Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengapa Tidak Semua Plastik Bisa Didaur Ulang?
ilustrasi plastik (pixabay.com/EKM-Mittelsachsen)
  • Perbedaan jenis plastik, terutama antara termoplastik dan termoset, membuat tidak semua plastik bisa dilelehkan ulang dan didaur ulang secara konvensional.
  • Proses pemilahan yang rumit serta rendahnya nilai ekonomi beberapa jenis plastik menyebabkan hanya sebagian kecil yang benar-benar diproses di fasilitas daur ulang.
  • Kontaminasi, biaya tinggi, dan keterbatasan infrastruktur memperparah rendahnya tingkat daur ulang global, sehingga solusi utama adalah mengurangi penggunaan plastik sejak awal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Plastik sering dianggap sebagai bahan yang bisa didaur ulang sehingga lebih ramah lingkungan. Banyak orang berpikir bahwa selama plastik dimasukkan ke tempat sampah daur ulang, maka plastik tersebut akan diproses kembali menjadi produk baru. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. 

Tidak semua plastik dapat didaur ulang dengan mudah. Perbedaan komposisi kimia, kesulitan proses pemilahan, hingga faktor ekonomi membuat sebagian besar plastik justru tidak pernah masuk ke proses daur ulang. Inilah alasan mengapa hanya sebagian kecil sampah plastik di dunia yang benar-benar berhasil diproses kembali. Yuk, kita bahas lebih dalam mengapa tidak semua plastik bisa didaur ulang!

1. Jenis plastik yang berbeda

Salah satu alasan utama mengapa tidak semua plastik bisa didaur ulang adalah karena jenisnya sangat beragam. Secara umum, plastik dibagi menjadi dua kategori besar, yaitu termoplastik dan termoset.

Termoplastik merupakan jenis plastik yang dapat dilelehkan kembali saat dipanaskan dan dibentuk ulang menjadi produk baru. Jenis ini mencakup plastik yang cukup familiar, seperti PET yang biasanya digunakan pada botol minuman. Plastik jenis ini menyumbang sekitar 75 persen dari total produksi plastik di dunia dan secara teori bisa didaur ulang beberapa kali.

Sebaliknya, plastik termoset memiliki sifat yang berbeda. Plastik ini akan mengeras secara permanen ketika dipanaskan dan tidak dapat dilelehkan kembali. Karena sifatnya tersebut, plastik termoset hampir tidak mungkin didaur ulang dengan metode konvensional. Jenis plastik ini sering ditemukan pada bahan isolasi listrik, pipa tertentu, dan komponen industri.

2. Tantangan dalam proses pemilahan

Masalah lain yang membuat plastik sulit didaur ulang adalah proses pemilahan. Secara teknis terdapat lebih dari tujuh kode identifikasi resin pada plastik, yang biasanya ditandai dengan angka di dalam simbol segitiga.

Namun, dalam praktiknya, fasilitas daur ulang biasanya hanya memproses plastik nomor 1 (PET) dan 2 (HDPE) karena keduanya memiliki permintaan pasar yang lebih tinggi. Plastik dengan nomor 3 hingga 7, seperti PVC atau polistirena, sering dianggap kurang ekonomis untuk didaur ulang karena nilai jualnya rendah.

Selain itu, beberapa produk plastik juga dibuat dari lapisan bahan yang berbeda. Contohnya adalah gelas kopi sekali pakai atau kemasan makanan multilayer yang menggabungkan plastik dengan bahan lain. Struktur berlapis ini sangat sulit dipisahkan, sehingga proses daur ulang menjadi lebih rumit.

3. Masalah kontaminasi

Ilustrasi kantong plastik. (pexels.com/Anna Shvets)

Kontaminasi juga menjadi kendala besar dalam proses daur ulang plastik. Plastik yang tercampur dengan sisa makanan, label kertas, atau bahan lain sering kali tidak dapat diproses.

Membersihkan plastik yang terkontaminasi membutuhkan proses tambahan, seperti pencucian dan penyortiran ulang. Proses ini membutuhkan biaya dan energi yang tidak sedikit. Akibatnya, banyak plastik yang sebenarnya bisa didaur ulang justru berakhir di tempat pembuangan akhir atau dibakar.

Bahkan ketika plastik berhasil didaur ulang, kualitasnya biasanya akan menurun. Fenomena ini dikenal sebagai downcycling, yaitu proses ketika plastik bekas hanya dapat diubah menjadi produk dengan kualitas yang lebih rendah dibandingkan bahan aslinya.

4. Faktor ekonomi

Alasan lain yang sering luput dari perhatian adalah faktor ekonomi. Produksi plastik baru dari bahan baku minyak bumi sering kali lebih murah dibandingkan menggunakan plastik daur ulang.

Proses daur ulang membutuhkan tahapan yang panjang, mulai dari pengumpulan, pemilahan, pencucian, hingga pemrosesan ulang. Semua tahapan tersebut memerlukan energi, tenaga kerja, dan teknologi yang tidak murah. Karena alasan inilah, secara global hanya sekitar 9–10 persen sampah plastik yang benar-benar berhasil didaur ulang.

5. Keterbatasan infrastruktur

Tidak semua daerah memiliki fasilitas daur ulang yang memadai. Banyak wilayah hanya memiliki teknologi pemilahan sederhana yang mampu memproses plastik tertentu saja, seperti botol minuman.

Produk plastik yang lebih kompleks, misalnya komponen elektronik atau bagian kendaraan, membutuhkan proses pembongkaran yang lebih rumit sebelum bisa didaur ulang. Selain itu, beberapa plastik juga mengandung bahan tambahan, seperti serat kaca yang dapat menurunkan kualitas hasil daur ulang.

Melihat berbagai tantangan tersebut, maka solusi terbaik bukan hanya meningkatkan daur ulang, tetapi juga mengurangi penggunaan plastik sejak awal. Mendesain produk yang lebih mudah didaur ulang serta menggunakan satu jenis plastik saja dapat membantu meningkatkan keberhasilan proses daur ulang.

Referensi

Deutsche Welle. Diakses pada April 2026. Why Most Plastic Can’t Be Recycled
Frederick County Government. Diakses pada April 2026. Why Can't All Plastics Be Recycled?!
Mornington Environment Association Inc. Diakses pada April 2026. Why Can Some Plastics Be Recycled but Others Can't?
rePurpose. Diakses pada April 2026. Why is Most Plastic Not Recycled?
The Impact. Diakses pada April 2026. Why Is Plastic So Hard To Recycle? (And How We Can Combat Plastic Waste)

Editorial Team