Cara Brasil Menang Comeback atas Jepang di Piala Dunia 2026

- Brasil menang comeback 2-1 atas Jepang di 32 besar Piala Dunia 2026 setelah tertinggal lebih dulu lewat gol Kaishu Sano pada babak pertama.
- Perubahan taktik Carlo Ancelotti di babak kedua, dengan memanfaatkan lebar lapangan dan crossing, membuat Casemiro menyamakan kedudukan untuk Brasil.
- Gol kemenangan dicetak Gabriel Martinelli di masa tambahan waktu setelah menerima umpan Bruno Guimaraes, memastikan langkah Brasil ke babak berikutnya secara dramatis.
Brasil terhindar dari kekalahan memalukan pada 32 besar Piala Dunia 2026. Marquinhos dan kolega berhasil melewati adangan Jepang dengan susah payah. Bertarung di Houston Stadium, Amerika Serikat, pada Senin (29/6/2026), Tim Samba menang 2-1 secara comeback. Gol penentunya bahkan tercipta pada menit-menit terakhir. Perubahan taktik yang dilakukan Carlo Ancelotti pada awal babak kedua membuat mereka meraih hasil berharga ini.
1. Kengototan menyerang dari tengah yang malah berujung blunder
Brasil memulai pertandingan dengan cepat. Mereka sudah mencatatkan tembakan ketika laga baru berjalan 2 menit. Sayangnya, percobaan Bruno Guimaraes diblok Shogo Taniguchi. Dua menit berselang, sebuah umpan panjang dari Lucas Paqueta kepada Vinicius Junior memaksa Zion Suzuki keluar dari gawangnya dan melakukan tinjuan. Peluang emas pertama Brasil datang pada menit 14. Guimaraes menerima through pass dari Casemiro. Guimaraes lantas memberikan bola kepada Matheus Cunha. Cunha melewati Tanighuchi dan melepaskan tendangan datar dari luar kotak penalti menggunakan kaki kirinya. Namun, Brasil lagi-lagi cuma mendapat sepak pojok akibat tepisan dari Suzuki.
Ada pola yang sama dari tiga kesempatan tersebut. Brasil menciptakannya dari tengah. Meski memiliki Vinicius dan Rayan di sayap, Brasil menyadari potensi memperoleh gol dari wilayah itu minim mengingat Jepang yang bermain dengan skema lima bek dan para pemainnya yang tidak kalah cepatnya. Ironisnya, kengototan untuk menembus pertahanan Jepang dari area sentral malah menyebabkan Brasil kebobolan pada menit 29. Umpan Danilo kepada Cunha yang berdiri di dalam lingkaran kick-off diintersep Kaishu Sano. Sano kemudian menggiring bola sampai depan kotak penalti dan meluncurkan eksekusi yang sempat mengenai kaki Gabriel Magalhaes sebelum masuk ke gawang Alisson Becker.
2. Memaksimalkan lebar lapangan pada babak kedua
Carlo Ancelotti langsung melakukan pergantian pada awal babak kedua. Juru taktik asal Italia itu menarik keluar Lucas Paqueta dan memasukkan Endrick. Ketiadaan Paqueta membuat Brasil tidak memiliki playmaker. Namun, setelah pertandingan dimulai kembali, terlihat jelas mereka memang tidak lagi membutuhkan gelandang kidal itu. Brasil kini meluncurkan serangan via lebar lapangan. Mereka juga lebih direct dengan banyaknya dribbling serta crossing yang terjadi. Taktik tersebut hampir saja membuahkan hasil instan. Umpan dari Danilo ditanduk Bruno Guimaraes pada menit 51. Sayangnya, bola mengarah tepat kepada Zion Suzuki.
Dua menit kemudian, Rayang mengirim crossing ke tiang jauh. Douglas Santos lantas mengembalikan bola ke tengah dengan kepalanya. Casemiro menyundulnya. Nahas, si kulit bundar membentur wajah Takehiro Tomiyasu tepat di garis gawang. Skema serupa akhirnya membuat Brasil berhasil menyamakan kedudukan pada menit 56. Vinicius Junior memungut second ball di sisi kiri yang berasal dari crossing Rayan dari kanan. Vinicius kemudian memberikan bola kepada Gabriel Magalhaes yang ada di area half space. Setelah sekali kontrol, Gabriel melepaskan crossing ke tiang jauh dan berhasil ditanduk Casemiro yang lepas dari offside.
3. Gol kemenangan Gabriel Martinelli yang memainkan peran tidak biasa
Sepuluh menit usai gol penyama kedudukan dari Casemiro, Carlo Ancelotti melakukan pergantian keduanya. Ia memainkan Gabriel Martinelli. Menariknya, penggawa yang ditarik keluar bukan Vinicius Junior maupun Rayan, melainkan Matheus Cunha. Brasil pun kini memiliki tiga winger. Namun, Ancelotti memasukkan Martinelli memang bukan untuk mengisi pos Vinicius atau Rayan. Ia menginstruksikannya untuk beroperasi di area half space atau zona antara 14 dan 17. Pada akhirnya, gol kemenangan mereka berasal dari Martinelli dan tercipta di wilayah tersebut.
Semua berawal dari manuver Rayan di sisi kiri kotak penalti. Ia kemudian memberikan umpan pendek kepada Bruno Guimaraes yang ada di dalam kotak D. Guimaraes terlihat siap melepaskan tendangan yang sampai membuat Kaishu Sano menjulurkan kakinya untuk mengeblok. Namun, ia ternyata menyodorkan bola kepada Martinelli yang berdiri di antara Takehiro Tomiyasu dan Yukinari Sugawara. Martinelli lantas menuntaskan peluang dengan placing. Gol ini tercipta pada menit kelima dari total tambahan waktu selama 6 menit.
Perubahan taktik yang tepat membuat Brasil menang comeback 2-1 atas Jepang secara dramatis pada 32 besar Piala Dunia 2026. Hasil ini membuat mereka menjaga asa untuk meraih trofi kompetisi ini yang yang ketujuh. Namun, apakah penampilan versus Jepang tersebut merupakan bukti mental juara atau justru sinyal ketidaklayakan Brasil?
















