Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Benarkah Pose Peace saat Selfie Bisa BIkin Sidik Jari Bocor?
ilustrasi seorang wanita sedang berfoto selfie (magnific.com/freepik)
  • Pakar keamanan siber di China memperingatkan bahwa pose peace dalam selfie bisa menampilkan detail sidik jari yang dapat direkonstruksi menggunakan teknologi AI dari foto beresolusi tinggi.
  • Peneliti menjelaskan risiko kebocoran sidik jari bergantung pada kualitas kamera, pencahayaan, jarak pengambilan gambar, dan posisi jari, sehingga tidak semua foto otomatis berbahaya.
  • Beberapa kasus penyalahgunaan sidik jari dari foto pernah terjadi di China, mendorong pakar menyarankan pengguna agar berhati-hati dan mengaburkan detail tangan sebelum mengunggah foto.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pose peace atau tanda V sudah lama jadi gaya andalan saat selfie, foto liburan, hingga unggahan media sosial. Namun, pose yang terlihat sepele ini kini menjadi sorotan terkait privasi digital di China. Pakar keamanan siber memperingatkan bahwa sidik jari seseorang berpotensi direkonstruksi dari foto yang diunggah ke internet dalam kondisi tertentu.

Peringatan tersebut mencuat setelah sebuah acara variety show di televisi China menampilkan simulasi pencurian data biometrik melalui foto selfie. Dalam demonstrasi itu, detail sidik jari yang awalnya tampak samar disebut dapat diperjelas menggunakan teknologi pemrosesan gambar berbasis AI.

Lantas, benarkah pose peace bisa membocorkan sidik jari? Simak penjelasannya berikut!

1. Pose peace dalam foto disebut bisa tampilkan sidik jari

ilustrasi selfie dengan pose peace (magnific.com/pvproductions)

Sebuah acara variety show di televisi China membahas risiko privasi dari swafoto yang memperlihatkan jari tangan secara detail. Dalam program yang tayang pada April 2026 lalu, pakar keuangan asal China, Li Chang, menunjukkan bagaimana foto selfie dapat dimanfaatkan untuk merekonstruksi sidik jari menggunakan teknologi AI dan perangkat lunak pengolah gambar. Li menggunakan swafoto selebritas untuk menunjukkan bagaimana posisi jari yang terlihat jelas dalam foto berpotensi membahayakan data biometrik pribadi.

Dilansir South China Morning Post, Minggu (24/5/2026), Li mengatakan sidik jari dapat diekstrak dari swafoto yang diambil dalam jarak sekitar 1,5 meter apabila posisi jari menghadap langsung ke kamera. Bahkan pada jarak 1,5 hingga 3 meter, sebagian detail tangan disebut masih bisa dipulihkan. Program tersebut juga memperlihatkan bagaimana pola sidik jari menjadi lebih jelas setelah gambar ditingkatkan menggunakan software berbasis AI.

2. Kamera resolusi tinggi dinilai tingkatkan risiko

ilustrasi selfie close-up dengan pose peace (magnific.com/freepik)

Menurut laporan China Newsweek, profesor kriptografi dari Universitas Akademi Ilmu Pengetahuan China, Jing Jiwu, mengatakan bahwa foto potret yang diambil menggunakan kamera berkualitas tinggi memungkinkan detail tangan dari pose peace direkonstruksi. Ia menjelaskan bahwa proses ekstraksi sidik jari dari foto tidak mudah dilakukan karena dipengaruhi sejumlah faktor, seperti kualitas kamera, pencahayaan, fokus dan resolusi gambar, jarak pengambilan foto, hingga posisi jari terhadap kamera. Dengan demikian, tidak semua foto selfie dengan pose peace secara otomatis dapat digunakan untuk mengekstrak data biometrik pengguna.

3. Kasus penyalahgunaan sidik jari pernah terjadi di China

ilustrasi teknologi pemindai sidik jari (magnific.com/rawpixel.com)

Kekhawatiran soal pencurian sidik jari dari foto bukan sekadar teori. South China Morning Post melaporkan bahwa media lokal Sohu News pernah memberitakan kasus seorang pria di Hangzhou yang mengunggah foto dengan posisi jari terlihat jelas. Pelaku diduga mengunduh foto tersebut dan menggunakan sidik jari hasil rekonstruksi untuk mencoba membuka sistem kunci pintar di rumah korban.

Kasus lain dilaporkan Xinyang Daily, ketika seorang pegawai menggunakan sistem absensi perusahaan untuk menyalin sidik jari rekan kerjanya. Sidik jari tersebut kemudian dijadikan cetakan silikon dan digunakan dalam aksi perampokan senilai 580.000 Yuan atau sekitar Rp1,5 miliar. Meski begitu, para ahli keamanan siber meminta masyarakat tidak panik berlebihan.

Direktur Pusat Penelitian Keamanan Industri Qianxin, Pei Zhiyong, mengatakan bahwa pencurian sidik jari dari swafoto memang mungkin dilakukan secara teknis, tetapi penerapannya di dunia nyata tidak mudah. Ia menilai risiko yang lebih serius justru muncul ketika data biometrik digunakan untuk membuat identitas atau dokumen palsu.

4. Tips agar lebih aman saat mengunggah foto di media sosial

ilustrasi pengguna mengunggah foto ke media sosial (magnific.com/freepik)

Sidik jari termasuk data biometrik permanen yang sulit diubah. Jika data tersebut bocor, korban dapat menghadapi risiko penipuan identitas hingga kerugian finansial. Pakar keuangan asal China, Li Chang, menyarankan pengguna internet untuk lebih berhati-hati saat mengunggah swafoto ke media sosial. Ia juga membagikan sejumlah langkah untuk mengurangi risiko penyalahgunaan data biometrik saat mengunggah foto di internet, antara lain:

  • Menghindari posisi jari terlalu dekat dengan kamera saat mengambil foto close-up.

  • Menggunakan sudut pengambilan gambar yang tidak memperlihatkan detail ujung jari secara jelas.

  • Memanfaatkan fitur blur atau pengeditan foto sebelum mengunggah gambar.

  • Lebih bijak dalam memilih foto yang dibagikan ke publik.

Pose peace mungkin terlihat sepele. Namun, perkembangan teknologi AI membuat detail kecil dalam foto kini bisa dianalisis lebih jauh. Karena itu, pengguna diimbau lebih berhati-hati saat mengunggah selfie ke media sosial.

FAQ Seputar Pose Peace saat Selfie Bisa BIkin Sidik Jari Bocor

Jika sidik jari saya berhasil ditiru lewat foto selfie, apakah peretas bisa langsung membuka kunci iPhone (Touch ID) atau Android saya?

Tidak semudah itu. Sensor sidik jari pada smartphone modern (terutama sensor ultrasonik atau optik tingkat lanjut) tidak hanya membaca gambar 2D dari guratan sidik jari. Mereka juga mendeteksi kedalaman 3D, sirkulasi darah, bahkan panas tubuh (liveness detection). Foto yang dicetak 2D biasa dipastikan gagal menembus keamanan ini. Peretas harus membuat replika 3D yang sangat presisi (misalnya menggunakan cetakan silikon konduktif) untuk bisa mengelabui sensor fisik tersebut.

Apakah enkripsi end-to-end di aplikasi pesan (seperti WhatsApp) bisa mencegah pencurian sidik jari dari foto yang kita kirim?

Enkripsi end-to-end hanya melindungi foto agar tidak diintersep oleh pihak ketiga (seperti peretas jaringan atau penyedia layanan) selama proses pengiriman. Namun, setelah foto tersebut sampai di ponsel penerima, atau jika Anda mengunggahnya ke grup publik dan media sosial yang bersifat terbuka, enkripsi tidak lagi berguna. Foto tersebut tetap bisa diunduh dan dianalisis oleh siapa saja.

Jika sidik jari saya bocor akibat foto selfie dan digunakan untuk membobol akses, apakah saya bisa menuntut platform media sosial tempat saya mengunggah foto tersebut?

Secara hukum (termasuk UU Pelindungan Data Pribadi/UU PDP di Indonesia), platform media sosial umumnya dilindungi oleh syarat dan ketentuan (Terms of Service) yang Anda setujui saat mendaftar. Ketika Anda secara sadar mengunggah foto ke publik, tanggung jawab konten berada di tangan pengguna. Anda baru bisa menuntut platform jika terjadi kebocoran data akibat hack pada server mereka, bukan karena foto yang Anda pajang secara sukarela.

Selain memburamkan (blur) jari, adakah fitur bawaan kamera ponsel yang bisa melindungi data biometrik kita secara otomatis?

Beberapa aplikasi kamera pihak ketiga atau mode privasi khusus mulai mengintegrasikan fitur anti-spoofing metadata. Namun, cara paling praktis tanpa merusak estetika foto adalah menggunakan filter bawaan (beauty filter) yang agresif atau menurunkan kontras/ketajaman (sharpness) khusus di area tangan saat proses editing sebelum diunggah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article