Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Marlon Vera Bicara Mimpi Besarnya di UFC hingga Pentingnya Bela Diri

Marlon Vera Bicara Mimpi Besarnya di UFC hingga Pentingnya Bela Diri
Petarung UFC, Marlon Vera. (Dok. UFC).
Intinya Sih
  • Marlon Vera kalah tipis dari David Martinez di UFC Fight Night 1 Maret 2026, meski sempat menunjukkan perlawanan sengit hingga duel ditentukan lewat poin juri.
  • Vera mengenang perjalanan kariernya yang dimulai dari mimpi masa kecil menjadi petarung profesional dan tekad kuat menekuni dunia MMA hingga mencatat rekor 23-12-1.
  • Ia tetap berambisi merebut gelar juara dunia kelas bantam serta menegaskan pentingnya bela diri sebagai sarana membentuk disiplin dan karakter positif bagi generasi muda.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Petarung Ekuador, Marlon Vera, menelan hasil pahit di UFC Fight Night pada Minggu (1/3/2026). Vera kalah dari David Martinez, dengan perhitungan tipis 28-29.

Vera memang berada di bawah tekanan, khususnya di ronde pertama. Dia sempat dijatuhkan Martinez, setelah tendangannya tertangkap, dan menerima beberapa pukulan keras di atas kanvas sebelum ronde pertama tuntas.

Ronde kedua kembali berjalan alot. Vera belum mampu mendominasi Martinez, namun momentum menang terbuka lebar pada ronde ketiga. Apesnya, saat Martinez mengendur, Vera gagal memberikan hantaman yang berarti hingga duel ditentukan berdasarkan poin dari juri.

Terlepas dari hasil yang kurang memuaskan, Vera membagikan kisah perjalanan kariernya yang penuh liku dan inspiratif. Doa bicara blak-blakan soal mimpi masa kecil, responsnya terhadap kegagalan, hingga pandangannya tentang pentingnya bela diri bagi anak muda.

1. Tumbuh dengan mimpi menjadi petarung

-
Petarung UFC, Marlon Vera. (Dok. UFC).

Bagi Vera, menjadi petarung profesional bukanlah sebuah kebetulan, melainkan impian yang sudah terpatri kuat sejak masih belia. Dia tumbuh besar dengan rutin menonton tayangan UFC dan selalu membayangkannya berada di dalam oktagon megah tersebut.

Tekad bulat itulah yang membuatnya berani mencurahkan seluruh fokus dan hidupnya untuk menekuni dunia Mixed Martial Arts (MMA). Kerja kerasnya kini membuahkan hasil, dengan rekor 23-12-1 di kelas bantam.

"Sejak kecil, mimpi saya adalah menjadi petarung. Saya tumbuh dengan menonton UFC dan selalu ingin melakukan ini. Jadi saya benar-benar fokus dan total menekuninya," kenang Vera dalam wawancara eksklusif bersama IDN Times.

2. Masih berupaya bangkit dari kegagalan meraih gelar

-
Petarung UFC, Marlon Vera. (Dok. UFC).

Vera mengakui pertarungan perebutan sabuk juara pada Desember 2025 lalu adalah momen terbesar sekaligus paling berkesan dalam kariernya sejauh ini. Namun, dia tak menampik adanya rasa kecewa yang mendalam karena gagal membawa pulang sabuk emas yang diimpikannya.

Petarung yang akrab disapa Chito tumbang dari Sean O'Malley usai berduel ketat selama lima ronde. Kegagalan Vera meruntuhkan O'Malley membuat pertarungan ditentukan dengan perhitungan poin.

"Saya merasa sudah menjalani banyak pertarungan bagus dan besar. Tapi saya rasa pertarungan terbesar saya adalah saat menantang gelar juara dunia. Itu yang paling penting dalam karier saya sejauh ini," ujar petarung asal Ekuador tersebut.

3. Mimpi besar di UFC: jadi raja kelas bantam

-
Petarung UFC, Marlon Vera. (Dok. UFC).

Meski menganggap hasil itu sebagai kegagalan besar, Vera menolak untuk menyerah pada keadaan dan terus menempa diri. Dia sangat yakin kerja keras dan konsistensi di gym pada akhirnya akan membawanya kembali mendapatkan kesempatan menjadi raja di kelas bantam.

"Sejujurnya, menjadi juara dunia adalah mimpi terbesar saya. Tentu saja itu terasa seperti kegagalan besar. Tapi, jika saya terus bekerja keras dan melakukan hal yang benar, pada akhirnya saya akan kembali mendapatkan kesempatan itu.," ungkap Vera.

4. Bela diri ajarkan disiplin, bukan kekerasan

-
Ilustrasi sarung tinju. (Pexels/Maria Isabelle Warren).

Vera juga menanggapi soal pandangan olahraga tarung yang masih dianggap tabu oleh sebagian orang tua di Indonesia. Terkait hal ini, Vera memiliki perspektif berbeda yang positif.

Menurutnya, bela diri adalah sarana ampuh untuk membentuk karakter anak menjadi lebih disiplin dan pekerja keras. Ia menyarankan para orang tua untuk mulai mengenalkan kelas bela diri kepada anak-anak mereka sejak dini demi masa depan yang positif.

"Saya merasa dengan menghadirkan kelas bela diri untuk anak-anak dan memahami bahwa bela diri bisa mengarahkan hidup seseorang menjadi lebih disiplin dan pekerja keras, perlahan-lahan para orang tua akan mulai menyukainya. Terutama karena bela diri bisa menjauhkan anak-anak dari masalah atau hal-hal negatif," ujar Vera.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Satria Permana
EditorSatria Permana
Follow Us

Latest in Sport

See More