Frederic Vasseur Puji Taktik Cerdik Charles Leclerc di GP Jepang 2026

- Charles Leclerc finis ketiga di GP Jepang 2026 setelah duel sengit dengan George Russell, memberi Ferrari podium kedua musim ini.
- Frederic Vasseur memuji strategi pengelolaan energi Leclerc yang cerdik, membuktikan kemampuan Ferrari bersaing dengan Mercedes.
- Leclerc menyoroti kelemahan mesin, aerodinamika, dan sasis SF-26 yang perlu ditingkatkan agar Ferrari bisa lebih kompetitif.
Ferrari memang tak membukukan kemenangan pada balapan F1 GP Jepang 2026. Walau begitu, tim yang berbasis di Maranello, Italia, itu mampu meraih podium setelah Charles Leclerc finis di posisi ketiga. Hasil tersebut merupakan podium kedua bagi Leclerc pada musim ini setelah finis ketiga di GP Australia.
Pencapaian Leclerc saat balapan di Sirkuit Suzuka pada 29 Maret mendapat respons positif dari Frederic Vasseur. Kepala tim Ferrari itu memuji usaha serta strategi yang Leclerc terapkan saat mengemudikan SF-26. Hal tersebut tak hanya membuat Leclerc naik podium, tetapi juga sebagai bukti potensi Ferrari dalam pertarungan melawan Mercedes.
1. Charles Leclerc finis di posisi ketiga pada balapan utama GP Jepang 2026 setelah berduel ketat dengan George Russell
Charles Leclerc yang menempati posisi start keempat langsung naik ke posisi kedua pada awal balapan GP Jepang 2026. Sayangnya, ia melorot ke posisi ketiga setelah disalip George Russell pada lap keempat. Pembalap asal Monako itu mampu mempertahankan kedudukannya sebelum akhirnya disalip Kimi Antonelli di tikungan 16 pada lap 15.
Leclerc langsung membalas pada awal lap 16 sebelum memasuki tikungan pertama sehingga kembali berada di posisi ketiga. Kemudian, Leclerc turun ke posisi ketujuh pada lap 18 setelah melakukan pergantian ban kepada jenis hard.
Leclerc naik ke posisi kelima pada lap 23 saat safety car memandu jalannya balapan imbas insiden yang melibatkan Oliver Bearma di tikungan 13. Setelah itu, ia kembali mengasapi Russell untuk berada di posisi keempat pada lap 37. Leclerc menembus posisi ketiga pada lap 42 usai mendahului Lewis Hamilton.
Leclerc mendapat perlawanan dari Russell selama fase akhir balapan. Walau begitu, Leclerc mampu meredamnya berkat strategi pengelolaan energi yang tepat guna. Leclerc menuntaskan balapan berdurasi 53 lap dengan finis ketiga. Ia unggul 0,484 detik atas Russell yang harus puas berada di posisi keempat.
2. Charles Leclerc menerapkan strategi pengelolaan baterai yang jitu saat berduel dengan George Russell
Keberhasilan Charles Leclerc naik podium di GP Jepang 2026 mendapat atensi positif dari Frederic Vasseur. Ia terkesan dengan taktik Leclerc selama berduel dengan George Russell. Usaha Leclerc menahan serangan Russell membuktikan Ferrari punya kans bersaing dengan Mercedes yang dikenal memiliki keunggulan pada aspek pengelolaan energi.
"Secara keseluruhan, itu adalah pertarungan yang sengit. Ia menampilkan kecerdikan dengan sesekali membiarkan Russell menyalip di chicane terakhir agar bisa menyalip di tikungan pertama. Dia berhasil memanfaatkannya secara efektif dengan mode overtaking. Kami senang dan dia bisa bangga terhadap kinerjanya. Itu penampilan yang menakjubkan," kata Frederic Vasseur dilansir Autosport.
Leclerc dan Ferrari menerapkan strategi jitu perihal penggunaan daya baterai. Salah satunya yang terjadi di chicane sebelum tikungan terakhir. Leclerc tidak terlalu menguras banyak energi baterai sehingga Russell menyalipnya di area tersebut. Itu menjadi hal wajar mengingat Russell dalam posisi mengejar Leclerc sehingga memaksimalkan penggunaan energi baterai selepas tikungan 14 hingga mencapai chicane pemungkas.
Akan tetapi, strategi yang Russell pakai punya risiko besar. Ia kesulitan bertahan dari serangan Leclerc apabila terlalu banyak menggunakan energi baterai sebelum memasuki chicane terakhir. Situasi tersebut menjadi senjata bagi Leclerc untuk menyerang balik. Apalagi, titik deteksi mode overtake terdapat di area tikungan 17.
Leclerc bisa memanfaatkannya untuk memperoleh mode overtake karena berada di belakang Russell. Kemudian, ia dapat menggabungkan mode tersebut dengan mode boost saat melewati trek lurus start-finis. Gabungan kedua mode tersebut dapat menghasilkan selisih kecepatan mencapai 40 km/jam. Hal tersebut tentu menyulitkan Russell menahan serangan balik Leclerc karena tak punya sisa baterai yang memadai.
3. Charles Leclerc tetap menyoroti sejumlah kelemahan SF-26 yang perlu segera ditangani
Charles Leclerc tak sepenuhnya puas dengan pencapaiannya di GP Jepang 2026. Pembalap berusia 28 tahun tersebut tetap menyoroti kelemahan SF-26 selama tiga seri awal musim ini. Ia menilai aspek mesin masih menjadi kekurangan utama tim berlogo kuda jingkrak. Selain itu, aerodinamika dan sasis juga perlu mendapat peningkatan jika ingin bersaing lebih intens di barisan depan.
"Kami harus memastikan ban beroperasi pada kondisi yang tepat sembari meningkatkan aspek aerodinamika dan sasis. Kami akan bekerja keras untuk memperkecil jarak dari Mercedes dan mempertahankan posisi di depan McLaren. Aku pikir mesin mungkin menjadi kelemahan utama kami saat ini. Walau begitu, ada aspek lain yang tentunya dapat memberi pengaruh dan membantu kami memangkas jarak," ujar Charles Leclerc dikutip Formula 1.
Charles Leclerc kini menduduki peringkat ketiga pada klasemen pembalap lewat perolehan 49 poin. Ia tertinggal 23 poin dari Kimi Antonelli yang bercokol di peringkat teratas. Sementara itu, Ferrari berada di peringkat kedua klasemen konstruktor setelah mengumpulkan 90 poin. Mereka berjarak 45 poin dari Mercedes.
















