Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Fakta Brasil di Piala Dunia 1982 yang Bermain Indah Tak Berujung Juara

Fakta Brasil di Piala Dunia 1982 yang Bermain Indah Tak Berujung Juara
ilustrasi pertandingan sepak bola (unsplash.com/Marcel Strauss)
Intinya Sih
  • Tele Santana membawa revolusi permainan Brasil dengan filosofi 'menanglah tapi lakukan dengan indah', menciptakan gaya bebas dan atraktif yang menonjolkan improvisasi serta kreativitas pemain.
  • Skuat Brasil 1982 diperkuat kuartet gelandang legendaris Zico, Socrates, Falcao, dan Toninho Cerezo yang dikenal karena teknik tinggi, visi tajam, serta kemampuan mengatur ritme permainan secara harmonis.
  • Kekalahan 3-2 dari Italia di laga penentuan menjadi tragedi bersejarah yang mengubah filosofi sepak bola Brasil menuju pendekatan lebih pragmatis, meski warisan Joga Bonito tetap dikenang dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

"Aku tidak ingin mengingat pertandingan itu lagi," kata legenda sepak bola Brasil, Socrates, saat diwawancarai BBC pada Januari 2011. Apa kiranya yang diingat gelandang brilian berjuluk The Doctor tersebut? Tentu saja kekalahan 3-2 Timnas Brasil dari Timnas Italia pada laga terakhir fase grup kedua Piala Dunia 1982.

Tim asuhan Tele Santana saat itu gagal melaju lebih jauh di Spanyol. Namun, banyak pihak menyebut, Brasil 1982 adalah contoh paling murni dari semangat Joga Bonito alias bermain indah yang menjadi jargon sejak 2 dekade sebelumnya. Pada masa itu, Brasil memang tengah mengejutkan dunia setelah meraih dua trofi Piala Dunia pada 1958 dan 1962.

BBC sendiri punya sebutan yang cukup dramatis untuk kekalahan Brasil dari Italia di Piala Dunia 1982. Mereka menyebutnya sebagai "hari saat sepak bola indah mati". Lantas, kenapa Brasil begitu dicintai sekaligus ditangisi? Ini alasannya:

1. Hasil dari revolusi yang dibawa Tele Santana ke Timnas Brasil

Brasil mencoba gaya bermain Eropa yang mengandalkan ketahanan fisik, terutama dalam duel perebutan bola, di Piala Dunia 1974 dan 1978. Hasilnya kurang memuaskan. Langkah mereka selalu terhenti pada semifinal. Alhasil, publik Brasil mulai merindukan identitas mereka. Tele Santana pun direkrut sebagai kepala pelatih pada Februari 1980.

Tele Santana kenyang pengalaman melatih berbagai tim papan atas Brasil, mulai dari Fluminense, Atletico Mineiro, Sao Paulo, Botafogo, Gremio, hingga Palmeiras. Saat dipercaya menangani Timnas Brasil, pesannya tidak muluk-muluk. Ia datang dengan sederhana: menanglah, tetapi lakukan dengan indah.

Santana membebaskan pemainnya untuk berimprovisasi. Ia tidak menyukai taktik yang kaku atau pemain yang hanya tahu cara bertahan. Hasilnya adalah formasi 4-2-2-2 yang sangat cair. Bek sayap menyerang dan gelandang bertukar posisi dengan bebas. Hasilnya? Mereka lolos ke putaran final Piala Dunia 1982 sebagai juara grup pada fase Kualifikasi Zona Amerika Selatan, menyapu bersih empat laga dengan kemenangan.

2. Diperkuat barisan gelandang kreatif dengan reputasi menakutkan

Dilansir The Guardian, skuad Brasil 1982 memiliki kuartet lini tengah yang bagi sebagian orang tampak sebagai salah satu yang paling kreatif sepanjang masa. Mereka adalah Zico, Socrates, Falcao, dan Toninho Cerezo. Semuanya memiliki keunggulan dan saling melengkapi.

Zico adalah dirigen utama dan pencetak gol ulung. Visi dan tendangan bebasnya adalah yang terbaik di dunia kala itu. Kemudian, ada Socrates, kapten tim dengan profesi sebagai dokter medis, dikenal dengan umpan tumit (backheel) presisi dan pandangan politik progresif sebagai penentang rezim junta militer Brasil.

Ada pula Falcao, jenderal lapangan tengah yang saat itu bermain di AS Roma. Ia menjadi penghubung antara pertahanan dan penyerangan dengan kecerdasan taktis luar biasa. Di sampingnya, turut Toninho Cerezo, pemain dengan julukan "paru-paru tim" sebab selalu berlari menutup lubang yang ditinggalkan rekan-rekannya ketika asyik menyerang.

Di lini depan, ada dua nama yang diandalkan Tele Santana. Serginho sang striker, yang sering dikritik karena dianggap tidak selevel dengan rekan-rekannya. Tandemnya, Eder, adalah pemain sayap dengan tendangan kaki kiri maut.

3. Menyajikan permainan atraktif nan indah sejak fase grup pertama

Brasil menyapu bersih fase grup pertama dengan kemenangan. Mereka menekuk Uni Soviet (2-1), Skotlandia (4-1), dan Selandia Baru (4-0). Pada fase grup kedua (format grup berisi tiga tim), mereka menghancurkan juara bertahan, Argentina, dengan skor 3-1 dalam laga yang diwarnai kartu merah untuk Maradona.

Hampir semua gol Brasil pada fase grup pertama Piala Dunia 1982 tercipta melalui proses yang rumit dan indah. Tendangan jarak jauh Eder yang melengkung indah ke gawang Uni Soviet jadi salah satu momen paling diingat penonton. Turut pula kerja sama Selecao yang berhasil membuat pertahanan Skotlandia kelabakan.

Tiap gol yang dilahirkan Brasil saat itu bukan sekadar bola masuk ke gawang. Semuanya lahir dari proses kreatif yang melibatkan teknik tinggi, seperti dari gocekan atraktif hingga umpan tumit yang tak terduga. Dengan penampilan memukau, CNN menyebut Brasil dijagokan bisa melaju jauh hingga final. Namun, hasil akhir partai penutup fase grup kedua sangat mengejutkan publik.

4. Kalah secara menyakitkan dari Italia pada laga terakhir fase grup kedua

Laga melawan Italia pada 5 Juli 1982 di Estadio Sarria, Barcelona, bertindak sebagai penentu lolos tidaknya Socrates dan kawan-kawan ke semifinal. Brasil sebenarnya hanya butuh hasil imbang untuk lolos dengan status sebagai juara grup. Namun, filosofi menyerang khas Tele Santana melarang timnya bermain untuk hasil imbang.

Italia membuka keunggulan lebih dulu lewat sundulan Paolo Rossi pada menit ke-5 sebelum disamakan tendangan sudut sempit Socrates yang memanfaatkan kerja sama apik dengan Zico. Rossi kembali membawa Italia memimpin 2-1 sebelum jeda setelah berhasil memotong umpan ceroboh Cerezo dan menaklukkan kiper, Waldir Peres, untuk kedua kalinya. Setelah masa turun minum, Brasil sempat memupuk harapan lewat tendangan keras Falcao yang merobek jala gawang Dino Zoff sekaligus membuat kiper legendaris tersebut murka kepada para bek.

Dengan skor 2-2, Brasil idealnya memilih fokus bertahan dan menurunkan tempo permainan. Namun, mereka justru terus menyerang. Hal ini dimanfaatkan Paolo Rossi untuk mencetak gol ketiga untuk Italia pada menit ke-74. Bola sapuan tak sempurna bek Brasil dalam situasi sepak pojok dikirim Francesco Graziani kepada Rossi yang berdiri bebas. Dengan mudah, striker Juventus tersebut menjebol gawang Brasil untuk ketiga kalinya.

Brasil sudah berusaha mengejar pada sisa waktu. Namun, tembakan Oscar pada pengujung waktu normal bisa dimentahkan Dino Zoff. Saat peluit tanda berakhirnya pertandingan ditiup wasit, Abraham Klein, asal Israel, skor 3-2 untuk kemenangan Italia tak berubah. Brasil dengan permainan cantiknya justru pulang lebih cepat.

5. Memberi dampak besar kepada cara berpikir para pelatih sepak bola di Brasil

Banyak orang melihat hasil pertandingan itu bukan sekadar kekalahan untuk anak asuh Tele Santana. Ini jadi momen takluknya filosofi bermain indah di tangan Italia yang bermain lebih terorganisasi. Dilansir BBC, media-media di Brasil menjuluki pertandingan tersebut sebagai Tragedi Sarria.

Hasil akhir duel tersebut memberi dampak sangat mendalam bagi sepak bola Brasil. Bahkan, sampai mengubah filosofi mereka secara mendasar. Menurut Zico dalam sebuah artikel di Dawn pada 2012, kekalahan dari Italia langsung mengubah cara berpikir para pelatih sepak bola di Brasil.

Hal ini memicu lahirnya perspektif baru yang melenceng jauh dari Joga Bonito, yakni sebuah gaya main yang lebih mementingkan hasil akhir. Kemenangan bisa dicapai dengan kekuatan fisik, pertahanan rapat, dan mengandalkan serangan balik. Gaya baru ini justru memiliki kemiripan dengan cara bermain yang digunakan Gli Azzuri saat menekuk Brasil di Piala Dunia 1982.

Kendati demikian, skuad Brasil 1982 tetap menjadi standar permainan sepak bola yang atraktif hingga sekarang. Pep Guardiola, pelatih Manchester City, bahkan kerap menyebut Brasil 1982 sebagai salah satu inspirasinya membangun tim yang dominan dan menghibur. Socrates dan kawan-kawan memang kalah di papan skor, tetapi abadi di hati para pencinta sepak bola dunia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Gagah N. Putra
EditorGagah N. Putra
Follow Us

Latest in Sport

See More