Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Nasib Koulibaly di Starting Lineup Senegal Jelang Fase Gugur

Nasib Koulibaly di Starting Lineup Senegal Jelang Fase Gugur
ilustrasi pertandingan (unsplash.com/sheriffmagdy)
Intinya Sih
  • Kalidou Koulibaly disorot usai tiga blundernya membuat Senegal kalah 2-3 dari Norwegia, meski sebelumnya tampil solid saat menghadapi Prancis di laga pembuka Piala Dunia 2026.
  • Pape Thiaw mencadangkan Koulibaly dan menurunkan Abdoulaye Seck saat melawan Irak; hasilnya menang 5-0, namun performa defensif Seck tetap belum meyakinkan.
  • Menjelang duel kontra Belgia, Thiaw dihadapkan pada keputusan besar: mengembalikan Koulibaly yang berpengalaman tapi baru pulih cedera, atau memberi kepercayaan pada bek muda seperti Mamadou Sarr.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Senegal bakal melakoni babak 32 besar Piala Dunia 2026 menghadapi Belgia di Seattle Stadium, Amerika Serikat, pada 1 Juli 2026. Salah satu pertanyaan yang pasti meramaikan pertarungan ini adalah nasib sang bintang di lini belakang, Kalidou Koulibaly. Publik sangat menantikan apakah bek tengah setinggi 1,86 meter yang kini berusia 35 tahun tersebut dimainkan sebagai starter atau tidak.

Sebab, Koulibaly memang dicadangkan saat tim membantai Irak 5-0 pada laga terakhir fase grup. Sang pelatih, Pape Thiaw, mengambil keputusan itu murni karena performa. Kemenangan telak dengan catatan nirbobol mengindikasikan mereka baik-baik saja tanpa pemimpinnya. Namun, pertandingan fase gugur dengan lawan sekelas Belgia jelas merupakan tantangan yang berbeda.

1. Tiga blunder Kalidou Koulibaly menyebabkan kekalahan 2-3 Senegal atas Norwegia

Kalidou Koulibaly tampil cukup apik meski kalah 1-3 dari Prancis pada pertandingan pertama di Piala Dunia 2026. Ia adalah pemain Senegal dengan jumlah aksi bertahan terbanyak (10). Dari lima duel darat yang dilakukannya, penggawa yang memakai nomor 3 itu cuma kalah sekali. Namun, performanya sangat bertolak belakang ketika menjalani laga kedua melawan Norwegia. Senegal menyerah 2-3 dan Koulibaly menjadi penyebab semua gol yang masuk ke gawang Edouard Mendy.

Marcus Pedersen mencetak gol pertama Norwegia usai memaksimalkan bola liar yang berasal dari kegagalan Koulibaly menyapu umpan terobosan Martin Odegaard dengan sempurna. Koulibaly kemudian melakukan kesalahan yang sama yang menghasilkan gol kedua yang dibuat Erling Haaland. Kali ini, ia melakukan tackle untuk memotong through pass dari Odegaard, tetapi kakinya justru sama sekali tidak mengenai bola.

Senegal berhasil memangkas ketertinggalan lewat Ismaila Sarr tidak lama setelah gol Haaland. Nahas, cuma berselang 5 menit, Koulibaly lagi-lagi memberikan hadiah untuk Norwegia. Pemain yang kini bernaung di Al-Hilal itu tampak bakal menetralisasi kemelut dengan menguasai bola. Ironisnya, kontrolnya buruk. Bola jauh dari jangkauannya dan direbut Patrick Berg yang kemudian berakhir dengan gol kedua Haaland.

2. Abdoulaye Seck juga bukan solusi yang menenangkan

Pape Thiaw mengganti Kalidou Koulibaly dengan Pape Matar Sarr pada menit 72 dalam laga melawan Norwegia. Senegal hanya mampu memperkecil kekalahan lewat gol kedua Ismaila Sarr pada menit 90+3. Setelah pertandingan, Koulibaly mengakui secara terbuka hasil buruk ini menjadi tanggung jawabnya. Dilansir ESPN, ia menyatakan telah "menyakiti tim".

Jelang pertandingan fase grup terakhir kontra Irak, Koulibaly kemudian mengungkap dirinya menyerahkan keputusan kepada Thiaw apakah akan memainkannya atau tidak. Pada akhirnya, Thiaw memasang Abdoulaye Seck untuk menemani Moussa Niakhate. Senegal menang telak 5-0. Seck berperan dalam gol pertama. Bola masuk ke gawang usai sundulannya mengenai Habib Diarra.

Namun, penampilan defensif Seck sebetulnya kurang memuaskan. Ia mendapat kartu kuning akibat pelanggaran ceroboh kepada Ali Al-Hamadi pada menit 18. Pria 34 tahun ini kemudian digantikan Pathe Ciss pada menit 58. Seperti tergambar dari skor, Irak tidak membuat ancaman apa pun. Terlebih, mereka bermain dengan sepuluh orang mulai menit 13 karena kartu merah Rebin Sulaka.

3. Keputusan besar menanti Pape Thiaw

Dengan performa Kalidou Koulibaly saat melawan Norwegia dan Abdoulaye Seck kala berhadapan dengan Irak, keputusan besar pun menanti Pape Thiaw jelang laga kontra Belgia. Ia sebetulnya memiliki dua bek tengah lain. Namun, pasangan tersebut sama-sama pemain muda. Antoine Mendy baru 22 tahun dan mengoleksi 7 caps, sedangkan Mamadou Sarr berumur 20 tahun dengan 8 caps. Mendy bahkan lebih sering dimanfaatkan sebagai bek kanan.

Jika berkaca ketika bertarung melawan Maroko pada final Piala Afrika 2025 silam, Thiaw sebetulnya bisa memilih Sarr. Kala itu, Koulibaly tidak bisa bermain akibat akumulasi kartu kuning. Sarr menjadi penggantinya. Aset milik Chelsea dengan tinggi 1,94 meter itu tampil solid selama 120 menit dan baru mendapat kartu kuning pada menit 113. Mereka menang 1-0, tapi gelar juara akhirnya dicabut akibat insiden walk-out.

Nah, penampilan horor Koulibaly ketika bersua Norwegia sendiri tidak dapat dilepaskan dari kondisi fisiknya. Selain sudah 35 tahun, pria yang sebetulnya lahir di Prancis pada 20 Juni 1991 ini baru saja pulih dari cedera. Kondisi tersebut membuatnya absen membela Al-Hilal periode April—Mei 2026. Sebelum Piala Dunia 2026, Koulibaly bahkan cuma beraksi selama 8 menit saat imbang 0-0 dengan Arab Saudi dalam pertandingan pemanasan terakhir.

Thiaw “menghukum” Koulibaly dengan mencadangkannya pada laga melawan Irak. Mereka menang 5-0 dan mengamankan tiket 32 besar Piala Dunia 2026. Kini, keputusan tersebut bisa saja malah berbuah manis. Koulibaly mendapat waktu lebih untuk beristirahat sekaligus evaluasi.

Di antara semua opsi, Koulibaly sejatinya masih merupakan yang paling ideal untuk mengawal lini belakang Senegal. Lantas, akankah ia kembali ke starting lineup saat menghadapi Belgia atau kepercayaan Thiaw kepadanya sudah sepenuhnya sirna?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika

Related Articles

See More