Budi Setiawan, Dari Football Institute ke Futsal Indonesia

- Budi Setiawan resmi ditunjuk sebagai Sekjen Asosiasi Futsal Indonesia (AFI) dengan misi menjaga momentum prestasi futsal nasional dan memperkuat transformasi organisasi dari FFI menjadi AFI.
- Tanggung jawab utamanya mencakup pembinaan berkelanjutan, menjembatani hubungan antara pengurus PSSI dan AFI daerah, serta memastikan sinergi kelembagaan agar program futsal berjalan efektif hingga 2028.
- Budi menyoroti pentingnya komunikasi dengan stakeholder pemerintah dan swasta untuk mendukung pendanaan, fasilitas berstandar internasional, serta menarik lebih banyak investor ke industri futsal Indonesia.
Jakarta, IDN Times - Mencoba bidang baru merrupakan hal lazim dalam hidup. Hal itulah yang dilakukan oleh Budi Setiawan. Dari Football Institute, kini dia memilih terjun ke dunia futsal Indonesia.
Beberapa waktu lalu, Asosiasi Futsal Indonesia (AFI) resmi menunjuk Budi sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) yang baru. Nah, IDN Times berkesempatan untuk berbincang dengannya terkait tanggung jawab baru ini.
Sekarang sudah resmi menjadi Sekjen AFI, bagaimana perasaan Anda dengan amanah baru ini?

Perasaannya kaget bercampur bangga. Bangga karena dipercaya menjadi Sekjen futsal Indonesia di saat tim nasional futsal sedang naik daun dan euforianya tinggi.
Namun di satu sisi, ini juga menjadi tanggung jawab yang tidak ringan karena ekspektasinya besar. Kami harus menjaga momentum, dan isu utamanya adalah keberlanjutan. Keberlanjutan sejarah prestasi, keberlanjutan pembinaan, termasuk juga tugas utama untuk membawa transformasi FFI menjadi AFI yang lebih kuat secara organisasi.
Anda dikenal sebagai founder Football Institute, apa yang membuat Anda akhirnya mencoba masuk ke futsal?

Pertama, menjadi Sekjen AFI ini bukan karena saya mengincar jabatan tersebut. Saya diajak berbicara beberapa pihak yang meminta saya untuk duduk di posisi ini.
Artinya, ini bisa dibilang sebagai sebuah penugasan untuk menjaga momentum prestasi futsal, memastikan pembinaan berjalan berkelanjutan, dan membantu transformasi organisasi dari FFI menjadi Asosiasi Futsal Indonesia. Banyak hal yang harus dikerjakan.
Tujuannya agar futsal bukan sekadar momentum sesaat, tetapi benar-benar menjadi salah satu pilihan olahraga bagi para atlet. Sekarang posisi futsal semakin prestisius dan menjanjikan. Nah, momentum ini harus dijaga, sekaligus memberikan masa depan bagi atlet-atlet futsal bahwa olahraga ini bisa menjadi profesi, pekerjaan, dan juga kebanggaan bagi negara.
Sebelumnya, apakah Anda pernah mengikuti atau mendalami futsal Indonesia?

Kalau mendalami olahraganya, pernah. Sekitar 10 tahun lalu kami cukup aktif bermain futsal, walaupun sebatas hobi dan olahraga.
Kalau mengikuti organisasinya, mulai sejak di BSI. Dulu, pada 2014 saat FFI terbentuk, saya berada di BSI sebagai Direktur Anggota yang membantu proses lahirnya FFI. Namun saat itu kami hanya membantu mengantarkan pembentukannya saja dan tidak berkecimpung langsung di organisasinya.
Kalau mengikuti perkembangan futsal dan organisasinya secara serius, mungkin baru dalam beberapa waktu terakhir ini. Ketika melihat prestasinya naik sangat cepat, saya merasa kagum.
Saya jadi penasaran, sebenarnya apa rahasia futsal Indonesia bisa mencapai prestasi sebesar ini dalam waktu relatif singkat. Namun ternyata ketika duduk sebagai Sekjen, tanggung jawab yang diberikan memang besar.
Apa saja tanggung jawab yang diberikan kepada Anda sebagai Sekjen AFI?

Secara eksplisit, ketika saya berbicara dengan Michael dan juga pihak PSSI, ada beberapa misi utama. Pertama, menjaga momentum. Jangan sampai momentum futsal ini hilang.
Kedua, memperhatikan pendidikan dan pembinaan. Organisasi futsal harus dibangun dengan baik karena secara kelembagaan, asosiasi futsal merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari PSSI. Demikian juga PSSI merupakan bagian dari FIFA, dan futsal sendiri adalah bagian dari FIFA.
Nah, ini yang mungkin belum banyak dipahami orang. Secara kelembagaan masih sering terjadi ketidaksepahaman, khususnya di daerah, antara pengurus PSSI provinsi dengan pengurus futsal daerah. Kadang masih terjadi tumpang tindih terkait kewenangan masing-masing pihak.
Ini menjadi tugas kami untuk menjembatani hubungan antara PSSI provinsi dan pengurus AFI daerah agar tidak terjadi benturan secara kelembagaan maupun organisasi. Dengan begitu, pengurus futsal daerah bisa lebih percaya diri menjalankan program-program pembinaan.
Masa kepengurusan ini sampai 2028, apa target yang ingin dicapai?

Kami akan mencoba semaksimal mungkin. Pembinaan organisasi sebenarnya sangat mungkin dilakukan dalam waktu dua tahun dan itu bukan hal yang sulit.
Kuncinya adalah rutin berdialog dengan semua pemilik suara, seluruh pengurus daerah, terutama klub-klub. Kami harus lebih sering turun langsung.
Memang secara anggaran kami belum tentu bisa selalu mengundang mereka ke Jakarta, tetapi ada banyak metode lain. Bisa saya yang turun ke daerah, atau mengadakan pertemuan melalui Zoom. Itu hanya soal teknis.
Yang penting, kami harus konsisten berdialog untuk memahami kebutuhan mereka, kepentingan mereka, serta kesulitan yang mereka hadapi. Ke depan, sekretariat Asosiasi Futsal Indonesia harus lebih aktif berdiskusi dengan para anggotanya.
Apa tantangan paling krusial menurut Anda?

Hal yang paling krusial, saya juga diminta membangun komunikasi dan hubungan yang baik dengan seluruh institusi, baik swasta maupun pemerintah.
Bagaimanapun juga, olahraga dan industri ini ditopang oleh banyak stakeholder, salah satunya pemerintah. Dan pemerintah itu bukan hanya Kemenpora, tetapi juga kementerian lain serta pemerintah daerah.
Ini mungkin menjadi tugas yang cukup berat, yaitu membuka komunikasi dengan seluruh stakeholder pemerintah maupun swasta untuk meyakinkan mereka agar bisa ikut berkontribusi secara lebih besar dan berkelanjutan terhadap industri futsal ke depan.
Berarti salah satu isu penting adalah pendanaan dan fasilitas?

Betul. Persoalannya bukan karena lapangan futsal tidak ada, tetapi venue yang memenuhi standar internasional masih minim.
Ke depan, kami perlu membuat database dan tabulasi venue atau GOR di Indonesia yang sudah memenuhi standar internasional. Ini juga berkaitan dengan rencana bidding Piala Dunia Futsal 2028 seperti yang disampaikan Ketua Umum PSSI.
Kami perlu mengetahui venue mana saja yang layak untuk diajukan.
Adaptasi apa yang akan dilakukan untuk mengembangkan futsal Indonesia?

Adaptasi yang paling jelas adalah harus sering berkomunikasi dengan seluruh stakeholder futsal, baik pengurus daerah, klub profesional, maupun klub amatir.
Saat ini jumlah klub profesional baru 12 klub. Itu sebenarnya masih sangat minim. Namun dengan jumlah tersebut saja, tim nasional kita sudah mampu meraih prestasi yang bergengsi.
Harapannya, kondisi ini bisa memancing para pengusaha atau investor di bidang olahraga untuk ikut berkecimpung di dunia futsal. Karena sekarang ada market baru, olahraga baru, yang bukan hanya berprestasi tetapi juga sedang hype di Indonesia.
Termasuk juga menjalin komunikasi dengan para pemangku kepentingan lain, pengusaha, maupun perusahaan-perusahaan yang memang sudah bergerak di industri futsal.






















