Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Google Cloud Next ‘26: Inovasi AI dan Agentic Enterprise
Google Cloud Next 2026. (IDN Times/Uni Lubis)
  • Google Cloud Next '26 memperkenalkan konsep Agentic Enterprise dengan Gemini Enterprise, mendorong perusahaan mengelola ribuan AI agent secara efisien dan mencatat pertumbuhan pengguna aktif berbayar hingga 40% pada awal 2026.
  • Google Cloud menegaskan keamanan sebagai fondasi utama era AI melalui kolaborasi dengan Wiz, menghadirkan platform keamanan berbasis AI yang mampu memproses jutaan alert dan mempercepat analisis ancaman dari 30 menit menjadi 60 detik.
  • Kolaborasi Google Cloud dan Wiz melahirkan solusi Agentic Defense seperti Dark Web Intelligence dan Threat Hunting Agent, memungkinkan deteksi ancaman proaktif lintas multicloud dengan akurasi hingga 98%.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ajang Google Cloud Next '26 di Las Vegas menjadi panggung bagi Google Cloud untuk memperkenalkan gelombang inovasi AI terbaru yang ditujukan bagi organisasi di Asia Tenggara. Dalam pengumuman terbarunya, Google Cloud menegaskan ambisinya untuk membantu perusahaan bertransformasi menjadi Agentic Enterprise, sebuah konsep di mana kecerdasan buatan tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi motor utama pertumbuhan bisnis.

Inovasi ini dibangun di atas unified AI stack yang dirancang untuk mengubah kecerdasan menjadi penggerak nilai nyata. Melalui pendekatan tersebut, organisasi kini bisa melangkah lebih jauh dari sekadar chatbot menuju penggunaan AI agent otonom yang mampu memahami konteks, melakukan penalaran, serta mengambil tindakan secara mandiri untuk menghasilkan dampak bisnis yang konkret.

1. Gemini Enterprise dan era baru Agentic Enterprise

Sundar Pichai mengungkapkan bahwa pergeseran menuju era Agentic Enterprise semakin nyata sejak diperkenalkannya Gemini Enterprise sebagai sistem end-to-end untuk mendukung transformasi berbasis AI. Pada kuartal pertama 2026, platform ini mencatat pertumbuhan pengguna aktif berbayar hingga 40% secara kuartalan, menunjukkan adopsi yang sangat cepat di berbagai organisasi.

Menurut Pichai, transformasi ini membawa perubahan besar dalam cara perusahaan bekerja.

“Setiap karyawan kini bisa menjadi builder,” ujarnya.

Namun, kemajuan tersebut juga menghadirkan kompleksitas baru, di mana perusahaan tidak lagi sekadar bertanya apakah mereka bisa membangun AI agent, tetapi bagaimana mengelola ribuan agent secara efisien.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Google Cloud memperkenalkan Gemini Enterprise Agent Platform, sebuah “mission control” yang dirancang untuk membantu organisasi mengelola, mengatur, dan mengoptimalkan penggunaan AI agent dalam skala besar.

Adopsi AI dari Google Cloud sendiri sudah sangat luas. Hampir 75% pelanggan Google Cloud kini memanfaatkan teknologi AI untuk mendukung bisnis mereka, mulai dari perusahaan di Asia Tenggara seperti CIMB Niaga, DBS, dan Emtek Group, hingga brand global seperti NASA, McDonald's, dan Unilever.

2. Keamanan jadi fondasi Agentic Enterprise di era AI

Google Cloud Next 2026. (IDN Times/Uni Lubis)

Seiring adopsi AI yang semakin masif, perusahaan kini menghadapi tantangan keamanan yang jauh lebih kompleks. Lingkungan hybrid dan multicloud yang kian luas membuat permukaan serangan (attack surface) ikut meningkat. Sementara itu, penggunaan AI agent yang mengakses data sensitif membuka celah baru bagi potensi ancaman. Di sisi lain, pelaku kejahatan siber juga mulai memanfaatkan AI untuk melancarkan serangan yang lebih cepat dan canggih, secara langsung menargetkan model bisnis baru berbasis AI tersebut.

Untuk menghadapi situasi ini, Google Cloud menekankan pentingnya penggunaan AI sebagai bagian dari sistem pertahanan. Platform keamanan siber berbasis AI yang ditawarkan menggabungkan kemampuan Threat Intelligence dan Security Operations milik Google dengan platform keamanan cloud dan AI dari Wiz. Pendekatan ini memungkinkan organisasi untuk mencegah, mendeteksi, hingga merespons ancaman secara menyeluruh di berbagai lingkungan kerja.

"Kami sangat menyukai Wiz. Mereka terlihat unik di pasar dan telah menjadi pionir dalam kategori ini, dengan banyak integrasi yang sudah kami bangun bersama, mulai dari Mandiant, Google Threat Intelligence, hingga Google Security Operations," ujar Francis deSouza, Chief Operating Officer of Google Cloud.

Salah satu implementasinya adalah Triage and Investigation Agent, yang telah memproses lebih dari 5 juta alert keamanan hingga saat ini. Dengan bantuan AI, proses analisis yang sebelumnya membutuhkan waktu sekitar 30 menit kini dapat diselesaikan hanya dalam 60 detik. Efisiensi ini tidak hanya meningkatkan kecepatan respons, tetapi juga membantu tim keamanan fokus pada ancaman yang benar-benar kritis di tengah lanskap siber yang semakin dinamis.

3. Agentic Defense

Untuk memperkuat komitmennya dalam keamanan multicloud, Google Cloud bersama Wiz terus memperluas dukungan ke berbagai platform populer seperti Databricks, Amazon Bedrock AgentCore, Gemini Enterprise Agent Platform, Microsoft Azure Copilot Studio, hingga Salesforce Agentforce. Integrasi ini memungkinkan organisasi memiliki visibilitas penuh atas sistem mereka, terlepas dari bagaimana dan di mana AI agent dikembangkan.

Selain itu, Google Cloud juga memperkenalkan berbagai solusi Agentic Defense untuk membantu perusahaan menghadapi ancaman siber generasi baru. Salah satunya adalah Dark Web Intelligence yang memanfaatkan model Gemini untuk membangun profil ancaman organisasi secara lebih mendalam, dengan kemampuan menganalisis jutaan aktivitas eksternal setiap hari hingga akurasi 98%.

Ada pula Threat Hunting Agent yang memungkinkan tim keamanan secara proaktif mencari pola serangan baru, serta Detection Engineering Agent yang mampu mengotomatisasi pembuatan aturan deteksi ancaman.

"Kolaborasi ini menjadi akselerator bagi Wiz, tidak hanya dari sisi teknologi dan roadmap, tetapi juga dalam memperluas akses ke pelanggan global melalui kekuatan go-to-market Google Cloud.” ujar Francis.

Di sisi lain, Wiz menghadirkan serangkaian AI agent yang bekerja layaknya tim keamanan digital. Wiz Red Agent berperan sebagai “peneliti keamanan” yang mampu mengidentifikasi celah secara real-time, sementara Wiz Blue Agent mengumpulkan dan menganalisis bukti dari berbagai sumber untuk menilai tingkat ancaman.

Adapun Wiz Green Agent berfungsi sebagai mesin investigasi dan remediasi otomatis, yang tidak hanya menemukan akar masalah tetapi juga memberikan panduan perbaikan langkah demi langkah yang spesifik sesuai lingkungan sistem.

Dengan kombinasi teknologi ini, pendekatan keamanan tidak lagi bersifat reaktif, melainkan proaktif dan berbasis kecerdasan. Organisasi pun dapat bergerak lebih cepat dalam mengidentifikasi, memahami, dan mengatasi ancaman, sekaligus menjaga keandalan sistem di tengah kompleksitas era AI.

Editorial Team