Bayangkan sebuah gempa terjadi pada kedalaman 200 kilometer. Gelombang seismiknya harus menempuh jarak yang sangat jauh sebelum mencapai permukaan. Selama perjalanan tersebut, energi menyebar dan intensitas guncangan berkurang.

Situasinya berbeda jika gempa terjadi hanya 10 kilometer di bawah permukaan. Energi gempa berada jauh lebih dekat dengan permukaan sehingga jarak yang harus ditempuh gelombang menjadi lebih pendek. Akibatnya, guncangan yang diterima wilayah di atasnya dapat jauh lebih kuat. Itulah sebabnya magnitudo saja tidak selalu bisa digunakan untuk memperkirakan tingkat kerusakan sebuah gempa.

3. Guncangan terkuat bisa berada sangat dekat dengan kota

ilustrasi gempa bumi (unsplash.com/Çağlar Oskay)

Gempa dangkal juga dapat menghasilkan guncangan yang sangat kuat di wilayah yang letaknya dekat dengan episentrum. Area yang mengalami guncangan paling parah mungkin tidak seluas dampak gempa dalam, tetapi intensitasnya di area tersebut bisa jauh lebih tinggi.

Misalnya, gempa berkekuatan sedang yang sumbernya hanya beberapa kilometer dari sebuah kota dapat mengguncang bangunan dengan sangat keras. Sebaliknya, gempa yang lebih besar tetapi terjadi jauh di dalam bumi bisa dirasakan oleh masyarakat di wilayah yang lebih luas tanpa selalu menimbulkan kerusakan separah itu.

Jadi, ada perbedaan antara seberapa luas gempa terasa dan seberapa kuat guncangan di suatu lokasi. Gempa dalam bisa terasa sangat jauh, sedangkan gempa dangkal berpotensi memberikan guncangan yang lebih kuat di sekitar sumbernya.

4. Gempa Cianjur 2022 jadi salah satu contohnya

Gempa Cianjur yang terjadi di Jawa Barat pada 21 November 2022 dapat menjadi gambaran bagaimana gempa dangkal mampu menyebabkan kerusakan besar. Gempa tersebut memiliki magnitudo 5,6 dengan kedalaman sekitar 10 kilometer. Sumber gempa yang relatif dangkal dan lokasinya dekat dengan wilayah permukiman membuat guncangan terasa kuat di daerah terdampak.

Kerusakan kemudian diperparah oleh kondisi bangunan yang rentan terhadap guncangan. Banyak rumah dan bangunan tidak dirancang untuk menghadapi getaran horizontal yang kuat sehingga lebih mudah mengalami kerusakan ketika gempa terjadi. Contoh ini menunjukkan bahwa gempa dengan magnitudo yang tidak terlalu besar tetap bisa menjadi bencana serius ketika sumbernya dangkal dan berada dekat dengan kawasan padat penduduk.

5. Kondisi tanah juga bisa memperparah dampaknya

Kedalaman bukan satu-satunya faktor yang menentukan tingkat kerusakan. Kondisi tanah di lokasi yang terdampak juga berperan besar.

Tanah yang lunak dan mengandung banyak air dapat memperkuat guncangan gempa dalam kondisi tertentu. Pada tanah yang lepas dan jenuh air, guncangan bahkan dapat memicu likuifaksi, yaitu kondisi ketika tanah kehilangan sebagian kekuatannya dan berperilaku seperti material cair.

Sebaliknya, batuan dasar yang lebih keras umumnya memberikan respons yang berbeda terhadap gelombang seismik. Karena itu, dua daerah yang berjarak tidak terlalu jauh dari sumber gempa bisa mengalami tingkat kerusakan yang berbeda. Faktor seperti jenis tanah, jarak dari sumber gempa, kualitas bangunan, hingga kondisi geologi setempat semuanya perlu diperhitungkan.

6. Magnitudo tetap menjadi faktor penting

ilustrasi tanah retak akibat gempa bumi (pexels.com/Samiran)

Meski gempa dangkal cenderung lebih berbahaya bagi wilayah di dekat sumbernya, bukan berarti setiap gempa dangkal pasti merusak. Magnitudo tetap memiliki peran besar.

Gempa dangkal bermagnitudo 3, misalnya, umumnya tidak menghasilkan energi sebesar gempa bermagnitudo 7. Gempa bermagnitudo besar yang terjadi sangat dangkal dan dekat dengan kawasan padat penduduk dapat menghasilkan kerusakan yang luar biasa. Skenario yang paling berisiko adalah ketika gempa berkekuatan besar terjadi pada kedalaman dangkal, dekat dengan permukiman, di wilayah dengan tanah yang dapat memperkuat guncangan, serta memiliki banyak bangunan yang tidak tahan gempa.

Singkatnya, gempa dangkal lebih berpotensi merusak karena sumber energinya berada dekat dengan permukaan. Gelombang seismik tidak perlu menempuh jarak yang terlalu jauh sehingga lebih sedikit energi yang hilang sebelum mencapai bangunan dan manusia.

Referensi

Al-Jazeera. Diakses pada September 2026. Why do Shallow Earthquakes Cause More Destruction than Deep Ones?
ITV. Diakses pada September 2026. What is a Shallow Earthquake and Why are They so Dangerous?
Phys.org. Diakses pada September 2026. How Shallow, Deep Earthquakes Differ
Smithsonian Magazine. Diakses pada September 2026. Seven Factors That Contribute to the Destructiveness of an Earthquake
The Conversation. Diakses pada September 2026. Why are Shallow Earthquakes More Destructive? The Disaster in Java is a Devastating Example

Curated For You

Editorial Team

Related Article