Paradoks Rasisme di Tubuh Real Madrid, Giliran Huijsen yang Tersandung

- Real Madrid sebelumnya vokal menentang rasisme terhadap Vinicius Junior, namun kini tersandung kasus serupa setelah Dean Huijsen melakukan tindakan rasis di media sosial terhadap orang China.
- Huijsen dan pihak klub segera meminta maaf melalui akun Weibo resmi Real Madrid, menyebut unggahan itu dilakukan tanpa sengaja dan menyesali dampak yang ditimbulkan.
- Warganet menyoroti paradoks sikap Madrid yang gencar melawan rasisme, tetapi justru memiliki pemain yang terlibat dalam perilaku diskriminatif terhadap etnis lain.
Jakarta, IDN Times - Paradoks terjadi di Real Madrid. Vokal perkara isu rasisme yang menimpa Vinicius Junior, justru salah satu pemainnya melakukan serangan rasial ke orang lain.
Pada leg 1 babak 16 besar Liga Champions 2025/26, Madrid bersuara keras terkait kasus rasisme yang dialami Vinicius. Rasisme itu diduga dilakukan pemain Benfica, Gianluca Prestianni.
Kala itu situasi memanas, dan laga sempat terhenti 10 menit, meski akhirnya bisa dilanjutkan lagi. Namun, pada perkembangannya, bek Real Madrid, Dean Huijsen, malah menyinggung sejumlah pihak dengan aksinya.
1. Dianggap menyinggung orang China
Pada Senin (23/2/2026), sebuah unggahan di X mempertontonkan aksi rasisme yang dilakukan Huijsen. Dia melakukan aksi rasis terhadap unggahan di media sosial berisikan orang China.
Jadi, Huijsen mengunggah ulang unggahan orang China yang berisikan komentar-komentar rasis. Komentar pertama adalah 'Bahkan orang China memanggilnya orang China' serta 'Kamu bisa menutup matanya dengan benang gigi'. Tindakan Huijsen ini memancing kemarahan orang-orang China dan Asia, yang memaksa Madrid langsung mengambil tindakan.
2. Madrid langsung meminta maaf
Tak butuh waktu lama, Madrid dan Huijsen langsung mengumumkan permintaan maaf. Aksi tersebut juga disampaikan keduanya lewat akun Weibo klub, yang terkoneksi dengan fans Madrid di China.
"Saya (Huijsen dibantu Madrid) meminta maaf kepada sahabat-sahabat dari China soal apa yang terjadi. Saya secara tidak sengaja mengunggah ulang konten yang ofensif. Saya sangat menyesal atas tindakan tersebut," tulis permintaan maaf Madrid.
3. Warganet soroti paradoks Madrid
Dalam kolom komentar di akun media sosial Huijsen, ada warganet yang mengeluarkan pendapat menarik. Dia menyoroti paradoks Madrid, tatkala bersuara kencang soal rasisme, tetapi pemainnya sendiri malah melakukannya.
"Ketika Real Madrid bicara keras soal rasisme, justru Huijsen, pemain mereka berlaku rasis kepada orang China. Apa sikap anti-rasis Anda hanya muncul saat Vinicius kena diskriminasi?" cuit warganet itu.
Memang, kejadian rasisme Huijsen ini jadi paradoks bagi Real Madrid. Apalagi, hal ini terjadi tak lama setelah pemain Benfica, Prestianni, sementara ini kena hukum UEFA karena dianggap rasis kepada Vinicius.
















