Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

OnePlus dan realme Resmi Merger, Tanda Akhir Ekspansi Global OnePlus?

OnePlus dan realme Resmi Merger, Tanda Akhir Ekspansi Global OnePlus?
logo OnePlus (atas) (oneplus.com) | logo realme (bawah) (c.realme.com)
Intinya Sih
  • OnePlus dan realme resmi bergabung di bawah struktur baru yang dipimpin Pete Lau, menyatukan operasional global serta domestik tanpa menghapus identitas masing-masing merek.
  • Merger ini memungkinkan keduanya berbagi sumber daya, menekan biaya, dan mempercepat inovasi melalui integrasi pengembangan produk, strategi bisnis, hingga ekosistem perangkat.
  • Kabar merger muncul di tengah restrukturisasi internal OnePlus dan isu penurunan aktivitas globalnya, memunculkan tanda perubahan arah strategi menuju efisiensi dan fokus pasar domestik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Industri smartphone kembali menjadi sorotan setelah muncul kabar bahwa OnePlus dan realme resmi melakukan merger. Langkah ini mencuat di tengah meningkatnya spekulasi mengenai OnePlus yang disebut tengah mengurangi, bahkan berpotensi menghentikan operasional di sejumlah pasar global. Selama ini, OnePlus dikenal sebagai merek yang agresif berekspansi di pasar internasional, termasuk Eropa dan Amerika Serikat. Namun, berbagai sinyal terbaru menunjukkan adanya perubahan strategi yang cukup signifikan.

Di sisi lain, kabar merger tersebut juga tidak bisa dipisahkan dari dinamika internal perusahaan dan hubungan keduanya dengan OPPO sebagai induk usaha. realme sebelumnya telah lebih dulu terintegrasi dengan OPPO, sementara OnePlus dalam beberapa tahun terakhir semakin dekat dari sisi operasional. Situasi ini membuat penggabungan keduanya terkesan sebagai bentuk konsolidasi yang sebenarnya sudah berlangsung secara bertahap. Meski belum ada konfirmasi resmi dari pihak terkait, berbagai laporan yang beredar cukup kuat untuk menarik perhatian publik. Berikut penjelasannya!

1. Merger di tengah isu kemunduran

kabar OnePlus dan realme resmi melakukan merger
kabar OnePlus dan realme resmi melakukan merger (weibo.com)

Kabar merger ini muncul di tengah berbagai laporan yang menyebut OnePlus tengah menghadapi tekanan besar di pasar global. Sebelumnya, merek tersebut sempat menegaskan bahwa operasional perusahaan berjalan normal. Namun, isu mengenai pemangkasan karyawan dan evaluasi bisnis di kawasan Eropa terus bermunculan. Bahkan, ada indikasi OnePlus akan menghentikan sebagian aktivitas operasionalnya di wilayah tersebut dalam waktu dekat. Situasi ini semakin menguatkan dugaan bahwa perusahaan sedang melakukan penyesuaian besar di tengah ketatnya persaingan industri.

Laporan terbaru dari tipster Digital Chat Station di platform Weibo pada 29 April 2026 menyebut OnePlus dan realme telah resmi bergabung. Kedua merek disebut akan berada di bawah “sub-product center” baru yang menangani operasional global maupun domestik di China, mencakup pengembangan produk, pemasaran, hingga layanan secara terintegrasi. Struktur baru tersebut juga dikabarkan berada di bawah kendali Pete Lau (Liu Zuohu), dengan dukungan sejumlah eksekutif seperti Li Jie dan Wang Wei. Meski begitu, OnePlus dan realme disebut tetap mempertahankan identitas masing-masing guna menjaga positioning merek di pasar.

2. OnePlus dan realme berbagi sumber daya dan strategi

Chase Xu
VP & CMO Realme, Chase Xu (realme.com)

Penggabungan ini membuka peluang besar bagi OnePlus dan realme untuk berbagi sumber daya secara lebih efisien. Berdasarkan laporan yang beredar, keduanya akan menyatukan pengembangan produk, strategi bisnis, hingga perencanaan peluncuran perangkat. Langkah tersebut dinilai mampu menekan biaya operasional sekaligus mempercepat inovasi di tengah persaingan yang semakin sengit. Selain itu, integrasi ini juga berpotensi menciptakan konsistensi yang lebih baik pada lini produk masing-masing.

Salah satu fokus utama dari merger ini adalah penggunaan ulang lini produk atau reuse of product lines. Artinya, perangkat dari kedua merek berpeluang memiliki kemiripan yang lebih tinggi, baik dari sisi desain maupun teknologi. Integrasi tersebut juga diperkirakan mencakup pengembangan software dan ekosistem perangkat. Dengan demikian, perbedaan antara OnePlus dan realme di masa mendatang kemungkinan tidak akan lagi setegas sebelumnya.

3. Apakah merger ini membuka potensi OnePlus untuk mundur dari pasar global?

OnePlus Watch 4
OnePlus Watch 4 (oneplus.com)

Meski merger ini belum secara langsung mengonfirmasi hengkangnya OnePlus dari pasar global, sejumlah indikator mengarah pada situasi yang patut dicermati. Laporan dari 9to5Google menyebut OnePlus berpotensi menghentikan operasional di beberapa wilayah, termasuk sebagian besar kawasan Eropa. Di saat yang sama, dalam beberapa bulan terakhir belum terlihat peluncuran produk global baru dari perusahaan tersebut. Kondisi ini memberi sinyal bahwa aktivitas OnePlus di pasar internasional sedang melambat.

Munculnya produk seperti OnePlus Watch 4 tanpa kepastian jadwal rilis maupun harga juga menambah tanda tanya. Sementara itu, realme memang memiliki jaringan distribusi luas di Eropa dan Asia, tetapi kehadirannya di Amerika Serikat masih terbatas. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa OnePlus berisiko kehilangan salah satu pasar pentingnya. Jika tren ini terus berlanjut, posisi OnePlus di panggung global bisa semakin tergerus.

4. Perubahan besar terlihat dari sisi internal perusahaan

Smartphone OnePlus Nord 4 berwarna abu-abu dengan dua kamera belakang dan layar penuh menampilkan teks Never Settle.
OnePlus Nord 4 (oneplus.com)

Perubahan signifikan juga terlihat dari sisi internal perusahaan. Salah satu yang paling mencolok adalah hengkangnya CEO OnePlus India, Robin Liu, yang dikabarkan kembali ke China. Selain itu, sejumlah karyawan disebut telah menerima paket pesangon sebagai bagian dari restrukturisasi perusahaan. Langkah tersebut menunjukkan adanya upaya efisiensi yang dilakukan secara serius. Dalam banyak kasus, restrukturisasi semacam ini kerap menjadi pertanda perubahan strategi jangka panjang.

Jika menilik ke belakang, OnePlus sebenarnya pernah mengambil langkah serupa pada 2020. Saat itu, perusahaan mengurangi operasional di Eropa setelah peluncuran seri Nord dan keluarnya Carl Pei. Sejak periode tersebut, hubungan OnePlus dan OPPO juga semakin erat, termasuk setelah Pete Lau mendapat peran baru di perusahaan induk. Ini menunjukkan bahwa proses konsolidasi sejatinya sudah berlangsung cukup lama.

5. Kondisi industri dan faktor pasar juga melatarbelakangi kedua merek ini untuk merger

Dua ponsel OnePlus 13 berwarna biru dan putih tampak melayang di dalam air dengan gelembung di sekitarnya.
OnePlus 13 (oneplus.com)

Selain faktor internal, tekanan industri smartphone global turut menjadi pendorong utama perubahan ini. Pasar saat ini menghadapi tantangan berupa kenaikan biaya produksi serta keterbatasan pasokan komponen. Sejumlah merek asal China disebut menjadi pihak yang paling terdampak oleh kondisi tersebut. Dalam situasi seperti ini, efisiensi menjadi prioritas utama banyak perusahaan teknologi.

Karena itu, penggabungan OnePlus dan realme dapat dilihat sebagai langkah strategis untuk bertahan. Penyatuan sumber daya memberi peluang menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan daya saing. Selain itu, fokus yang lebih besar pada pasar domestik seperti China juga menjadi opsi yang logis. Strategi ini sejalan dengan tren banyak perusahaan yang mulai memaksimalkan kekuatan pasar lokal.

Di sisi lain, merger ini juga bisa menandai memudarnya ambisi global OnePlus yang selama ini dikenal sebagai “flagship killer”. Selama bertahun-tahun, OnePlus membangun identitas sebagai merek yang menawarkan spesifikasi kelas atas serta harga kompetitif. Namun, jika fokus bisnis bergeser ke restrukturisasi dan efisiensi, identitas tersebut berpotensi berubah.

Ke depan, arah strategi OnePlus dan realme akan sangat menentukan posisi keduanya di industri smartphone. Apakah merger ini menjadi titik kebangkitan baru, atau justru awal berakhirnya ekspansi global OnePlus, masih menjadi pertanyaan besar. Hingga kini, kedua perusahaan belum memberikan pernyataan resmi terkait isu merger tersebut. Namun, melihat konsistensi laporan dan perubahan yang terjadi, restrukturisasi ini tampaknya bukan sekadar rumor biasa. Yang jelas, dinamika ini akan terus menjadi sorotan dalam waktu dekat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika
Follow Us

Related Articles

See More