Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Teknologi Dampingi Pengajar di Pesantren Menyimak Hafalan Santri

Teknologi Dampingi Pengajar di Pesantren Menyimak Hafalan Santri
Ilustrasi santri. (pixabay/SyauqiFillah)
Intinya Sih
  • Pondok Pesantren Cipasung di Tasikmalaya mulai memanfaatkan fitur Reading Progress di Microsoft Teams untuk membantu pengajar menyimak dan menilai pelafalan hafalan Alquran santri secara lebih akurat.
  • Hasan Basri, pengajar Bahasa Arab dan TIK, menggunakan teknologi seperti Copilot untuk mengurangi beban administratif, sehingga bisa lebih fokus pada pembinaan akhlak serta pendampingan belajar santri.
  • Pemanfaatan AI melalui Copilot dan fitur Conversation Practice memperluas ruang belajar santri, memungkinkan latihan bahasa dan bacaan dilakukan mandiri maupun jarak jauh tanpa batas waktu atau tempat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pondok Pesantren Cipasung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, belakangan ini mulai memanfaatkan dukungan teknologi untuk membantu menyimak pelafalan daripada santri yang menyetorkan hafalan dan bacaan Alquran. Melalui fitur Reading Progress di Microsoft Teams Learning Accelerators, pengajar dapat mengoreksi secara langsung, memastikan setiap huruf yang diucapkan tepat.

Setiap kali seorang santri maju untuk menyetorkan bacaan, biasanya memakan waktu yang tidak singkat. Hasan Basri, pengajar di sana harus menyimak pelafalan dengan seksama untuk memahami letak perbaikannya. Dalam satu sesi kelas, proses ini bisa berulang puluhan kali, menuntut ketelitian tinggi agar tidak ada detail yang terlewat.

Bukan menggantikan 'pengajaran'

Disini, teknologi tidak menggantikan cara Hasan mengajar, tetapi memperkuat ketepatan penilaiannya. Sejak 2016, Ia mengabdikan diri sebagai pengajar Bahasa Arab dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di lingkungan pesantren hingga di tingkat universitas. Pengalamannya yang panjang sebagai pendidik membuatnya menyaksikan langsung perubahan metode pembelajaran, dari yang sepenuhnya konvensional hingga mulai memanfaatkan teknologi seperti animasi pembelajaran sejak 2018.

Wawasannya tentang akal imitasi/artificial intelligence (AI) mulai terbuka ketika ia diperkenalkan pada pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan melalui berbagai pelatihan dan diskursus di tingkat nasional yang mendorong transformasi digital bagi tenaga pendidik. Seiring meningkatnya perhatian pemerintah dan ekosistem pendidikan terhadap peran AI dalam pembelajaran, ia melihat bahwa teknologi yang sebelumnya terasa jauh dari ruang kelas pesantren mulai diarahkan untuk mendukung proses belajar-mengajar secara lebih luas dan inklusif.

Ketertarikan untuk mengeksplorasi AI  kemudian membawanya mengikuti AI Teaching Power, program pelatihan kolaborasi Microsoft Elevate dan NUCare Global by LAZISNU yang membekali guru dengan keterampilan praktis memanfaatkan AI dalam pembelajaran berbasis nilai. Pengalaman tersebut menjadi titik balik yang membuat Hasan mulai melihat AI bukan sebagai konsep abstrak, melainkan alat yang relevan dengan keseharian mengajarnya.

Copilot yang menjadi asisten

Picture2.png
Fitur Reading Progress di Microsoft Teams Learning Accelerators (dok. Microsoft)

Selama bertahun-tahun mengajar, salah satu tantangan terbesar yang Hasan hadapi adalah keterbatasan waktu. Tanggung jawabnya tidak berhenti di ruang kelas. Ia harus menyiapkan rencana pembelajaran, menyusun silabus, membuat materi, hingga mengoreksi tugas santri secara manual.

Di saat yang sama, ia ingin memastikan setiap santri mendapatkan perhatian yang cukup, terutama dalam pelajaran berbasis bahasa dan bacaan yang membutuhkan evaluasi detail. Beban administratif yang besar kerap menyita waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk mendampingi proses belajar secara lebih mendalam.

Kondisi inilah yang berubah ketika ia mulai menggunakan Microsoft Copilot dalam kesehariannya. Sejak menggunakan Copilot sebagai ‘asisten’ mengajar, pekerjaan administratif dapat diselesaikan jauh lebih efisien. Ia memanfaatkannya untuk menyusun materi, merancang evaluasi, hingga membangun struktur pembelajaran Bahasa Arab yang lebih sistematis.

Efisiensi ini memberinya ruang untuk memperkuat pembinaan akhlak kepada para santrinya. Waktu yang sebelumnya habis mengurus dokumen kini dapat dialihkan untuk berinteraksi lebih dekat dengan santri.

“Dulu banyak waktu habis untuk administrasi. Sekarang lebih bisa fokus pada pambinaan akhlak para santri,” ujar Hasan

Perubahan tersebut juga memengaruhi cara ia menyampaikan materi. Pelajaran agama yang sebelumnya hanya berfokus pada lisan kini dapat diperkaya dengan media pembelajaran yang lebih variatif, membuat santri lebih terlibat dalam proses belajar.

Ruang belajar semakin meluas

Perubahan pendekatan mengajar tersebut berdampak langsung pada pengalaman belajar murid. Melalui fitur AI Conversation Practice di Copilot, santri dapat mensimulasikan percakapan Bahasa Arab secara mandiri, mulai dari dialog perkenalan hingga diskusi materi pelajaran. Latihan yang sebelumnya terbatas pada jam kelas, yang kini dapat dilakukan kapan saja.

Pemanfaatan AI juga meluas ke pembelajaran Alquran dan kitab rujukan pesantren lainnya. Melalui Reading Progress dan Speaking Progress, Hasan dapat memantau kemampuan baca santri secara komprehensif, mulai dari pelafalan, kaidah tajwid, tanda baca, hingga struktur bahasa.

Dalam praktiknya, santri mengakses pembelajaran melalui perangkat masing-masing. Sebagian menggunakan laptop pribadi, sementara lainnya memanfaatkan komputer atau PC yang tersedia di lingkungan belajar. Fleksibilitas ini memastikan seluruh siswa tetap dapat mengikuti latihan membaca maupun berbicara  secara optimal, baik di kelas maupun saat belajar mandiri.

Memasuki bulan suci Ramadan, ketika intensitas pengkajian Alquran di lingkungan pesantren meningkat, pendekatan ini menjadi semakin relevan. Santri dapat berlatih secara mandiri di luar jam kelas, sementara Hasan tetap memantau perkembangan mereka.

Ketika pembelajaran tidak dapat dilakukan secara langsung, misalnya karena santri atau pengajar berada di luar kota, proses belajar tetap dapat berlangsung. Latihan membaca dan speaking dilakukan dari jarak jauh, sementara pendalaman materi dilanjutkan melalui pertemuan daring (online). Dengan begitu, pembelajaran tidak lagi terputus oleh keterbatasan ruang dan waktu.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Tech

See More