Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Pertimbangan Sebelum Membeli Konsol Xbox di 2026

5 Pertimbangan Sebelum Membeli Konsol Xbox di 2026
ilustrasi Xbox (Unsplash/Billy Freeman)
Intinya Sih
  • Game eksklusif Xbox makin berkurang karena banyak judul andalan kini juga hadir di PlayStation dan PC, membuat daya tarik membeli konsol ini menurun.
  • Kontroler Xbox Series X/S dinilai kurang inovatif dibanding pesaing karena masih memakai baterai AA dan minim fitur modern seperti gyro atau teknologi stik presisi.
  • Harga konsol dan layanan Xbox meningkat akibat kelangkaan chip, sementara performa serta citra merek Microsoft di industri gaming terus melemah hingga 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Memilih sebuah konsol jadi salah satu kebimbangan tersendiri. Mulai dari masalah game eksklusif, teknologi terkini, hingga harga jadi pertimbangan penting yeng perlu dipikir matang-matang.

Nah jika kamu ingin membeli Xbox ada beberapa hal penting yang dipertimbangkan. Ketika pertama rilis, Xbox Series X menawarkan performa tinggi, sementara Series S hadir sebagai opsi lebih terjangkau dengan spesifikasi lebih rendah. Meski penjualannya kalah dari Nintendo Switch dan PS5, Xbox tetap punya pasar sendiri. Namun seiring berjalannya waktu, nilai yang didapat pemain semakin menurun.

Selain karena pesaing makin unggul, beberapa keputusan yang kurang tepat juga membuat posisi Xbox jadi kurang meyakinkan. Jadi, meski bukan konsol yang buruk, di 2026, Xbox rasanya bukan yang paling layak beli dari segi harga dan nilai. Berikut ulasan lengkapnya.

1. Tidak ada lagi game eksklusif

hero-image.fit_lim.v1678673381.jpg
ilustrasi game Xbox (dok. Microsoft)

Ketika “perang konsol” sedang panas-panasnya, setiap produsen konsol mengandalkan game eksklusif untuk menarik pemain. Tapi sejak Sega berhenti membuat konsol setelah Dreamcast, karakter ikonik seperti Sonic jadi “berpetualang” ke berbagai platform. Kini, Microsoft seakan mengikuti langkah Sega. Sejak 2024, mereka mulai merilis game andalan Xbox seperti Forza Horizon 5, Sea of Thieves, Halo Campaign Evolved ke PS5. Ditambah lagi, meski sudah mengakuisisi ZeniMax dan Activision Blizzard, Microsoft tetap merilis game besar seperti Call of Duty di PlayStation lewat kesepakatan dengan Sony. Akibatnya, daya tarik membeli konsol Xbox jadi melemah, apalagi hampir semua game Xbox juga tersedia di PC lewat Steam, Microsoft Store atau Game Pass.

2. Bukan konsol yang paling gesit secara performa

Dulu, Xbox Series X sempat dipasarkan sebagai konsol paling mumpuni secara performa dengan 12 teraflops, mengungguli PS5 yang berada di 10,28 teraflops. Namun situasinya berubah setelah Sony merilis PS5 Pro dengan GPU 16,7 teraflops yang tentu saja lebih unggul. Xbox Series X/S dan PS5 memang sama-sama mendapatkan versi ‘refresh’, tapi sayangnya performa GPU-nya masih sama karena peningkatan yang diberikan pada sistem pendingin dan penyimpanan saja. Alhasil, kehadiran PS5 Pro membuat posisi Xbox Series X tidak lagi dominan. Ditambah lagi, dukungan VR juga membuat PS5 Pro jadi pilihan yang lebih menarik bagi pemain yang ingin performa dan fitur maksimal.

3. Kontroler-nya jauh ketinggalan dibanding pesaing

pasqualino-capobianco-BhUjORnu8f8-unsplash.jpg
ilustrasi kontroler Xbox (Unsplash/Pasqualino Capobianco)

Kontroler Xbox 360 memang jadi salah satu kontroler dengan desain paling berpengaruh di industri gaming, sampai-sampai banyak kontroler modern mengadopsi layout serupa. Namun, kesuksesan ini membuat Microsoft terkesan jadi kurang berinovasi di kontroler Xbox Series X/S. Secara fungsi dasar memang tidak ada yang salah, tapi dibanding pesaing, fitur yang ditawarkan cukup tertinggal. Misalnya, tidak adanya gyro yang bisa menambah imersivitas seperti di game-game Nintendo atau PlayStation, serta minimnya adopsi teknologi stik modern seperti Hall Effect atau TMR yang lebih presisi. Selain itu, kritik terbesar juga ada pada bagian baterai di mana alih-alih baterai tanam, kontroller Xbox Series X/S masih mengandalkan baterai AA.

4. Tidak lagi murah

Lonjakan industri AI pada 2026 membuat biaya komponen melonjak drastis karena perusahaan berebut komponen seperti RAM dan chip untuk kebutuhan pusat data, yang akhirnya berdampak ke sektor lain, termasuk industri gaming. Kelangkaan chip ikut mendorong harga perangkat seperti PC dan konsol naik. Xbox Series X/S yang awalnya dirilis dengan harga relatif masuk akal kini mengalami kenaikan signifikan. Tidak hanya konsol, layanan Xbox Game Pass juga ikut terdampak. Meski jumlah game yang tersedia di layanan tersebut meningkat pesat, harga bulanan atau tahunan yang dipatok tetap terasa mahal, bahkan lebih tinggi jika dibandingkan kompetitor seperti PlayStation Plus.

5. Brand Xbox sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja

jonathan-kemper-kLqpttf2wGE-unsplash.jpg
ilustrasi brand Xbox (Unsplash/Jonathan Kemper)

Microsoft saat ini dianggap berada dalam posisi kurang baik di industri gaming, terutama untuk brand Xbox. Berbeda dengan perusahaan lain yang masih bisa bertahan berkat dukungan komunitas pemain, Microsoft justru dinilai kehilangan kepercayaan karena serangkaian keputusan yang kontroversial, termasuk gelombang PHK besar-besaran yang berdampak pada ribuan karyawan dan bahkan membuat beberapa studio kehilangan sebagian besar timnya atau ditutup sepenuhnya. Selain itu, ketidakjelasan arah Xbox ke depannya, termasuk rumor tentang apakah konsol berikutnya (Project Helix) masih mendukung game fisik dan berbentuk konsol, membuat para pemain jadi kurang antusias terhadap konsol anyar itu ketika nantinya dirilis.

Itulah tadi ulasan mengenai beberapa kekurangan membeli konsol Xbox di 2026. Tetap tertarik meminang konsol Xbox setelah membaca ulasan di atas?

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More