Menuju Bursa Transfer 2026, Liverpool Wajib Rekrut Gelandang Bertahan

Musim 2025/2026 memberikan banyak pelajaran bagi Liverpool di bawah komando Arne Slot. Juru taktik asal Belanda tersebut kini harus menghadapi kenyataan pahit mengenai penurunan drastis performa skuadnya di kancah domestik. Kehilangan dominasi permainan di sektor tengah menjadi sinyal bahaya yang membutuhkan penanganan taktis secara cepat dan radikal.
Banyaknya kegagalan taktis sepanjang musim ini mengonfirmasi posisi jangkar pertahanan sebagai lubang paling krusial yang segera dibenahi. Liverpool patut menaruh perhatian penuh pada rencana rekrutmen gelandang bertahan baru menjelang pembukaan bursa transfer musim panas 2026. Artikal ini mencoba mengulas urgensi mendalam dilema transisi permainan The Reds, kebutuhan holding midfielder, hingga radar target potensial buruan tim.
1. Liverpool krisis kreativitas serangan usai ditinggal Trent Alexander-Arnold dan Luis Diaz
Tak ada yang menyangka kalau kepergian Trent Alexander-Arnold ke Real Madrid akan sangat berdampak kepada kreativitas tim. Kepergian sang bek kanan andalan secara otomatis melenyapkan akurasi operan panjang diagonal sejauh 30 hingga 40 yard di lapangan. Pola transisi permainan The Reds kini kehilangan fluiditas alami yang biasanya mengawali skema serangan mematikan dari lini belakang.
Bek kanan seperti Jeremie Frimpong dan Conor Bradley ternyata membawa karakteristik bermain yang sangat berbeda dengan pendahulu mereka. Frimpong lebih gemar menggiring bola di area luar alih-alih melakukan gerakan inversi sebagai kreator tambahan di lini tengah. Sementara itu, Bradley yang cenderung bermain defensif tak mampu menjadi tandem mumpuni bagi Mohammed Salah dalam membangun serangan dari lini pertama.
Ketiadaan umpan-umpan mematikan tersebut berdampak langsung terhadap penurunan ketajaman Salah di sektor sayap kanan permainan. Statistik BBC mengonfirmasi, rata-rata perpindahan arah bola horizontal (switches of play) Liverpool merosot tajam dari angka 3,4 per 90 menit pada musim lalu menjadi hanya 1,3 per 90 menit pada kompetisi berjalan saat ini. Angka penurunan yang sangat mencolok itu memperjelas sirkulasi serangan tim menjadi sangat lambat dan mudah diprediksi barisan pertahanan lawan.
Kehilangan magis Luis Diaz sebagai opsi pemecah kebuntuan di sisi sayap turut memperparah kemunduran produktivitas serangan tim. Mereka tidak lagi memiliki kombinasi taktis yang ideal untuk membongkar pertahanan rapat lawan seperti musim lalu. Kedatangan pemain elite seperti Florian Wirtz, Alexander Isak, hingga Hugo Ekitike pun belum bisa menghadirkan solusi instan atas buntunya lini serang Liverpool.
Imbas negatif dari perubahan gaya bermain ini memuncak saat armada Arne Slot berhadapan dengan pertahanan blok rendah rival. Alur serangan tim menjadi buntu karena kehilangan kreativitas kolektif serta tusukan tajam usai kepergian Diaz dari lini serang. Determinasi tinggi serta etos kerja keras yang biasa diperagakan penyerang sayap asal Kolombia itu kini meninggalkan kekosongan masif yang belum tergantikan di sepertiga akhir lapangan.
2. Hilangnya dominasi lini tengah jadi alasan wajib Liverpool merekrut gelandang bertahan
Dilansir The Athletic, Wataru Endo menjadi satu-satunya rekrutan gelandang bertahan murni Liverpool dalam 6 tahun terakhir sejak bursa transfer pada 2020. Kendati apik dalam memutus aliran serangan lawan, pemain asal Jepang ini dinilai belum mampu memenuhi ekspektasi taktis dalam membantu fase ofensif tim. Pengabaian yang berlangsung lama di sektor vital ini membuat lawan kini dapat dengan mudah mendikte ritme permainan sekaligus mengeksploitasi celah kosong di depan barisan bek tengah Liverpool.
Penurunan kualitas pertahanan kolektif tersebut selaras dengan kemerosotan performa individual Alexis Mac Allister. Ia mengalami penurunan kecepatan rata-rata serta penurunan intensitas pressing dari angka 44,8 per laga musim lalu menjadi hanya 38,1. Kondisi penurunan performa yang dialami pemain asal Argentina itu otomatis melipatgandakan beban kerja pertahanan para pemain tengah lainnya.
Di sisi lain, tim-tim lawan di Premier League sekarang telah berhasil membaca dan mengunci pergerakan dinamis Ryan Gravenberch. Jika pada 2024/2025 gelandang muda asal Belanda ini tampil memukau dalam mengalirkan bola dari kedalaman, musim ini ruang geraknya selalu ditutup rapat oleh musuh. Gravenberch membutuhkan kehadiran duet seorang holding midfielder sejati yang fokus menjalankan tugas destruktif agar dirinya bisa mengeksplorasi kemampuan terbaiknya kembali.
Kedatangan Florian Wirtz yang diplot sebagai kreator utama justru mengorbankan stabilitas trio lini tengah. Walaupun mulai memperlihatkan kontribusi gemilang pada akhir kompetisi Premier League 2025/2026, ia dinilai telat panas ketika Liverpool mengharapkan dampak instan mengingat biaya selangit yang digelontorkan manajemen. Kebutuhan akan sosok gelandang gelandang nomor enam kini menjadi harga mati menyusul cederanya Wataru Endo serta ketidakjelasan perpanjangan masa bakti Curtis Jones di klub.
Melihat keroposnya pertahanan dan lini tengah Liverpool saat ini, mereka butuh sosok gelandang petarung yang mahir memotong aliran bola sekaligus mendistribusikannya ke depan. Karakteristik pemain nomor enam yang tangguh secara fisik akan memberikan perlindungan maksimal bagi barisan pertahanan yang sering terisolasi. Kedatangan seorang jangkar modern dipercaya menjadi solusi utama untuk mengembalikan mental juara sejati ke Anfield.
3. Liverpool membidik beberapa nama tenar di Premier League untuk mengisi pos gelandang bertahan
Pada bursa transfer musim panas 2026, Liverpool tampaknya bergerak cepat untuk membidik beberapa nama beken di posisi gelandang. Penggawa andalan Crystal Palace, Adam Wharton, menempati urutan teratas dalam daftar belanja karena keunggulannya dalam visi permainannya yang visioner dari kedalaman lapangan. Pemain muda berusia 22 tahun ini dikenal cekatan dalam melepaskan line-breaking passes yang langsung menuju jantung pertahanan lawan.
Selain Wharton, komoditas panas di bursa transfer Premier League adalah pilar andalan Nottingham Forest, Elliot Anderson. Pemain agresif berusia 23 tahun ini menorehkan statistik memukau sebagai pemilik catatan defensive recoveries tertinggi per 90 menit di lima liga top Eropa. Manajemen The Reds dilaporkan harus merogoh kocek sangat dalam karena banderol sang pemain diprediksi bakal menembus angka di atas 100 juta pound sterling atau setara Rp2,36 triliun.
Liverpool juga menyiapkan alternatif domestik lain seperti talenta muda AFC Bournemouth, Alex Scott, yang memiliki ketenangan luar biasa keluar dari ruang sempit. Opsi tangguh lainnya tertuju pada Boubacar Kamara milik Aston Villa yang merepresentasikan profil gelandang bertahan murni dengan keunggulan tekel agresif serta ketahanan tinggi terhadap tekanan. Kehadiran salah satu dari pemain tangguh ini diharapkan mampu mengembalikan identitas lini tengah Liverpool yang disegani para rivalnya.
Pemantauan radar transfer The Reds bisa meluas hingga ke kompetisi Ligue 1 Prancis dengan membidik talenta potensial milik AS Monaco, Lamine Camara. Gelandang muda yang memiliki catatan pertahanan mengagumkan itu kabarnya dipatok dengan nilai pasar sekitar 30 juta euro (Rp615,5 miliar) oleh klubnya. Nama-nama mentereng lain seperti Mamadou Sangare dari RC Lens, Ederson asal Atalanta, serta Angelo Stiller dari VfB Stuttgart turut melengkapi daftar panjang spekulasi perburuan ini.
Pembenahan sektor gelandang jangkar ini merupakan langkah krusial yang akan menentukan kesuksesan proyek jangka panjang Arne Slot bersama Liverpool. Keberhasilan mendatangkan sosok holding midfielder murni berkualitas tinggi pada musim panas nanti bakal menjadi kunci utama bagi kembalinya kejayaan raksasa Merseyside ini.


















