Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Timnas Iran bak Bola Ping Pong di Piala Dunia 2026

Timnas Iran bak Bola Ping Pong di Piala Dunia 2026
Penyerang Timnas Iran, Mehdi Taremi (09), menyapa merasakan ketegangan di Piala Dunia 2026. (Foto: Karim JAAFAR/AFP)
Intinya Sih
  • Pelatih Amir Ghalenoei mengungkapkan Timnas Iran merasa ditekan selama Piala Dunia 2026, bahkan dipaksa segera meninggalkan stadion usai laga melawan Selandia Baru.
  • Iran tidak mendapatkan waktu istirahat normal karena panitia memaksa mereka datang dan pergi dari Amerika Serikat dengan jadwal yang sangat ketat.
  • Meski menghadapi tekanan dan keterbatasan manajemen, Ghalenoei menegaskan Iran tetap berjuang memberikan performa terbaik di Piala Dunia 2026.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Situasi Timnas Iran benar-benar tidak nyaman di Piala Dunia 2026. Jika diibaratkan, Alireza Jahanbakhsh dan kawan-kawan bak bola ping pong, ditekan sana-sini.

Terbaru, pasca laga fase grup lawan Selandia Baru, Selasa (16/6/2026) pagi WIB, tim Iran seolah dipaksa harus segera pergi dari venue laga. Hal itu diungkapkan pelatih Iran, Amir Ghalenoei.

"Saya rasa, Iran adalah tim paling ditekan di Piala Dunia 2026. Setelah laga (lawan Selandia Baru), panitia bilang 'Kalian harus pergi sekarang'. Kami dipaksa segera pulang, dan itu mengganggu," kata Ghalenoei, dilansir BBC.

1. Iran dipukul sana-sini bak bola ping-pong

Ghalenoei menyebut, Iran dilempar sana-sini bak bola ping pong. Mereka dipaksa pergi dari stadion cepat-cepat serta dipaksa juga pergi dari tempat mereka berlatih cepat-cepat. Semua serba terburu-buru.

"Mereka (panitia Piala Dunia 2026) selalu memaksa kami untuk ke mana-mana secara cepat. Mereka membuat situasi serba sulit dan semua terasa serba buru-buru bagi kami," kata Ghalenoei.

2. Tak ada rehat bagi Iran

Jika mengacu pada jadwal normal, semestinya satu tim itu datang sehari sebelum laga dan pulang sehari setelah laga. Namun, Iran tak mengalami itu. Mereka diharuskan datang dan pergi dari AS secara cepat.

"Harusnya kami datang sehari sebelum laga, kemudian pulang sehari setelah laga untuk memulihkan diri. Tetapi, panitia tak mengizinkan hal tersebut. Kami benar-benar ditekan," kata Ghalenoei.

3. Iran tak menyerah, akan terus berjuang

Kendati berada dalam situasi sulit macam itu, Iran tidak menyerah. Mereka sadar tak memiliki pegangan karena tidak didampingi tim media dan manajemen. Namun, mereka akan terus berjuang.

"Federasi kami tak ada, begitu juga manajemen dan tim media kami. Namun, hal itu tak akan menghentikan Timnas Iran dalam memberikan performa terbaik di Piala Dunia 2026," kata Ghalenoei.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika

Related Articles

See More