5 Ciri-ciri Reptil Peliharaan Sakit, Salah Satunya Mogok Makan

- Mogok makan adalah ciri pertama reptil sakit
- Gerakannya melambat dan kurang aktif
- Tidak responsif saat dirangsang
Peliharaan tidak terbatas pada burung, ikan, kucing, atau anjing. Dewasa ini, mulai banyak orang yang melirik reptil sebagai peliharaan. Reptil yang dipelihara juga beragam, mulai dari kadal, kura-kura, bahkan ular. Sama seperti peliharaan lain, reptil juga bisa sakit. Penyakit bisa datang dari banyak hal, seperti kandang kotor, suhu kurang optimal, dan makanan tak bergizi.
Ada beberapa ciri-ciri reptil peliharaan sakit, seperti nafsu makan berkurang, perubahan ciri fisik, sampai gerakan melambat. Jika semua hal tersebut terjadi, kamu harus memberikan penanganan agar penyakit tidak menular dan menjadi semakin parah. Bagaimana cara mengatasi reptil sakit dan apa saja ciri-cirinya? Penjelasannya di bawah ini!
1. Mogok makan dalam waktu lama

Ciri pertama dari reptil sakit adalah mogok makan atau berkurangnya nafsu makan secara signifikan. Dilansir Reptiles Magazine, mogok dan penurunan nafsu makan bisa menjadi gejala awal dari beberapa penyakit, seperti infeksi hingga kerusakan ginjal. Jika dibiarkan, reptil bisa mengalami anoreksia, kekurangan gizi, sampai menyebabkan kematian. kamu bisa menyuapi reptil peliharaan secara perhalan atau membawanya ke dokter hewan jika tidak ada peningkatan nafsu makan akan yang signifikan.
2. Gerakannya melambat dan kurang aktif

Laman RSPCA menerangkan kalau reptil yang menjadi kurang aktif merupakan ciri-ciri sakit. Hal tersebut bisa dipicu oleh hipotermia atau melemahnya tubuh reptil. Pencegahan bisa dilakukan dengan mengatur suhu kandang, memberikan makanan bergizi, dan selalu bersihkan kandang secara rutin. Namun, tak selamanya ketidakaktivan merupakan ciri-ciri sakit. Sebab, ada beberapa reptil yang melakukan brumasi atau hibernasi, yaitu kegiatan tidur dalam waktu yang lama untuk menghadapi musim dingin.
3. Tidak responsif saat dirangsang

Gejala ini mirip dengan melambatnya gerakan. Bedanya, reptil menjadi tidak responsif saat dirangsang dengan berbagai hal, entah itu cahaya, getaran, gerakan, hingga sentuhan. Hal ini menjadi berbahaya karena reptil adalah hewan yang selalu waspada. Ketika ada rangsangan sekecil apapun ia akan siap siaga, memperhatikan lingkungan sekitar, hingga kabur. Jika reptil menjadi tidak responsif, ada beberapa hal yang melatarbelakanginya, seperti kekurangan gizi, suhu yang tidak sesuai, atau terjangkit penyakit berbahaya.
4. Terdapat perubahan fisik

Perubahan fisik pada reptil menandakan penyakit, infeksi virus, hingga infeksi bakteri. Perubahan fisik juga mencakup banyak hal, seperti masalah saat ganti kulit, sisik mengelupas, muncul benjolan, perubahan warna, hingga adanya pembusukan. Abses menjadi salah satu masalah utama pada fisik reptil. Dilansir PetMD, abses adalah tonjolan di tubuh reptil yang diakibatkan oleh infeksi. Dysecdysis juga berbahaya karena bisa berpengaruh pada siklus pergantian kulit dan merusak tubuh reptil dalam skala yang masif.
5. Reptil mengeluarkan cairan

Sebenarnya, cairan yang keluar dari tubuh reptil tak selamanya merupakan ciri-ciri penyakit. Dalam hal ini, penyakit dicirikan dari adanya cairan yang aneh, seperti keluar cairan berbau menyengat atau adanya cairan yang keluar dari bagian tubuh yang tidak seharusnya. Dilansir berbagai sumber, hal tersebut bisa disebabkan oleh infeksi cacing atau parasit. Biasanya, infeksi tersebut berpengaruh terhadap sistem pencernaan hingga pernafasan. Sayangnya, ciri satu ini agak sulit dideteksi. Padahal, jika dibiarkan bisa menyebabkan kematian.
Sebagai pemilik yang bijak, kamu harus memahami semua ciri-ciri reptil peliharaan sakit. Selain itu, selalu cegah penyakit dengan cara memberikan kandang, makanan, dan lingkungan hidup terbaik bagi reptil peliharaan. Jika terlanjur sakit, kamu bisa melakukan upaya untuk menyembuhkan reptil. Salah satunya adalah memberikan pengobatan atau membawa reptil peliharaan ke dokter hewan.


















