Tips Traveling Naik Pesawat Pascaerupsi Gunung Anak Krakatau

- Erupsi Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik dapat mengganggu jarak pandang, merusak mesin pesawat, serta memicu penutupan bandara atau penundaan penerbangan.
- Penumpang perlu memantau NOTAM, informasi BMKG atau PVMBG, serta notifikasi maskapai melalui aplikasi, email, dan SMS untuk mengetahui perubahan status penerbangan.
- Siapkan transportasi alternatif, pilih asuransi yang mencakup bencana alam, dan bawa masker N95, kacamata pelindung, obat mata, serta obat pribadi dalam tas kabin.
Erupsi Gunung Anak Krakatau yang melontarkan abu vulkanik tinggi ke udara kerap memicu kewaspadaan ekstra pada sektor transportasi udara di Indonesia. Sebaran material dan abu vulkanik yang terbawa angin tidak hanya membahayakan jarak pandang pilot, tetapi juga berisiko tinggi merusak mesin pesawat saat terbang.
Fenomena ini makin menuntut kehati-hatian yang tinggi, mengingat Indonesia berada di lintasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), tempat banyaknya gunung berapi aktif lainnya yang berpotensi erupsi sewaktu-waktu.
Bagi kamu yang sudah merencanakan perjalanan udara di tengah bayang-bayang erupsi gunung berapi, tidak perlu panik, ya! Kunci utama agar penerbanganmu tetap berjalan aman dan lancar adalah persiapan matang, sekaligus kesigapan dalam memantau informasi penerbangan.
Penasaran apa saja langkah krusial yang wajib kamu terapkan? Simak tips traveling naik pesawat setelah erupsi Krakatau berikut ini!
1. Pantau Notice to Airmen (NOTAM) dan informasi dari berbagai pihak terkait

Suasana penumpang di Bandara Soekarno-Hatta usai ditutup dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti) Langkah pertama yang wajib kamu lakukan sebelum berangkat ke bandara adalah memantau pengumuman Notice to Airmen (NOTAM) dari pihak bandara, serta informasi sebaran abu vulkanik dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
NOTAM memuat status terkini mengenai operasional ruang udara, termasuk informasi penutupan bandara akibat sebaran abu vulkanik. Memantau kanal resmi lembaga terkait akan memberikan gambaran valid dan real-time mengenai kondisi keamanan jalur penerbanganmu, serta kamu bisa mengantisipasi potensi penundaan penerbangan lebih awal sebelum tiba di bandara.
2. Siapkan rencana alternatif (plan B) dan moda transportasi darat

Potret bus DAMRI (IDN Times/Teri) Mengingat erupsi gunung berapi bersifat dinamis, menyiapkan skenario perjalanan cadangan adalah hal yang sangat vital. Jika rute penerbanganmu melintasi area yang berisiko terdampak sebaran abu vulkanik, segera cari tahu opsi transportasi alternatif, seperti kereta api atau bus. Hal ini akan mengurangi rasa panikmu, apabila jadwal penerbangan utama mendadak dibatalkan pihak maskapai.
Biasanya, penyedia jasa transportasi darat akan menambah armada, seperti yang dilakukan PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang sudah menyiapkan perjalanan kereta api tambahan saat Bandara Soekarno-Hatta dan bandara-bandara lain ditutup imbas erupsi Gunung Anak Krakatau. Kamu bisa langsung beralih ke Plan B dengan naik kereta api tanpa membuang banyak waktu.
3. Pantau notifikasi aplikasi, email, dan SMS secara berkala

Potret notifikasi email (magnific.com/rawpixel.com) Saat terjadi gangguan penerbangan akibat bencana erupsi, komunikasi antara pihak maskapai dan calon penumpang menjadi sangat krusial. Pastikan kamu telah mengunduh aplikasi resmi maskapai penerbangan yang kamu gunakan dan mengaktifkan fitur notifikasi di ponselmu. Pantau juga informasi via email dan SMS.
Pihak maskapai biasanya mengirimkan pembaharuan terkait status penerbangan, pengalihan rute, dan hal penting lain terkait penerbangan melalui aplikasi, SMS, atau email. Pastikan juga nomor telepon dan alamat email yang terdaftar saat memesan tiket aktif dan bisa dihubungi.
Jika menerima pemberitahuan bahwa jadwal terbangmu terdampak penutupan ruang udara, segera hubungi call center atau layanan pelanggan maskapai. Langkah cepat ini sangat menentukan peluangmu untuk mendapatkan kuota kursi pada penerbangan pengganti pertama saat bandara kembali dibuka.
4. Manfaatkan asuransi perjalanan yang meng-cover bencana alam

Potret asuransi perjalanan (magnific.com/rawpixel.com) Banyak wisatawan sering mengabaikan opsi asuransi perjalanan saat membeli tiket pesawat. Padahal, manfaatnya sangat terasa di berbagai situasi, terutama ketika terjadi bencana erupsi.
Sebelum membeli tiket, kamu bisa membaca klausa asuransi perjalanan dan pilih yang menanggung pembatalan atau keterlambatan akibat bencana alam. Perlindungan ini akan menanggung kerugian finansial dari tiket yang hangus hingga tak sedikit yang memberikan biaya tambahan untuk akomodasi darurat.
Simpan baik-baik seluruh bukti transaksi pesawat, seperti tiket penerbangan dan surat keterangan pembatalan dari pihak maskapai, sebagai syarat klaim asuransi. Investasi pada asuransi perjalanan ini siap menjadi "pengaman" yang sangat berharga.
5. Bawa alat pelindung diri lengkap di dalam tas atau hand carry

Portet tas ransel (pexels.com/Scott Webb) Menyiapkan Alat Pelindung Diri (APD) sederhana di dalam tas jinjing (hand carry) sangat penting saat bepergian. Selalu siapkan masker medis atau N95, kacamata pelindung, dan obat tetes mata di tempat yang mudah dijangkau. Abu vulkanik mengandung partikel kaca dan silika halus yang sangat tajam, sehingga berbahaya jika terhirup atau mengenai mata.
Bagi kamu yang memiliki gangguan pernafasan, seperti asma, selalu bawa obat atau nebulizer portabel. Semua alat pelindung ini akan sangat berguna apabila kamu harus keluar dari terminal bandara atau tertahan di area terbuka yang terpapar hujan abu vulkanik. Hindari pula menggunakan lensa kontak (contact lens), karena partikel abu yang terselip bisa menggores kornea mata.
Demikian beberapa tips traveling naik pesawat terbang setelah erupsi Gunung Anak Krakatau. Semoga situasi segera aman dan terkendali, ya! Stay safe, everyone!
















