Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Ketika Pandemik COVID-19 Jadi Titik Balik Kebangkitan Arsenal

Ketika Pandemik COVID-19 Jadi Titik Balik Kebangkitan Arsenal
Para pemain Arsenal berselebrasi merayakan gol Kai Havertz (depan) (AFP / Glyn Kirk)
Intinya Sih
  • Josh Kroenke menjelaskan kebangkitan Arsenal musim 2025/26 berawal dari masa pandemik COVID-19, saat Mikel Arteta diberi ruang membangun ulang skuad tanpa tekanan besar dari suporter.
  • Arsenal melewati masa transisi sulit pasca-Arsene Wenger hingga akhirnya bangkit di bawah Arteta, yang sempat diragukan namun berhasil membawa klub menjuarai Premier League 2025/26.
  • Kroenke menegaskan kunci sukses Arsenal adalah kepercayaan penuh manajemen pada Arteta, yang dinilai mampu menanamkan keyakinan dan semangat kerja keras kepada timnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Keberhasilan Arsenal di Premier League musim 2025/26, dijelaskan oleh Co-chair Arsenal, Josh Kroenke, merupakan hasil dari proses panjang. Kroenke menegaskan jika Arsenal memanfaatkan periode pandemik COVID-19 dalam upaya membangun kembali kekuatan Arsenal.

Kroenke menyatakan, Arsenal memanfaatkan momen tersebut agar manajer Mikel Arteta bisa melakukan rekonstruksi skuad. Ada keuntungan yang muncul, menurut Kroenke, dalam situasi tersebut, karena tekanan suporter di stadion tak terlalu tinggi.

1. Ada ruang bernapas buat Arteta

Manajer Arsenal, Mikel Arteta (AFP / Carlos Jasso)
Manajer Arsenal, Mikel Arteta (AFP / Carlos Jasso)

Musim 2020/21 dan 2021/22, diakui Kroenke, menjadi periode yang sulit buat Arsenal. Terlebih, pada musim 2020/21, Arsenal cuma finis di posisi delapan usai juara Piala FA. Semusim berselang, mereka gak bisa menembus empat besar dan susah bersaing demi gelar juara.

Tapi, Arsenal melakukan perubahan secara perlahan di bawah Arteta dalam dua musim tersebut. Sejumlah pemain muda dimatangkan dan dipromosikan oleh Arteta, seperti Bukayo Saka hingga Gabriel Martinelli. Pembelian-pembelian penting dilakukan, termasuk mendatangkan Martin Odegaard, Declan Rice, sampai memulangkan William Saliba dari masa peminjamannya.

"Apa yang dimiliki Mikel, entah disadari atau tidak, selama pandemik COVID-19 adalah ruang, ketika suporter tak hadir di stadion. Rasa sakit berkembang begitu besar sepanjang laga, setiap momen, dan tentu ketika kami menjadi juara Piala FA, ada tekanan dari suporter agar selalu di atas. Sayangnya, kami berkembang ke arah berlawanan. Tapi, melihat kembali ke belakang, mungkin situasi itu sedikit menguntungkan," kata Kroenke, dilansir BBC Sport.

2. Transisi sulit hingga akhirnya raksasa itu terbangun

Suporter Arsenal merayakan gelar Premier League musim 2025/26 di London (AFP / Brook Mitchell)
Suporter Arsenal merayakan gelar Premier League musim 2025/26 di depan Emirates Stadium (AFP / Brook Mitchell)

Kroenke menyadari, Arsenal begitu sulit melewati masa transisi setelah ditinggal Arsene Wenger. Perpindahan tongkat estafet dari Wenger ke Unai Emery sama sekali tak berjalan dengan baik. Malah, Emery sering menjadi olok-olok suporter karena dianggap tak layak hingga kemampuan berbahasa Inggrisnya kurang lancar.

Hingga akhirnya, kursi manajer beralih ke Arteta. Situasi juga tak langsung membaik. Label "Guru Penjas" sempat mampir ke Arteta hingga semuanya olok-olok itu hilang sendirinya ketika Arsenal juara Premier League musim 2025/26.

"Saya sadar, kami adalah raksasa tertidur yang harus dibangunkan dengan cara tertentu. Kami tak punya tim, skuad, seperti ini di era media sosial. Media sosial berevolusi dan Twittersphere, segalanya terus berkembang. Informasi begitu cepat mengalir, hingga Arsenal jadi bahan olok-olok. Saya sadar. Saya sudah 46 tahun pekan lalu, sudah dewasa dan hidup lama dengan situasi serupa. Saya melihatnya dalam perspektif berbeda. Saya rasa, ini jadi hal yang patut dibanggakan. Mungkin, sudah waktunya untuk mengakhiri masa sebagai fans Arsenal yang tertutup," kata Kroenke.

3. Kuncinya percaya proses

Suporter Arsenal merayakan gelar Premier League musim 2025/26 di London (AFP / Brook Mitchell)
Suporter Arsenal merayakan gelar Premier League musim 2025/26 di London (AFP / Brook Mitchell)

Kunci lainnya dari kebangkitan Arsenal adalah, manajemen percaya pada Arteta. Kroenke menegaskan, manajemen The Gunners melihat hal yang berbeda ketimbang suporter dari Arteta.

Pria Spanyol itu, bagi Kroenke, bak manajer tim pemasaran yang selalu mampu membuat kliennya percaya, nyaman, dan yakin, produk miliknya berkualitas tinggi dengan garansi hasilnya bisa terlihat dalam proses tertentu.

"Siapa saja yang dapat kesempatan berada di lingkaran Mikel, Anda bisa membeli sesuatu darinya. Dia seperti berjualan, lalu dengan mudahnya barang itu laku. Jadi, saya gak mau memberikan diri ini atau ayah, kredit tertentu. Justru, Mikel, staf, dan pemainnya, yang layak dapat pujian karena kesabaran dalam momen-momen tertentu dengan kerja keras serta energinya," ujar Kroenke.

Share Article
Topics
Editorial Team
Satria Permana
EditorSatria Permana

Related Articles

See More