Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Panjat Tebing Dihapus dari SEA Games 2027, Indonesia Rugi Besar

2 min read
Panjat Tebing Dihapus dari SEA Games 2027, Indonesia Rugi Besar
Wakil speed putra Indonesia, Veddriq Leonardo, menjalani babak kualifikasi di Asian Games 2026 (dok.⁠⁠NOC Indonesia/Tetuko Mediantoro)
  • SEAGF mencoret panjat tebing dari 43 cabang olahraga SEA Games 2027 di Malaysia.

  • Keputusan ini mengurangi peluang medali Indonesia sekaligus menghilangkan panggung penting bagi atlet muda.

  • FPTI perlu mencari kompetisi alternatif agar pembinaan dan prestasi panjat tebing Indonesia tetap berlanjut.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kabar kurang sedap datang dari penyelenggaraan SEA Games 2027 di Malaysia mendatang. Komite Eksekutif Federasi Pesta Olahraga Asia Tenggara (SEAGF) resmi mencoret cabang olahraga (cabor) panjat tebing.

Panjat tebing tidak masuk dalam 43 daftar cabor yang akan dipertandingkan. Keputusan ini tentu menjadi pukulan telak bagi Tim Indonesia yang selalu mendulang medali emas dari cabang tersebut. Artinya, potensi lumbung emas Indonesia terpangkas signifikan.

  1. 1. Kehilangan lumbung emas andalan

    Desak Made Rita Kusuma Dewi meraih medali emas di Asian Games 2026 Aichi-Nagoya (dok.NOC Indonesia/Naif Muhammad Al as)
    Desak Made Rita Kusuma Dewi meraih medali emas di Asian Games 2026 Aichi-Nagoya (dok.NOC Indonesia/Naif Muhammad Al as)

    Sejarah mencatat panjat tebing selalu menjadi tambang emas yang subur bagi Indonesia di multiajang paling bergengsi di Asia Tenggara tersebut. Pada edisi 2011 di Palembang-Jakarta, Indonesia sukses menyapu bersih sembilan dari 10 medali emas yang diperebutkan.

    Kedigdayaan tersebut terulang di SEA Games 2025 Bangkok, Thailand. Kala itu, Indonesia meraup empat emas dan tiga perak dari enam nomor.

    "Ini bukan soal untung rugi bagi panjat tebing, yang pasti perolehan medali Indonesia akan berkurang tanpa cabor panjat tebing di Seagames 2027," kata Sekretaris Umum PP FPTI, Wahyu Pristiawan Buntoro.

  2. 2. Matikan panggung tempaan atlet muda

    Alma Ariella Tsany di babak kualifikasi Lead Putri di World Climbing series Wujiang 2026.
    Alma Ariella Tsany di babak kualifikasi Lead Putri di World Climbing series Wujiang 2026. (Dok. FPTI)

    Kerugian yang dialami Indonesia ternyata tidak sebatas hilangnya pundi-pundi medali semata. Bagi FPTI, SEA Games sebenarnya merupakan panggung yang krusial untuk menggembleng mental para atlet usia muda.

    Sebagai contoh, empat peraih emas SEA Games 2025 lalu seluruhnya masih berstatus atlet junior (U-17 dan U-19), seperti Ardana Cikal dan Alma Ariella. Hilangnya ajang ini berarti Indonesia kehilangan satu fase penting untuk menempa regenerasi atlet menuju panggung yang lebih besar seperti Asian Games dan Olimpiade.

  3. 3. Tren prestasi dunia terancam terhambat

    Veddriq Leonardo meraih emas di World Climbing Series Chamonix (dok. World Climbig/Jan Virt)
    Veddriq Leonardo meraih emas di World Climbing Series Chamonix (dok. World Climbig/Jan Virt)

    Coretan ini terasa ironis mengingat panjat tebing Indonesia saat ini sedang diperhitungkan dunia lewat prestasinya yang mengilap. Di nomor speed, Veddriq Leonardo meraih medali emas di Olimpiade Paris 2024 dan Desak Made Rita di Asian Games 2026.

    Bahkan, nomor lead yang selama ini dikuasai negara raksasa juga mulai menunjukkan taji lewat keberhasilan Putra Tri Ramadani di World Climbing Series 2026. Prestasi-prestasi dunia tersebut sejatinya lahir dari proses latihan keras dan kompetisi berjenjang yang kini justru terputus akibat kebijakan SEAGF.

    Kini, FPTI harus memutar otak mencari kompetisi alternatif berkualitas di dalam maupun luar negeri sebagai pengganti SEA Games. Langkah ini wajib dilakukan agar pembinaan atlet muda tidak terhenti dan tradisi emas di Olimpiade dapat terus terjaga.

Related Articles

See More