Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Genre Game yang Cocok Diadaptasi ke Harry Potter, Ada Horor?

5 Genre Game yang Cocok Diadaptasi ke Harry Potter, Ada Horor?
Hutan Terlarang dalam Hogwarts Legacy (dok. Avalanche Software/Hogwarts Legacy)
Intinya Sih
  • Artikel membahas potensi besar dunia Harry Potter untuk dikembangkan menjadi berbagai genre game baru setelah kesuksesan Hogwarts Legacy (2023).
  • Lima genre yang dianggap cocok adalah life sim, roguelike, strategy, horor psikologis, dan balapan dengan elemen khas dunia sihir.
  • Setiap genre menawarkan pengalaman unik seperti kehidupan di Hogwarts, eksplorasi dungeon magis, taktik politik sihir, nuansa horor Dementor, hingga balapan sapu terbang ala Quidditch.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Harry Potter adalah salah satu intellectual property (IP) yang tak pernah lekang oleh waktu. Awalnya, ia hadir sebagai novel karya penulis Inggris, J.K. Rowling, yang lahir pada 31 Juli 1965. Cerita petualangan Harry, Hermione, dan Ron ini kemudian diadaptasi dan berkembang menjadi delapan film, dimulai dari Harry Potter and the Sorcerer's Stone (2001) hingga Harry Potter and the Deathly Hallows - Part 2 (2011).

Perjalanan Harry Potter tidak berhenti di layar lebar saja. IP ini juga merambah ke industri game yang mengangkat cerita dari film-filmnya. Terbaru, Hogwarts Legacy (2023) menjadi game open world terbesar dalam dunia Harry Potter yang sukses secara komersial dan menuai ulasan positif.

Punya dunia yang begitu luas dan kaya, Harry Potter masih menyimpan banyak potensi untuk dieksplorasi dalam bentuk game. Ia bahkan berpeluang besar menghadirkan genre baru yang belum pernah digarap sebelumnya. Dari sekian banyak kemungkinan, ada lima genre yang terasa paling cocok untuk dikembangkan sebagai game adaptasi Harry Potter.

1. Life sim membebaskanmu menjalani rutinitas dalam dunia Harry Potter

Harry Potter and the Sorcerer's Stone
Harry Potter bersama Hermione dan Ron (dok. Warner Bros. Pictures/Harry Potter and the Sorcerer's Stone)

Simulasi kehidupan atau life simulation (life sim) menjadi salah satu genre primadona bagi gamer yang ingin menikmati gameplay santai, tetapi tetap seru. Sejumlah developer telah mengembangkan game life sim dengan ciri khasnya masing-masing, mulai dari Stardew Valley (2016) yang mengusung grafik pixel ala game jadul hingga inZOI (2025) yang menawarkan grafik realistis sekelas game AAA. Yang pasti, genre ini memungkinkanmu menjalani kehidupan sesuai peran yang kamu mainkan dalam game.

Harry Potter: Hogwarts Mystery (2018) dan Hogwarts Legacy sebenarnya telah menyuguhkan elemen life sim meski belum dieksekusi sebagai game murni. Jika dikembangkan lebih jauh, konsep ini dapat memberikanmu kebebasan untuk berperan sebagai siswa maupun guru di asrama sihir Hogwarts. Selain itu, kamu juga dapat menjalin hubungan sosial dengan non-playable character (NPC), mengikuti kegiatan belajar mengajar, hingga memanfaatkan sihir untuk membantu berbagai aktivitas.

2. Roguelike menjadi jawaban untuk membuat game Harry Potter yang sulit

Hogwarts Legacy
Hogwarts Legacy (dok. Avalanche Software/Hogwarts Legacy)

Kenal Dead Cells (2017) dan Spelunky 2 (2020) yang dikenal dengan sistem permadeath yang menantang? Jika iya, berarti kamu sudah cukup familiar dengan genre roguelike. Ia identik dengan eksplorasi dungeon serta level permainan yang selalu berubah secara acak sehingga memaksamu untuk terus beradaptasi dalam berbagai situasi.

Bayangkan jika formula roguelike ini diterapkan dalam game adaptasi Harry Potter. Gameplay-nya bisa saja menampilkan dungeon yang dipenuhi monster menakutkan, jebakan, dan teka-teki yang selalu berubah setiap kali karakter gagal atau tewas. Konsep ini akan semakin menarik jika turut menghadirkan sihir, mantra, dan ramuan yang sudah menjadi elemen khas dari dunia fantasi ciptaan J.K. Rowling.

3. Perpaduan sihir dan politik cocok digarap jadi game strategy Harry Potter

Harry Potter and the Deathly Hallows - Part 2
Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 (dok. Warner Bros. Pictures/Harry Potter and the Deathly Hallows - Part 2)

Meski tidak sepopuler genre lain, game strategy tetap bertahan sampai sekarang. Sesuai namanya, genre ini menekankan perencanaan taktik serta pengambilan keputusan yang matang untuk mencapai tujuan dalam game. Seri Age of Empires (1997—2024) dan XCOM (1994—2020) menjadi contoh game strategy populer yang menawarkan mekanisme kompleks, tetapi tetap seru untuk dimainkan.

Dunia Harry Potter yang kaya akan sihir dan politik sangat cocok diadaptasi ke dalam game strategy. Ia dapat merombak mekanisme third-person shooter dari game adaptasi duologi film Harry Potter and the Deathly Hallows (2010—2011) yang sempat menuai kontroversi menjadi sistem turn-based atau tactical. Tak hanya berfokus pada pertempuran berbasis taktik, game strategy versi Harry Potter dapat dibalut dengan aspek pembangunan dan pengelolaan asrama Hogwarts, lengkap dengan sistem sumber daya hingga diplomasi antarfaksi.

4. Harry Potter berani memamerkan potensinya dalam genre horor

Dementor
Dementor (dok. Warner Bros. Pictures/Harry Potter and the Prisoner of Azkaban)

Game horor identik dengan unsur ketakutan dan kengerian sebagai daya tarik utamanya. Horor pun terbagi ke dalam berbagai subgenre, contohnya survival horror, psychological horror, dan sci-fi horror. Lantas, subgenre mana yang paling cocok diadaptasi ke dalam dunia Harry Potter?

Lewat atmosfer dan tekanan mental yang kuat, waralaba Silent Hill (1999—2025) sudah menunjukkan bahwa psychological horror layak dikombinasikan dengan semesta Harry Potter. Developer bisa mengambil inspirasi dari film Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (2004) yang sempat menyentuh nuansa horor melalui kehadiran Dementor, makhluk penjaga Azkaban yang menghisap kebahagiaan manusia. Meski adaptasi gamenya sudah pernah dibuat pada tahun yang sama, developer dapat mengembangkan ulang gamenya menjadi lebih menyeramkan dan dark dibandingkan versi orisinalnya.

5. Game balapan Harry Potter berpeluang hadir dengan fitur dari seri ikonik

Harry Potter: Quidditch Champions
Harry Potter: Quidditch Champions (dok. Unbroken Studios/Harry Potter: Quidditch Champions)

Need for Speed dan Forza Horizon menjadi bukti besarnya popularitas genre balapan. Ia bahkan termasuk salah satu genre tertua sepanjang sejarah game. Gameplay-nya yang sederhana dan mudah dikuasai membuatnya tetap digemari sampai sekarang.

Harry Potter: Quidditch World Cup (2003) dan Harry Potter: Quidditch Champions (2018) sebenarnya telah memperkenalkan mekanik terbang dengan sapu yang bisa menjadi fondasi kuat untuk digarap sebagai game balapan. Ia mungkin dapat meminjam konsep dari waralaba Crash Bandicoot yang menawarkan power-up untuk memberikan efek khusus, lalu menggantinya menjadi ramuan dalam game balapan Harry Potter. Untuk menambah variasi, gamenya juga dapat menampilkan Hippogriff dan Thestral sebagai alternatif tungganggan yang dapat dibuka setelah menyelesaikan misi tertentu.

Melihat luasnya potensi dunia sihir yang dimiliki, rasanya sayang jika tidak dimanfaatkan secara maksimal ke dalam bentuk game. Semoga salah satu dari kelima genre ini benar-benar dapat diwujudkan di masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika
Follow Us

Latest in Tech

See More