Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa X Dikenal sebagai Media Sosial yang Toksik?

Kenapa X Dikenal sebagai Media Sosial yang Toksik?
ilustrasi logo X (unsplash.com/@alexbemore)
Intinya Sih
  • Format singkat dan batas karakter di X sering memicu salah paham serta debat emosional, membuat percakapan cepat berubah jadi adu argumen ketimbang diskusi mendalam.
  • Algoritma X cenderung mengangkat konten penuh konflik dan emosi, sehingga drama, fanwar, serta perdebatan politik lebih sering muncul di linimasa pengguna.
  • Fitur quote tweet dan keberagaman pengguna memperbesar potensi drama serta cyberbullying, namun kecepatan informasi membuat banyak orang tetap sulit meninggalkan platform ini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

X atau dulu dikenal sebagai Twitter, memiliki posisi unik di dunia media sosial. Platform milik Elon Musk ini menjadi salah satu tempat tercepat untuk melihat berita viral, opini publik, meme, hingga perdebatan panas tentang berbagai isu.

Akan tetapi, X juga memiliki reputasi sebagai salah satu media sosial paling toksik di internet. Drama, fanwar, cancel culture, debat kusir, hingga perundungan digital jauh lebih mudah ditemukan di sana dibanding platform lain. Nah, kenapa bisa begitu?

1. Format singkat membuat orang mudah salah paham

ilustrasi logo X di HP
ilustrasi logo X di HP (unsplash.com/@kellysikkema)

X sejak awal dirancang untuk posting singkat dan cepat. Beberapa pengguna menulis opini secara spontan tanpa penjelasan panjang, sehingga konteks bisa hilang dan memicu kesalahpahaman. Karena karakter terbatas, diskusi di X juga cenderung lebih emosional dan langsung menyerang inti perdebatan. Situasi ini menjadikan percakapan mudah berubah menjadi adu emosi dibanding diskusi santai dan mendalam.

2. Algoritma lebih suka konten konflik

potret penggunaan smartphone
potret penggunaan smartphone (unsplash.com/@nordwood)

Konten yang memancing emosi biasanya lebih mudah viral di X. Kemarahan, kontroversi, dan drama dapat menghasilkan reply, repost, dan quote tweet dalam jumlah besar sehingga algoritma terus menyebarkannya. Ini mengakibatkan pengguna lebih sering melihat pertengkaran dibanding percakapan normal. Konflik bisa berupa perdebatan politik, ideologi, bahkan topik hiburan seperti saling serang antar penggemar musik Korea. 

3. Budaya quote tweet memperbesar drama

ilustrasi menggunakan smartphone
ilustrasi menggunakan smartphone (unsplash.com/@plhnk)

Salah satu ciri khas X adalah fitur quote tweet yang memungkinkan pengguna membalas sambil menyebarkan unggahan orang lain ke audiens mereka sendiri. Fitur ini memang bagus untuk diskusi, tetapi bisa dipakai untuk mempermalukan atau menyerang seseorang secara massal. Satu unggahan kecil bisa tiba-tiba viral dan dihujani ribuan komentar negatif. Tidak sedikit pengguna yang akhirnya mengalami cyberbullying atau cancel culture akibat efek berantai dari quote tweet.

4. Pengguna X sangat beragam dan vokal

ilustrasi smartphone
ilustrasi smartphone (unsplash.com/@jonasleupe)

X dipakai oleh berbagai kelompok sekaligus, mulai dari fandom, aktivis politik, jurnalis, hingga akun anonim. Semua orang berbicara dalam satu ruang yang sama dan memiliki opini sangat kuat tentang isu tertentu. Hal ini membuat benturan pendapat terjadi terus-menerus. Topik kecil pun bisa berubah menjadi perang opini besar karena setiap komunitas memiliki cara pandang dan emosi berbeda. Selain itu, para pengguna X berasal dari spektrum ideologi yang beragam. Tak sedikit dari mereka yang menyebarkan visi dan pemikirannya melalui cara keras dan menyerang pihak lain. 

5. Kecepatan informasi membuat emosi ikut cepat meledak

ilustrasi sebuah smartphone
ilustrasi sebuah smartphone (unsplash.com/@freestocks)

X terkenal sebagai media sosial paling cepat dalam menyebarkan berita dan tren viral. Namun, kecepatan tersebut juga membuat pengguna sering bereaksi sebelum memeriksa fakta secara lengkap. Rumor, salah paham, dan kemarahan massal mudah terbakar dalam waktu singkat. Dalam beberapa kasus, situasi di X bisa berubah dari candaan menjadi keributan besar hanya dalam hitungan jam. Untuk mengatasi ini, pihak X sebenarnya sudah menyematkan fitur “Community Notes” agar pengguna bisa memberikan koreksi dan catatan jika ada unggahan hoaks atau tidak benar.  

Meski dikenal toksik, para pengguna tetap sulit meninggalkan X karena platform ini dianggap paling cepat untuk mengikuti tren dan opini publik. Fenomena tersebut membuat X seperti memiliki hubungan love-hate dengan penggunanya. X dibenci karena dramanya, tetapi tetap dipakai karena sulit menemukan suasana internet secepat dan seramai itu di tempat lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika

Related Articles

See More