Daftar Pemenang dan Pecundang Atas Perginya Ruben Amorim dari MU

- Pemain dengan fleksibilitas tinggi dan pemain akademi berpotensi jadi andalan
- Pemain berposisi bek tengah dan wing-back jadi yang paling rawan kehilangan tempat di tim
- Arah struktur pelatih dan klub bakal menentukan peran dan masa depan pemain
Kepergian Ruben Amorim dari kursi pelatih Manchester United menandai akhir dari idealisme taktik dan ketegangan struktural. Selama 14 bulan, pelatih asal Portugal itu menuntut sistem 3-4-3 sebagai pakem utama, meski komposisi skuad dan gaya permainan English Premier League (EPL) sering kali tidak mendukung pendekatan tersebut. Selain berdampak pada arah taktik klub, perubahan ini juga secara langsung menggeser nasib individu para pemain.
Dalam situasi transisi menuju era interim Darren Fletcher dan pencarian pelatih permanen, skuad Setan Merah memasuki periode evaluasi ulang. Beberapa pemain kini melihat jalan yang lebih terbuka untuk berkembang, sementara yang lain justru terancam kehilangan menit bermain. Pergantian pelatih ini menjadi momen penting untuk membaca ulang siapa yang selama ini terhambat oleh sistem, dan siapa yang justru dilindungi olehnya.
1. Pemain dengan fleksibilitas tinggi dan pemain akademi berpotensi jadi andalan
Kobbie Mainoo bisa dibilang sebagai pemain yang paling diuntungkan dari perubahan lanskap ini. Menurut The Athletic, Mainoo hanya mencatatkan 221 menit bermain di Premier League 2025/2026 dan tidak pernah menjadi starter di liga, kontras dibanding musim sebelumnya ketika ia mencatatkan 13 starter liga. Amorim lebih memilih duet Casemiro–Bruno Fernandes, dengan Fernandes ditarik lebih dalam demi kreativitas, sehingga Mainoo terpinggirkan dan sempat mempertimbangkan opsi pinjaman.
Saat diturunkan, Mainoo kerap bermain di posisi yang tak mendukung potensinya, dari gelandang bertahan, gelandang serang, hingga eksperimen radikal sebagai penyerang, yang menunjukkan ambiguitas struktural yang menghambat perkembangannya. Jika Fletcher atau pelatih berikutnya beralih ke 4-3-3 atau 4-2-3-1, Mainoo berpotensi kembali ke peran interior midfielder yang menuntut kontrol tempo dan progresi bola. Perubahan ini membuka peluang baginya lebih dari sekadar pelengkap sebelas pemain, sesuatu yang selama ini justru langka ia dapatkan.
Joshua Zirkzee juga berada dalam kategori pemain yang berpeluang diuntungkan oleh perubahan taktik. Penyerang Belanda itu memang punya catatan menit bermain lebih baik ketimbang Mainoo, tetapi statusnya abu-abu di bawah Amorim. Preferensi Amorim yang kerap menempatkan Matheus Cunha sebagai penyerang number 9, serta kedatangan Benjamin Sesko, membuat posisi Zirkzee terus berada dalam ketidakpastian.
Hubungan yang tidak sepenuhnya klop antara Zirkzee dan Amorim turut memicu wacana kepindahan, termasuk ketertarikan dari AS Roma. Namun, perubahan pelatih memaksa klub untuk mengevaluasi ulang statusnya, terutama mengingat fleksibilitas Zirkzee sebagai penyerang yang mampu turun ke ruang antarlini. Dalam sistem yang lebih cair, profil seperti ini justru memberikan nilai tambah, terutama ketika MU membutuhkan variasi serangan, bukan sekadar target man statis.
Kelompok lain yang berpotensi diuntungkan adalah pemain akademi. Amorim kerap dikritik karena enggan menurunkan talenta muda dalam situasi ideal, seperti ketika Shea Lacey tidak diberi debut saat MU menang 4-1 atas Wolverhampton Wanderers, tetapi justru dimainkan di laga sulit melawan Aston Villa. Jack Fletcher, Bendito Mantato, dan Tyler Fredricson lebih sering diperkenalkan dalam situasi krisis, bukan sebagai bagian dari rencana jangka menengah.
Dengan Darren Fletcher sebagai pelatih interim yang punya latar belakang kuat di akademi, pendekatan terhadap pemain muda berpotensi menjadi lebih kontekstual. Pengetahuan internal tentang karakteristik dan kesiapan mereka membuka peluang integrasi yang lebih rasional. Perubahan ini menegaskan, pergeseran filosofi tidak hanya berdampak kepada pemain inti, tetapi juga pada jalur regenerasi klub.
2. Pemain berposisi bek tengah dan wing-back jadi yang paling rawan kehilangan tempat di tim
Tidak semua pemain menyambut kepergian Ruben Amorim dengan optimisme. Amad Diallo merupakan contoh paling menonjol dari pemain yang diuntungkan oleh sistem 3-4-3, tetapi terancam dengan transisi formasi. Amorim memberi Amad peran sebagai wing-back ofensif, posisi yang menutupi kelemahannya dalam duel udara dan transisi bertahan, sekaligus memaksimalkan kontribusi kreatifnya.
Masalah muncul ketika Manchester United berpotensi kembali ke sistem sayap murni. Investasi besar kepada Bryan Mbeumo senilai 65 juta pound sterling (Rp1,469 triliun), serta preferensi Matheus Cunha di sisi kiri, mempersempit ruang bagi Amad. Dalam skema 4-3-3 atau 4-2-3-1, Amad harus bersaing langsung di posisi naturalnya tanpa perlindungan struktural yang sebelumnya ia nikmati.
Di posisi bek tengah, Leny Yoro dan Ayden Heaven jadi pemain yang rawan tersingkir. Di bawah arahan Amorim, keduanya mendapatkan menit bermain karena kebutuhan akan tiga bek tengah, terutama ketika cedera menimpa pemain senior seperti Matthijs de Ligt dan Harry Maguire. Namun, kembalinya opsi bek tengah utama dan potensi peralihan ke back four secara otomatis mengurangi jumlah slot yang tersedia.
Dalam struktur dua bek tengah, De Ligt dan Lisandro Martinez berada di urutan teratas hierarki, sementara Maguire tetap menjadi opsi berpengalaman. Yoro, yang masih sulit menemukan performa optimal, serta Heaven yang masih minim pengalaman, terancam kembali ke bangku cadangan. Perubahan sistem membuat usia dan jam terbang kembali menjadi faktor penentu.
Patrick Dorgu juga menjadi ilustrasi jelas dari rekrutan berbasis sistem. Didatangkan sebagai wing-back kiri, Dorgu menunjukkan performa yang inkonsisten dan sangat bergantung kepada tiga bek. Jika Luke Shaw kembali reguler sebagai bek kiri dan Diogo Dalot mengisi sisi kanan, jalur Dorgu menuju tim utama menjadi makin sulit.
Ketidakjelasan peran ini memunculkan pertanyaan fundamental tentang status Dorgu di skuad. Tanpa sistem yang dirancang khusus untuk wing-back, ia berisiko tereduksi menjadi pemain rotasi situasional. Kasus ini menunjukkan, pergantian pelatih bisa mengurangi peran fungsional pemain tertentu, bukan akibat turunnya kualitas, melainkan karena kerangka taktik yang sebelumnya menopang mereka tidak lagi digunakan.
3. Arah struktur pelatih dan klub bakal menentukan peran dan masa depan pemain
Pada akhirnya, pemenang dan pecundang pasca-Ruben Amorim tidak semata ditentukan oleh figur pelatih pengganti. Arah taktik klub, khususnya kemungkinan kembali ke back four dan penekanan pada kontrol lini tengah, menjadi faktor utama yang membentuk hierarki baru. Pemain dengan kemampuan membaca ruang, progresi bola, dan fleksibilitas posisi cenderung lebih sesuai dengan kebutuhan ini.
Intervensi manajemen juga memainkan peran signifikan. Ketegangan antara Amorim dan jajaran eksekutif terkait sistem, rekrutmen, dan wewenang teknikal menunjukkan keputusan pelatih tidak pernah berdiri sendiri. Dalam konteks baru, pemain yang selaras dengan visi struktural klub akan lebih dilindungi dibanding mereka yang hanya relevan dalam kerangka ideologi pelatih tertentu.
Dikotomi antara pemain sebagai aset jangka panjang dan produk sistem kian jelas. Kobbie Mainoo, pemain akademi, dan pemain serbaguna masuk kategori pertama. Sementara wing-back spesialis dan bek sistematis cenderung masuk kategori kedua. Evaluasi ini mencerminkan upaya Manchester United untuk membangun fondasi berkelanjutan, bukan sekadar menambal kebutuhan jangka pendek.
Perubahan ini juga menjadi refleksi lebih luas tentang identitas permainan MU. Setelah periode eksperimen yang berlarut-larut tanpa menemukan ritme, klub kini dihadapkan dilema antara kembali ke struktur yang lebih konvensional atau menemukan sintesis baru yang lebih adaptif. Nasib para pemain menjadi indikator paling nyata dari arah yang akan dipilih.
Kepergian Ruben Amorim menjadi momen krusial yang memicu evaluasi menyeluruh terhadap struktur dan komposisi skuad Manchester United. Dari sini, jelas bahwa perubahan struktur selalu menciptakan pemenang dan pecundang, tetapi juga membuka kesempatan bagi klub untuk mendefinisikan ulang identitas dan prioritasnya ke depan.



















