Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Ronaldo di Final Piala Dunia 1998, Bikin Panik Timnas Brasil!
ilustrasi pertandingan sepak bola (unsplash.com/Souza Sergio)
  • Menjelang final Piala Dunia 1998, Ronaldo mengalami kejang hebat di hotel yang membuat Timnas Brasil panik dan sempat mencoret namanya dari daftar pemain.
  • Setelah dinyatakan sehat oleh dokter, Ronaldo memaksa kembali bermain meski kondisi mentalnya belum stabil, memicu perpecahan di dalam skuad Brasil.
  • Ronaldo tampil di bawah performa akibat efek obat penenang, Brasil kalah 0-3 dari Prancis, dan muncul teori konspirasi soal tekanan sponsor Nike.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Final Piala Dunia 1998 Prancis seharusnya menjadi panggung pembuktian Ronaldo Nazario. Namun, beberapa jam sebelum kick-off melawan tuan rumah, Prancis, sebuah drama mengguncang Timnas Brasil. Nama Ronaldo tiba-tiba menghilang dari daftar susunan pemain yang dirilis kepada media, memicu kepanikan bahkan perpecahan dalam tim.

1. Timnas Brasil panik sebab Ronaldo mengalami kejang di kamar hotelnya setelah makan siang

Drama bermula di hotel tim beberapa jam setelah makan siang, sebelum pertandingan final yang berlangsung pada 12 Juli 1998. Ronaldo mendadak kejang di dalam kamar dan sempat tidak sadarkan diri. Teman sekamarnya, Roberto Carlos, langsung meminta pertolongan dokter tim, Lidio Toledo. Insiden ini membuat seluruh pemain dan staf Timnas Brasil panik.

"Ronaldo ketakutan dengan apa yang akan dihadapinya. Tekanan yang begitu besar akhirnya meruntuhkan mentalnya dan dia tidak bisa berhenti menangis. Kondisinya justru makin memburuk karena sekitar pukul 4 sore, dia mulai muntah-muntah. Saat itulah aku langsung menelepon dokter tim dan menyuruhnya datang ke kamar kami secepat mungkin," cerita Roberto Carlos dalam wawancara dengan BBC pada 2002.

2. Nama Ronaldo sempat dicoret dari daftar susunan pemain, membuat gempar para jurnalis

Pelatih Brasil saat itu, Mario Zagallo, mencoret nama Ronaldo demi keselamatan sang pemain. Pihaknya merilis susunan pemain kepada media dengan memasukkan nama Edmundo sebagai striker pendamping Bebeto. Keputusan mendadak tersebut ternyata menimbulkan kegemparan di Stade de France, tempat final diadakan.

The Guardian melaporkan, susunan pemain yang diterima pada pukul 8 malam, sejam sebelum pertandingan, membuat awak media gempar. Para jurnalis di tribun mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, alasan yang beredar hanya tentang Ronaldo absen akibat cedera pergelangan kaki saat semifinal melawan Belanda 5 hari sebelumnya.

3. Mendapat surat izin dari dokter, Ronaldo ngotot meminta kembali ke tim utama

Setelah sadar, Ronaldo dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan. Namun, hasil tes menyatakan tidak ada kelainan. Penyerang yang saat itu masih berusia 23 tahun tersebut pun ngotot meminta tim dokter agar mengizinkannya bertanding. Sekitar 40 menit sebelum kick-off pukul 9 malam, Ronaldo tiba di Stade de France membawa surat izin dokter. Ia meminta Zagallo memasukkan kembali namanya ke susunan tim utama.

FourFourTwo membeberkan, Ronaldo kejang akibat depresi berat menjelang final. Karena mental sang pemain ambruk, koordinator teknis Timnas Brasil, Zico, sempat menolak memainkan Ronaldo demi menghindari risiko. Situasi ini memicu keretakan internal. Skuad Brasil pecah menjadi dua kubu: kelompok Dunga yang mendesak Ronaldo tetap merumput dan kelompok Leonardo yang menuntut Ronaldo tidak dimainkan.

4. Penampilan The Phenomenon tidak seagresif biasanya karena dikantongi bek-bek Prancis

Meski akhirnya bermain sejak menit awal, Ronaldo malam itu bukan The Phenomenon yang ditakuti lawan. Ia terlihat pucat, lambat, dan bermain tanpa determinasi. Dilansir Rediff, ini lantaran efek obat penenang yang dikonsumsinya setelah mengalami kejang. Alhasil, lini pertahanan Prancis yang dipimpin Marcel Desailly dengan mudah mematikan pergerakan Ronaldo.

Dilansir The Athletic, meski bermain selama 90 menit, Ronaldo hanya menyentuh bola sebanyak 20 kali. Ia sama sekali tak berkutik lantaran bek-bek Prancis langsung mengepung bahkan sebelum bola mencapai kakinya. Brasil takluk dengan skor telak 0-3, dengan 2 gol lahir dari sundulan Zinedine Zidane dan 1 gol Emmanuel Petit yang tercipta dari skema serangan balik.

5. Teori konspirasi menyeruak, termasuk dugaan intervensi dari pihak sponsor Timnas Brasil

Misteri ini melahirkan berbagai teori konspirasi, salah satunya intervensi dari Nike selaku sponsor utama Timnas Brasil. Dari laporan Bleacher Report, muncul rumor mereka memaksa Ronaldo dimainkan demi kepentingan komersial dan hak siar. Investigasi sempat dilakukan pemerintah Brasil beberapa tahun kemudian, tetapi hasilnya sama: keinginan bermain murni datang dari Ronaldo sendiri. Ini tidak ada hubungannya dengan Nike.

Karier Ronaldo terlihat makin suram setelah mengalami cedera lutut parah pada April 1999. Melalui dua operasi dan absen selama 2 tahun, ia baru pulih jelang Piala Dunia 2002 Korea Selatan-Jepang. Di Yokohama, pada 30 Juni 2002, ia menebus kegagalan 4 tahun sebelumnya dengan membawa Brasil meraih gelar juara Piala Dunia kelima.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article