Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
4 Tradisi Ramadan di Iran, Mirip dengan Indonesia
ilustrasi Ramadan di Tehran, Iran (unsplash.com/Arman Taherian)

Sebagai negara muslim, Iran juga tengah melaksanakan ibadah puasa sama seperti di Indonesia, lho. Durasi puasa di Iran umumnya berkisar antara 14-17 jam per hari, tergantung pada lokasi spesifik dan musim saat Ramadan jatuh.

Menariknya, tradisi penduduk Iran saat Ramadan sebenarnya juga tak jauh berbeda dengan di Indonesia. Iran pun memiliki kebiasaan bagi-bagi takjil hingga buka puasa bersama di masjid, nih. Berikut tradisi Ramadan di Iran yang menarik untuk diketahui.

1. Larangan makan dan minum di tempat umum

ilustrasi makan di tempat umum (unsplash.com/Anna Kumpan)

Selama Ramadan, pemerintah setempat juga memberlakukan peraturan publik khusus untuk mengakomodasi penduduk Iran yang berpuasa, lho. Mengonsumsi makanan dan minuman dilarang di tempat umum, mulai dari subuh hingga matahari terbenam, termasuk taman, jalan raya, pusat perbelanjaan, hingga transportasi umum.

Selain itu, beberapa bisnis yang berkaitan dengan makanan atau minuman akan menyesuaikan jam operasional selama Ramadan. Toko dan restoran sering kali akan buka lebih siang dari biasanya untuk melayani buka puasa dan tetap beroperasi hingga larut malam.

Tentunya, pengecualian berlaku dalam situasi dan tempat tertentu, seperti di hotel, hostel, maupun bandara yang melayani banyak turis internasional. Namun, aktivitas makan dan minum di area tersebut juga tetap harus memperhatikan peraturan pemerintah setempat.

2. Berbagi takjil ke masjid hingga tetangga

ilustrasi berbagi kurma (unsplash.com/Rauf Alvi)

Sama seperti di Indonesia, Iran juga memiliki tradisi berbagi makanan atau takjil yang disebut Eftari saat Ramadan, nih. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk solidaritas komunitas dan keramahtamahan kepada sesama Muslim hingga tetangga.

Tradisi Eftari di Iran ditandai dengan buka puasa bersama di masjid, terutama yang sering kali ditemui di Kota Mashhad. Selain itu, penduduk Iran juga memiliki kebiasaan berbagi hidangan manis seperti, kurma zoolbia, bamieh, dan sholeh Zard kepada tetangga dan kerabat.

Zoolbia dan bamieh adalah kue khas Persia yang dilapisi dengan sirup gula. Sementara sholeh zard adalah puding saffron yang beraroma wangi. Penduduk Iran juga terkadang berbagi makanan yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk buka puasa, yakni kurma.

3. Menu buka puasa dan sahur yang khas

ilustrasi menu berbuka puasa (unsplash.com/Saile Ilyas)

Penuduk Iran akan berbuka puasa dengan kurma dan air, lalu dilanjutkan dengan beberapa menu yang khas selama Ramadan, nih. Hidangan pembukanya biasanya adalah ash reshteh, sup mi tebal yang memadukan berbagai herba dan kacang-kacangan dan shorbat, sup lentil merah.

Sementara untuk menu utama akan dihidangkan ghormeh sabzi (sup herbal), fesenjan (sup delima dan kenari), dan berbagai macam kebab di meja makan. Setelah itu, buka puasa akan ditutup dengan sejumlah dessert lezat seperti baklava, zoolbia, dan bamieh.

Sebaliknya, menu sahur penduduk Iran sangat sederhana. Mereka hanya akan menyantap makanan ringan yang umumnya meliputi, roti, keju, yogurt, buah-buahan, hingga kacang-kacangan guna menjaga tingkat energi sepanjang hari.

4. Hampir tidak ada salat tarawih di masjid

ilustrasi salat tarawih (unsplash.com/Annas Arfnahri)

Tradisi salat tarawih berjamaah di masjid mungkin akan sangat jarang ditemui di Iran. Di negara tersebut, mayoritas penduduknya menganut paham Syiah Imamiyah, di mana salat tarawih berjamaah di masjid seperti di Indonesia umumnya tidak dilaksanakan.

Sebagai gantinya, penduduk Iran selama Ramadan biasanya akan lebih fokus pada salat tarawih dan ibadah mandiri di rumah masing-masing. Namun, buka puasa bersama tetap dilaksanakan di banyak masjid. Bahkan ada peringatan Hari Al-Quds pada Jumat terakhir Ramadan di Iran.

Meski langka, aktivitas salat tarawih berjamaah di masjid mungkin dapat ditemui di komunitas Sunni di Iran. Bagi yang ingin mencoba pengalaman berpuasa di Iran, negara tersebut bebas visa bagi pemegang paspor Indonesia, lho.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team