Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kejutan Bodo/Glimt di UCL 2025/2026 Bukan Keberuntungan

Kejutan Bodo/Glimt di UCL 2025/2026 Bukan Keberuntungan
ilustrasi pertandingan UCL (pixabay.com/Pexels)
Intinya Sih
  • Bodo/Glimt, klub asal Bodo di utara Norwegia, mencuri perhatian setelah menyingkirkan Inter Milan dan melaju ke 16 besar Liga Champions 2025/2026 pada musim debutnya.
  • Perjalanan panjang klub ini ditandai sejarah sejak 1916, sempat tiga kali degradasi, lalu bangkit dengan empat gelar Liga Norwegia antara 2020 hingga 2024.
  • Kebangkitan Glimt dipicu kombinasi pelatih mental Bjorn Mannsverk dan taktik atraktif Kjetil Knutsen yang membuat tim tampil fleksibel serta berani menghadapi raksasa Eropa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Fotballklubben Bodo/Glimt, sebuah tim asal Bodo yang terletak di utara Norwegia dengan populasi 53.725 orang menurut City Population per 2025, tengah menjadi perbincangan berkat penampilannya di Liga Champions Eropa (UCL) 2025/2026. Mereka berhasil melaju ke 16 besar setelah menyingkirkan finalis musim lalu, Inter Milan, pada fase play-off dengan agregat 5-2. Itu termasuk kemenangan tandang 2-1 di Giuseppe Meazza yang masih menyisakan 22.092 kursi kosong andai semua warga Bodo hadir tanpa terkecuali. Kelolosan ini makin mengagumkan jika menengok perjalanan mereka pada fase liga.

Berstatus debutan, Glimt tampaknya hanya sekadar menjadi pelengkap kompetisi dengan 3 kekalahan dan 2 keimbangan dalam 5 laga pertama. Namun, mereka bangkit pada tiga partai terakhir. Glimt menahan Borussia Dortmund 2-2 dan menang 2-1 atas Atletico Madrid secara comeback saat bermain tandang serta memulangkan Manchester City dari Aspmyra Stadion dengan skor 3-1. Meski begitu, menyimpulkan prestasi Glimt di UCL 2025/2026 sebagai sebuah kebetulan atau keberuntungan boleh dikategorikan penghinaan. Sebab, ada proses panjang, serius, serta unik yang mereka lewati hingga bisa mencuri perhatian begitu besar seperti sekarang.

1. Bodo/Glimt merupakan salah satu klub bersejarah di Norwegia

FK Bodo/Glimt mungkin asing di level Eropa. Namun, mereka punya sejarah panjang di kancah domestik. Klub sudah eksis sejak 16 September 1916. Nama mereka awalnya tidak dilengkapi nama kotanya. Manajemen menggantinya menjadi Bodo-Glimt pada 1948 karena ada tim lain di Norwegia yang juga bernama Glimt. Seiring waktu pada 1980-an, mereka mengubah tanda hubung menjadi pagar miring. Ini dilakukan karena kerap terjadi kebingungan di publik yang mengira mereka adalah dua tim berbeda.

Dari sisi prestasi, Glimt total mengoleksi 15 trofi per 2025. Mereka merupakan kampiun Liga Norwegia pada 2020, 2021, 2023, dan 2024. Sebelumnya, Glimt memenangkan Piala Norwegia pada 1975 dan 1993. Sementara, sembilan gelar juara pertama terjadi di Liga Norwegia Utara pada 1930, 1933, 1934, 1939, 1952, 1963, 1964, 1967 and 1969. Sebagai catatan, Federasi Sepak Bola Norwegia memang melarang klub-klub dari utara untuk ikut serta di liga domestik utama sebelum 1972 karena kualitasnya yang dinilai sangat buruk.

2. Sebelum 2018, Bodo/Glimt mengalami 3 kali degradasi

Larangan klub dari utara berpartisipasi di Liga Norwegia memang dicabut pada 1972. Namun, Bodo/Glimt baru bisa mencicipi kompetisi teratas pada 1993. Glimt mampu menjadi runner-up pada musim debutnya dan mengulanginya 10 tahun kemudian. Nahas, setelah 13 edisi beruntun, Glimt mengalami degradasi pada 2006.

Glimt promosi 2 tahun kemudian, tetapi turun kasta lagi pada 2010. Mereka bertahan di liga kedua selama 4 musim berturut-turut. Salah satu penyebabnya adalah krisis finansial yang melanda. Glimt lantas bangkit pada 2014. Sayangnya, mereka kembali mengalami kemunduran pada 2017. Namun, Glimt langsung naik kasta pada tahun berikutnya dan bertahan sampai sekarang.

3. Bodo/Glimt juga tampil apik di dua kompetisi antarklub Eropa lain sebelum Liga Champions 2025/2026

Sebelum mengalahkan Inter Milan, Atletico Madrid, dan Manchester City di Liga Champions 2025/2026, Bodo/Glimt sebetulnya juga membuat kejutan di Liga Europa 2024/2025. Mereka berhasil melaju sampai semifinal dengan menaklukkan FC Porto dan Lazio dalam perjalanannya. Glimt gugur akibat kalah dari Tottenham Hotspur yang keluar sebagai juara.

Pada 2021/2022, Glimt lebih dulu mencicipi Liga Konferensi Eropa. Mereka terhenti pada perempat final usai kalah dari AS Roma yang juga menjadi pemenang kompetisi. Glimt sebetulnya menang 2-1 pada leg pertama, tetapi menyerah 0-4 di Olympico pada leg kedua. Menariknya, Glimt sempat membantai Roma 6-1 pada fase grup.

4. Dampak kehadiran pelatih mental yang signifikan

Rutinnya Bodo/Glimt bermain di kompetisi Eropa sejak 2021 merupakan buah dari empat gelar juara Liga Norwegia pada 2020, 2021, 2023, dan 2024. Semuanya terjadi setelah mereka mengalami degradasi pada 2017 yang seharusnya menjadi tahun perayaan besar karena klub yang resmi berusia seabad. Hasil buruk tersebutlah yang mendorong manajemen melakukan sejumlah pendekatan anyar demi memastikan kegagalan serupa tidak terjadi kembali.

Salah satu langkah terawal yang mereka ambil adalah merekrut pelatih mental. Sosok yang dipilih adalah Bjorn Mannsverk, pria asli Norwegia yang merupakan mantan pilot pesawat tempur. Dampak hebat dari kehadiran Mannsverk tergambar dari deskripsi singkat Orjan Berg, mantan pemain yang kini bekerja di akademi. Ia mengungkapkan kepada ESPN pada 2025 bahwa Mannsverk telah mencuci otak semua anggota klub.

5. Kjetil Knutsen sukses menerapkan gaya bermain yang menyengat

Dari sisi personel, satu sosok krusial lain di balik kebangkitan Bodo/Glimt tentu adalah sang pelatih, Kjetil Knutsen. Pria yang juga asli Norwegia ini mulai memimpin ketika mereka kembali bermain di Liga Norwegia pada 2018. Knutsen bekerja sebagai asisten setahun sebelumnya. Pria kelahiran 2 Oktober 1968 itu mampu membuat anak asuhnya berani bermain atraktif. Salah satunya tergambar ketika mereka menjuarai liga domestik pada 2020 dengan memecahkan rekor karena mencetak hingga 103 gol.

Kemenangan-kemenangan menakjubkan di kompetisi Eropa menjadi bukti lain dari taktik tepat yang diterapkan Knutsen. Glimt mungkin kalah penguasaan bola. Namun, mereka menghukum tim-tim raksasa dengan serangan balik cepat yang mematikan. Kapten tim, Ulrik Saltnes, menyebut ini sebagai hasil dari kemampuan mereka dalam berdapatasi. Knutsen dan asistennya sukses mengasah para pemain untuk tampil fleksibel, tetapi tetap klinis di sepertiga terakhir lapangan.

Direktur Olahraga Glimt, Havard Sakariassen, menegaskan dalam sebuah wawancara kepada GOAL pada 2024 bahwa klub tidak pernah memasang target praktis. Prinsip mereka hanyalah berjuang sekeras mungkin untuk terus membaik. Itu mengapa sederet kejutan Glimt di panggung Eropa bukanlah kebetulan atau keberuntungan. Ini adalah kesuksesan yang berkesinambungan berkat ketekunan dalam menjalani proses.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika
Follow Us

Latest in Sport

See More