Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[REVIEW] Aniimo, Game ala Palworld Nuansa Pokemon dan Ben 10

8 min read
[REVIEW] Aniimo, Game ala Palworld Nuansa Pokemon dan Ben 10
cuplikan Aniimo (dok. Pawprint/Aniimo)
  • Aniimo, RPG dunia terbuka gratis dari Pawprint Studio, mengajak pemain sebagai Pathfinder di Idyll untuk menangkap monster, memilih Aniimo legendaris, dan mengungkap ancaman misterius.

  • Fitur Twining menjadi daya tarik utama: pemain berubah menjadi Aniimo untuk bertarung dan menjelajah, meski combat cenderung repetitif serta antarmuka dan misi awal terasa berlebihan.

  • Visual Idyll, kustomisasi karakter, voice acting, dan monetisasi tanpa gacha Aniimo menjadi nilai positif; sementara ekspresi karakter, musik, serta konten Astra masih kurang maksimal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Genre monster-catching atau monster-taming dalam dunia game sebenarnya bukan hal baru. Palworld (2024), dengan konsep monster membawa senjata api, belakangan mencoba berinovasi lewat survival game. Namun, waralaba Pokemon, yang lama berada di ranah ini, masih memegang takhta lewat barisan gamenya sejak 1996. Belum lagi melirik Digimon, waralaba yang bersaing dengan Pokemon mulai pada 1998.

Pawprint Studio kemudian datang dengan satu ide nakal: membuat aktivitas mengoleksi monster dengan kemampuan berubah menjadi monster itu sendiri. Studio debutan ini merilis Aniimo pada 16 September 2026 di Steam, XBOX Series X/S, dan PlayStation 5 sebagai open world role-playing game (RPG) gratisan. Memainkan gamenya terasa seperti menjadi trainer Pokemon di semesta Palworld dengan Omnitrix milik Ben Tennyson dalam Ben 10, serial kartun dan game lainnya.

Penulis sendiri telah memainkan Aniimo selama 15 jam di Steam dengan melirik beberapa hal penting, termasuk cerita dan gameplay-nya. Selama penjelajahan itu, ada hal-hal yang bisa dipetik. Utamanya sebagai gambaran untuk kamu yang ingin memainkan gamenya.

Aniimo
3/5

Aniimo adalah game open-world RPG dengan mekanisme creature-catching . Pemain berperan sebagai Pathfinder yang menjelajahi dunia Idyll, menangkap berbagai Aniimo, serta mempelajari kemampuan mereka. Fitur utama Twining memungkinkan pemain berubah menjadi Aniimo yang dimiliki untuk digunakan dalam pertarungan maupun eksplorasi.

Genre

Open-world RPG, Creature-collecting / Creature-catching, Action, Adventure, Simulation, Strategy

Developers

Pawprint Studio

Publisher

Pawprint Studio

Platform

PC (Steam, Epic Games Store), PlayStation 5, Xbox Series X/S, dan mobile (iOS & Android). Xbox Cloud Gaming juga didukung.

Price

Rp. 0

Minimum System Requirement Aniimo di PC

Operating System

Windows 10 64-bit

Processor

Intel Core i7-4770 / AMD Ryzen 7 2700

Memory

8 GB RAM

GPU

NVIDIA GeForce GTX 970 / AMD Radeon RX 5600

DirectX

Version 11

Storage

40 GB available space

Cuplikan game Aniimo (2026)

  1. 1. Premisnya klise dan naskahnya bertele-tele, tetapi tertolong dengan fitur skip dan ringkasan

    Kamu akan berperan sebagai Pathfinder sekaligus siswa baru di Polaris Institute. Tugas utamamu adalah menjelajahi daratan luas bernama Idyll. Di sana kamu mesti menangkap Aniimo, monster dalam game Aniimo, dan mempelajari latar belakang (lore) mereka.

    Sebuah robot pendamping bernama BINI akan mencatat semua data penelitianmu. Ia juga akan menjadi penghubungmu dengan dunia yang baru kamu kenal lewat intro-intro kecil pada sejumlah kesempatan. Kehadirannya ini membikin dunia Aniimo terasa akademis, bukan lagi sekadar taman bermain.

    Idyll sendiri menyimpan ancaman misterius di balik lanskapnya yang cerah. Kamu boleh terkesima dengan bangunan dunianya yang megah, tetapi tetap perlu berhati-hati saat menjelajah. Sebab, dunia Idyll yang luas itu dihuni monster liar yang siap menerkam jika kamu mengganggu mereka.

    Kamu juga harus memilih Aniimo legendaris pertamamu: Helion si singa bernuansa matahari atau Lunara si kucing bernuansa bulan. Pilihannya akan terasa personal sejak menit pertama. Jadi, pikirkan saja masak-masak.

    Premis Aniimo di atas sebenarnya klise. Kamu bisa mendapatkan ini di tiap game Pokemon sejak 1996. Namun, eksekusinya boleh dibilang lumayan.

    Naskahnya memang bertele-tele. Misi utamanya kerap terlalu panjang karena dialognya bertumpuk. Namun, developernya seperti sadar diri. Kamu diizinkan melewati percakapan lewat fitur skip dan akan tetap menerima ringkasan supaya tidak kehilangan arah cerita. Fitur itu kecil, tetapi nilainya besar.

  2. 2. Semesta Aniimo bikin jempol gatal untuk memotret keindahannya

    Dua wilayah utama tersedia di sini. Astra adalah kota metropolitan yang ramai. Idyll adalah kawasan dunia terbuka yang hijau dan luas. Porsi terbesar petualanganmu akan terjadi di Idyll.

    Idyll punya bioma beragam yang terbuka perlahan seiring progres. Cuaca dan siklus siang-malam mengubah suasananya. Sore hari di padang rumput terasa berbeda dari pagi hari di tepi hutan.

    Mode kameranya juga digarap serius dan cukup detail. Penulis bahkan sering berhenti untuk memotret atau sekadar menikmati panoramanya. Progres misi boleh tertunda karena melakukan itu, tetapi kamu tidak akan menyesalinya.

    Di sisi lain, Astra terasa masih setengah jadi. Banyak sudut kota ditandai sebagai area yang akan diisi konten baru. Penilaian penuh mungkin belum adil dilakukan sekarang. Meski begitu, kota ini tetap mampu berperan sebagai jeda setelah berhari-hari di alam liar. Ia juga bermanfaat sebagai titik temu kamu dengan temanmu yang ingin mabar.

    Untungnya, desain karakternya patut dipuji. Character creation-nya cukup dalam. Hampir tiap detail wajah karaktermu bisa diatur, dari sudut mata sampai posisi telinganya. Pilihan warnanya bahkan memakai color wheel, yang membikin pilihannya nyaris tidak terbatas.

    Fitur face paint memungkinkan kamu untuk menumpuk banyak motif, membuat wajah karakter menjadi khas. Penulis sendiri bisa saja menghabiskan berjam-jam di sana, tetapi mengurungkan niat itu karena memainkannya untuk pertama kali sambil livestreaming. Tidak baik membuat pemirsa menunggu gameplay hanya karena sibuk menciptakan karakter utama.

    Meski baik dalam character creation, ekspresi wajah karakter, baik karakter utama maupun pendamping alias non-player character (NPC), masih kurang ekspresif. Dalam semua cutscene, menyaksikan ekspresi karakter malah terasa seperti menyaksikan wajah robot. Kamu mungkin bisa melihat bibir dan rahangnya bergerak sesuai dengan suara voice actor, tetapi wajah, terutama matanya, tidak tampak hidup. Jika pernah menyaksikan bagaimana ekspresi wajah karakter di Onimusha: Way of the Sword yang rilis baru-baru ini, maka kamu mungkin akan berpikir tentang perbandingan langit dan bumi saat menyaksikan ekspresi wajah karakter di Aniimo.

  3. 3. Twining ala Ben 10 menghadirkan kesegaran dalam monster-catching game

    Secara konsep, menangkap Aniimo itu urusan sepele. Kamu bisa menghadapi mereka lewat pertarungan, lalu melempar Aniipod saat mereka melemah. Begitu monsternya terserap, BINI akan mencatat mereka ke dalam sistem sebagai tangkapan baru. Sebagai gambaran, mekanismenya mirip dengan melempar Pokeball di Pokemon. Kalau pernah memainkan Pokemon Legends: Arceus (2022), kamu pasti akan merasa familier.

    Mekanisme inti game ini sebenarnya ada di tempat lain. Namanya Twining. Mekanisme ini akan membuatmu berubah wujud menjadi Aniimo milikmu sendiri lewat transisi bergabung yang mulus. Di sinilah nuansa Ben 10 yang sempat diulas di muka muncul.

    Seperti Ben Tennyson saat menggunakan Omnitrix untuk berubah wujud, kamu bisa menggunakan ketangkasan Aniimo itu sendiri saat menjadi mereka. Celestis, salah satu monster dalam game, misalnya, akan membuatmu bisa terbang turun dari tebing. Budclaw, Aniimo lain, bisa membuatmu menggali tanah untuk mencari harta tersembunyi. Sementara itu, Emberpup bisa membuatmu membakar sulur yang menghalangi jalan menuju harta karun.

    Sistem ini menyatu dengan eksplorasi tanpa terasa merepotkan. Lompat dari jurang, lalu berubah jadi si terbang. Lari ke tembok, lalu berubah jadi si pemanjat. Momentumnya tidak pernah putus.

    Efek menangkap Aniimo sendiri besar untuk koleksimu. Tiap Aniimo baru bukan sekadar entri tambahan. Masing-masing akan membuka opsi tempur dan jelajah yang berbeda.

    Combat system-nya justru titik lemah. Tadinya menyenangkan. Namun, lama-lama, pertarungannya terasa seperti adu tombol ketimbang adu strategi. Pola serangannya cepat terasa repetitif. Tantangannya juga ringan karena game ini memang berkiblat kepada pemain kasual. Pemburu bos brutal sebaiknya mencari judul lain.

    Twining sekali lagi jadi penyelamat di sini. Sebab, bertarung sebagai Aniimo jauh lebih seru daripada memerintah mereka dari pinggir. Ada adrenalin yang terpacu saat menjadi petarung utama dengan berubah menjadi monster untuk melawan monster.

    Selain pertarungan, ada pula sisi santai pada game ini. Tiap pemain diizinkan memiliki RV di area kemah Idyll. Pintu di bagian belakang kendaraan itu bisa membawamu ke sebuah area damai yang luas. Di sana kamu boleh menanam tanaman, memenuhi pesanan, dan membiarkan Aniimo membantu urusan rumah dan ladang.

    Bagi penulis, bagian ini menyenangkan sebagai rehat dari hiruk pikuk. Namun, bagi sebagian pemain, fitur ini mungkin kalah menarik dibandingkan aktivitas utamanya. Selera akan turut menentukan di sini.

  4. 4. Musiknya terdengar sopan dan manis, tetapi mudah terlupa

    Aniimo memakai pendekatan cozy dari sisi audio. Musiknya lembut dan berlapis orkestra ringan. Nada-nadanya mendukung suasana Idyll yang tidak jarang berubah hangat. Fungsinya jelas, yaitu menemani, bukan merebut perhatianmu dari yang lain.

    Transisi audionya terdengar rapi saat kamu berpindah bioma. Temponya bisa naik sedikit saat pertarungan dimulai. Efek suara para Aniimo juga menggemaskan dan jelas. Cicitan, geraman, dan dengkuran mereka terdengar berbeda satu sama lain.

    Masalahnya terletak pada daya ingat. Tidak ada satu pun melodi yang menempel di kepala setelah sesi selesai. Bandingkan dengan tema rute klasik Pokemon yang bisa disenandungkan puluhan tahun kemudian. Aniimo belum punya momen seperti itu. Bagian musiknya relatif aman, tetapi belum seberani itu.

    Untungnya, Aniimo memiliki voice acting yang mantap. Saat game lain enggan menyediakan itu, developer Aniimo malah tidak segan memberi ruang untuk voice actor dalam menjalan tugas mereka sebagai pengisi suara karakter. Suara-suara mereka juga menjadi bagian penting yang menghidupkan cerita di dalam game saat ekspresi wajah karakter kurang memuaskan.

  5. 5. Penyutradaraannya terasa ambisius dan cenderung kebanyakan mau

    Arahan kreatif game ini jelas dan percaya diri. Tema besar menangkap monster, lalu menjadi mereka lewat Twining, terasa konsisten sejak menit pertama. Tiap sistem diarahkan untuk mendukung itu. Hasilnya, identitas Aniimo tidak tenggelam di antara pesaingnya.

    Masalah muncul pada takaran. Volume kontennya bisa terasa membanjiri pemain baru. Menu utamanya memuat belasan aplikasi dan beberapa hadiah butuh lima kali klik sebelum bisa diambil. Antarmuka itu kontras dengan lanskapnya yang lapang dan lembut. Keluhan soal UI ini muncul di hampir semua review, bahkan dari kritikus yang memberi nilai tinggi. Sutradara game seharusnya berani melakukan pemangkasan.

    Untungnya, arah monetisasinya masih terasa waras. Ada Monthly Pass berbayar, tetapi pemain gratisan tetap bisa menikmati hampir semuanya. Para Aniimo sendiri tidak dikunci di balik sistem gacha, yang biasanya menjadi hal memuakkan untuk para gamer kurang beruntung. Sebagian kosmetik memang berbayar dan itu terasa mengganjal, tetapi dosisnya masih jauh dari kata serakah.

    Aniimo bukan game yang sempurna, apalagi ini debut untuk Pawprint Studio. Menunya melelahkan. Pertarungannya dangkal. Musiknya lupa memberi kesan. Namun, game ini punya satu hal yang jarang dimiliki pesaingnya, yaitu ide yang benar-benar terasa segar saat dimainkan. Menimbang cerita, visual, gameplay, audio, dan penyutradaraannya, game ini layak untuk nilai 3,5/5.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More