Palantir menjadi sorotan publik global karena keterlibatan langsung dalam mendukung operasi militer Israel di Palestina. Perusahaan teknologi raksasa asal Denver, Amerika Serikat, itu secara terbuka menyatakan komitmen penuh untuk menyokong kebutuhan pertahanan Israel lewat berbagai platform kecerdasan buatan (AI) terbaru. Kehadiran teknologi itu memicu perdebatan etis yang panas karena banyak pihak menuding mereka sebagai instrumen vital dalam krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung.
Alex Karp, direktur utama Palantir, menegaskan kebanggaan dalam membantu militer Israel lewat penyediaan alat-alat tempur digital termutakhir. Langkah berani korporasi itu mencakup penyelenggaraan rapat dewan direksi di Tel Aviv, Israel, sebagai bentuk solidaritas nyata. Kemitraan strategis itu mengundang kecaman luas dari aktivis hak asasi manusia yang mengkhawatirkan penggunaan unregulated AI warfare dalam konflik bersenjata.
