Riset terbaru Perhimpunan Bank Nasional (PERBANAS), IBM, dan K&A mengungkap bahwa tata kelola kecerdasan buatan atau AI di industri perbankan Indonesia masih perlu diperkuat. Berdasarkan penelitian tersebut, tingkat kematangan tata kelola AI di organisasi responden baru mencapai skor rata-rata 2,74 dari skala 5, atau sekitar 55 persen.
Di sisi lain, sebanyak 73 persen bankir Indonesia menilai kedaulatan digital penting bagi transformasi perbankan dalam 12 hingga 24 bulan ke depan. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara ambisi pemanfaatan AI dan kesiapan organisasi dalam mengelola teknologi tersebut secara aman dan bertanggung jawab.
Hasil penelitian yang dipublikasikan melalui whitepaper Digital Sovereign AI and the Future of Trusted Banking pada Selasa (27/10/2026) juga menyoroti persoalan privasi data. Sebanyak 82 persen responden menganggap privasi sebagai risiko AI yang paling perlu dikendalikan, sementara sebagian besar bank masih berada pada tahap uji coba atau penerapan terbatas.
