Deretan pencapaian bersama KTM tidak lantas membuat Pedro Acosta puas. Performa kurang oke RC16 menyebabkan Acosta kesulitan bersaing dalam perebutan titel juara. Kondisi ini mendorong Acosta mencari opsi tim lain yang mampu memberinya motor dengan spesifikasi mumpuni.
Pilihan Acosta pada akhirnya jatuh kepada Ducati. Pabrikan asal Italia itu telah menjadi tolok ukur di kejuaraan selama beberapa musim terakhir. Performa mengesankan Desmosedici GP di lintasan berbuah gelar juara pembalap, tim, dan konstruktor.
Ducati merengkuh titel juara konstruktor sebanyak enam kali beruntun sejak 2020. Mereka juga meraih titel juara tim sejak 2021 lewat Ducati Lenovo Team pada 2021, 2022, 2024, dan 2025 serta Pramac Racing pada 2023. Pembalap Ducati juga menyabet gelar juara dalam 4 musim terakhir.
Francesco Bagnaia menjadi juara dua kali beruntun pada 2022 dan 2023. Kemudian, Jorge Martin meraih titel prestisius tersebut pada 2024. Marc Marquez kembali merasakan manisnya titel juara pada 2025 saat menjalani musim perdana di tim pabrikan Ducati. Mengacu dari prestasi cemerlang tersebut, tidak mengherankan apabila Acosta memilih meninggalkan KTM demi bisa bergabung dengan Ducati yang punya paket motor menjanjikan.
"Memang begitulah kenyataannya. Sejak menandatangani kontrak dengan KTM, satu-satunya yang aku inginkan adalah motor yang bisa membawaku meraih gelar juara. Motor ini (RC16) jelas belum bisa mewujudkannya. Sejujurnya, aku tidak punya waktu lagi untuk terbuang sia-sia," kata Pedro Acosta saat dalam wawancara dengan Crash pada pekan balap GP Jerman.