Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Nepal Sepi Turis Pascabanjir Bandang, Begini Kondisi Wisatanya
Potret pemandangan Pegunungan Himalaya di Nepal (unsplash.com/Sanjay Hona)
  • Banjir bandang Sungai Bhotekoshi akhir Agustus 2026 memicu pembatalan hotel dan penurunan wisatawan di tengah musim gugur, terutama akibat akses jalan terganggu serta persepsi Nepal tidak aman.
  • Chitwan mencatat okupansi hotel di bawah 5 persen dan Royal Tulip mengalami 80 persen pembatalan; Pokhara kehilangan sekitar 30 persen pemesanan, sementara Lumbini turut sepi meski tetap aman.
  • Kerugian pariwisata diperkirakan hampir 52 miliar Rupee Nepal, dengan 142 hotel rusak atau hancur; namun Kathmandu, Pokhara, dan Chitwan mulai beroperasi normal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Nepal tengah menghadapi pukulan berat di sektor pariwisata setelah banjir bandang yang melanda Sungai Bhotekoshi pada akhir Agustus 2026. Bencana tersebut tidak hanya menyebabkan kerusakan di sejumlah wilayah terdampak, tetapi juga memunculkan kekhawatiran wisatawan untuk berkunjung ke Nepal. Akibatnya, pembatalan pemesanan hotel mulai terjadi di sejumlah destinasi, tepat ketika negara tersebut memasuki musim wisata musim gugur yang biasanya menjadi salah satu periode tersibuk dalam setahun.

Dilansir The Kathmandu Post pada Senin (14/9/2026), hotel-hotel di Pokhara, Chitwan, dan Lumbini melaporkan adanya pembatalan dari wisatawan mancanegara maupun domestik. Kondisi jalan yang terganggu menjadi salah satu alasan wisatawan mengurungkan perjalanan. Di sisi lain, pemberitaan mengenai banjir turut membentuk persepsi bahwa kondisi di seluruh Nepal sedang tidak aman, meski sejumlah destinasi wisata sebenarnya tidak terdampak langsung.

Dampaknya pun mulai terlihat dari tingkat hunian hotel yang menurun drastis. Padahal, September hingga Desember merupakan periode penting bagi industri pariwisata Nepal, karena menjadi musim kunjungan wisatawan untuk berbagai aktivitas, termasuk perjalanan alam dan trekking.

Lantas, seperti apa kondisi sejumlah destinasi wisata Nepal setelah banjir Bhotekoshi? Berikut gambarannya yang perlu kamu tahu.

1. Chitwan sepi wisatawan, tingkat hunian hotel di bawah 5 persen

Chitwan menjadi salah satu destinasi yang mengalami dampak cukup terasa, meski tidak terkena banjir secara langsung. Kawasan Sauraha yang menjadi salah satu pintu masuk wisata menuju ke Taman Nasional Chitwan, biasanya ramai dikunjungi wisatawan pada periode ini.

Sauraha memiliki sekitar 125 hotel dengan kapasitas gabungan mencapai 8.000 wisatawan per hari. Namun, situasinya berbeda pada tahun ini. Jumlah wisatawan yang datang turun drastis dan tingkat hunian hotel dilaporkan berada di bawah 5 persen.

Salah satu penyebabnya adalah terputusnya akses darat menuju ke Chitwan setelah ruas Jalan Raya Krishnabhir hanyut diterjang banjir. Kondisi tersebut membuat wisatawan yang sebelumnya berencana melakukan perjalanan darat memilih membatalkan kunjungan.

Dampaknya juga dirasakan Royal Tulip Chitwan Hotel. Hotel dengan 65 kamar yang dikelola KTM Hospitality tersebut dilaporkan menerima pembatalan sekitar 80 persen.

Meski banjir Bhotekoshi tidak sampai merusak kawasan wisata Chitwan, pemberitaan mengenai bencana dan berbagai imbauan perjalanan membuat sebagian wisatawan menganggap kondisi Nepal secara keseluruhan sedang tidak aman.

2. Pokhara menghadapi pembatalan hingga 30 persen

Potret Kota Pokhara (unsplash.com/Sanjay Hona)

Pokhara juga tidak luput dari dampak banjir, terutama karena terganggunya akses transportasi menuju ke kota wisata tersebut. Kota yang berada di Distrik Kaski ini dikenal sebagai salah satu tujuan utama wisatawan yang ingin menikmati pemandangan pegunungan Himalaya, sekaligus menjadi titik keberangkatan untuk sejumlah perjalanan trekking.

Menurut ketua Dewan Pariwisata Pokhara, Hari Bhujel, sekitar 30 persen pemesanan hotel di Pokhara telah dibatalkan setelah banjir terjadi. Kondisi tersebut terjadi ketika musim kunjungan wisatawan mancanegara sebenarnya baru mulai memasuki periode sibuk.

Selain kerusakan Jalan Raya Prithvi di kawasan Krishnabhir, sektor pariwisata Pokhara juga menghadapi sejumlah kendala lain. Kenaikan harga tiket pesawat, keterbatasan penerbangan antara Pokhara dan Kathmandu, serta penerapan tarif dalam mata uang dolar bagi wisatawan mancanegara turut menjadi tantangan bagi industri pariwisata setempat.

Sepinya wisatawan juga terlihat di terminal bus wisata di Mustang Chowk, Pokhara. Jika sebelumnya terminal tersebut ramai sejak pagi hingga malam, kini aktivitasnya jauh berkurang.

Sebelum terjadi gangguan perjalanan, sekitar 24 bus wisata berangkat menuju ke Kathmandu pada pagi hari dan delapan bus pada malam hari. Saat ini, sebagian layanan bus yang masih beroperasi lebih banyak melayani perjalanan menuju ke destinasi seperti Chitwan dan Lumbini.

3. Lumbini ikut terdampak meski situs wisata tetap aman

Lumbini merupakan destinasi penting bagi wisata religi dan sejarah, karena dikenal sebagai tempat kelahiran Siddhartha Gautama atau Buddha. Namun, arus wisatawan ke kota tersebut juga mengalami penurunan setelah banjir Bhotekoshi.

Menurut ketua Asosiasi Hotel Lumbini, Lilamani Sharma, wisatawan mancanegara yang sebelumnya berencana menuju ke Lumbini melalui Kathmandu telah membatalkan pemesanan hotel. Pembatalan bahkan mulai menyasar pemesanan untuk periode Oktober-November yang biasanya menjadi salah satu masa ramai kunjungan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak bencana tidak selalu berhenti di wilayah yang terdampak secara fisik. Ketika informasi mengenai bencana menyebar luas, destinasi yang berada jauh dari lokasi kejadian juga dapat ikut terkena dampaknya.

Pihak Lumbini Development Trust (LDT), lembaga pemerintah yang mengelola situs bersejarah tersebut, pun berupaya meyakinkan wisatawan internasional bahwa Lumbini tetap aman dan dapat diakses. Dengan kata lain, penurunan kunjungan ke Lumbini lebih berkaitan dengan persepsi dan kekhawatiran wisatawan terhadap kondisi Nepal secara umum, bukan karena kawasan tersebut mengalami kerusakan akibat banjir.

4. Sekitar 142 hotel terdampak banjir

Potret biara yang terletak di pegunungan Himalaya, Nepal (unsplash.com/Raimond Klavins)

Dampak terhadap pariwisata Nepal ternyata tidak hanya berupa pembatalan perjalanan. Berdasarkan temuan awal Komite Penilaian Kerusakan Banjir Glasial Bhotekoshi, total kerugian sektor pariwisata diperkirakan mencapai hampir 52 miliar Rupee Nepal atau sekitar Rp5,97 triliun.

Kerugian tersebut mencakup berbagai produk dan layanan pariwisata, termasuk kerusakan bangunan serta infrastruktur. Kerusakan terhadap lahan, bangunan, dan struktur utama saja diperkirakan mencapai sekitar 19 miliar Rupee Nepal.

Sekitar 142 hotel dilaporkan mengalami kerusakan atau bahkan hancur. Sebanyak sekitar 70 hotel berada di Rasuwa, 40 di Nuwakot, hampir 20 di Dhading, dan 12 lainnya di Gorkha. Wilayah-wilayah tersebut memang mengalami dampak langsung dari bencana. Namun, kerugian kemudian meluas ke berbagai destinasi lain akibat berkurangnya pergerakan wisatawan.

5. Sejumlah destinasi mulai kembali normal

Meski mengalami dampak cukup besar, kondisi Nepal tidak berarti seluruh wilayahnya lumpuh. Hotel Association Nepal menyebut sejumlah destinasi wisata utama, seperti Kathmandu, Pokhara, dan Chitwan, mulai kembali beroperasi normal.

Bandara, hotel, dan restoran tetap beroperasi, sementara pembatalan perjalanan mulai berkurang setelah beberapa negara melonggarkan imbauan perjalanan. Oleh karena itu, wisatawan yang berencana mengunjungi Nepal sebaiknya mengecek kondisi destinasi dan akses perjalanan secara spesifik, bukan menganggap seluruh negara terdampak dengan tingkat yang sama.

Pemulihan pariwisata menjadi hal penting bagi Nepal, karena sektor ini melibatkan banyak pelaku usaha dan pekerja, termasuk pemandu serta porter. Setelah bencana, pemerintah dan industri pariwisata juga mulai menyiapkan berbagai bentuk bantuan untuk bisnis dan masyarakat terdampak.

Curated For You

Editorial Team

Related Article