Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Panduan Wisata saat Ramadan, Liburan Nyaman Ibadah pun Lancar

Panduan Wisata saat Ramadan, Liburan Nyaman Ibadah pun Lancar
Masjid Gedhe Kauman (commons.wikimedia.org/Aisha Tanduk)
Intinya Sih
  • Artikel membahas panduan wisata selama Ramadan agar liburan tetap nyaman tanpa mengganggu ibadah, dengan menonjolkan keseimbangan antara rekreasi dan nuansa spiritual.
  • Beberapa rekomendasi destinasi meliputi kawasan keraton, masjid bersejarah, museum sejuk, wisata alam santai, hingga kampung adat yang mempertahankan tradisi Ramadan.
  • Fokus utama perjalanan adalah pengalaman reflektif dan interaksi budaya yang mendalam, menjadikan Ramadan sebagai momen untuk menikmati Indonesia secara lebih tenang dan bermakna.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Wisata saat Ramadan selalu menghadirkan pertanyaan menarik tentang ke mana harus pergi, kapan waktu terbaik untuk berkunjung, serta bagaimana menikmati perjalanan tanpa mengganggu kekhusyukan ibadah. Banyak orang ingin tetap bergerak menjelajahi tempat baru sambil menjaga nuansa spiritual yang justru menjadi inti bulan suci.

Keinginan untuk melakukan perjalanan di bulan yang suci ini terus meningkat karena masyarakat melihat liburan tidak lagi sekadar rekreasi, melainkan cara meresapi suasana Ramadan yang lebih reflektif di berbagai daerah. Simak sejumlah panduan wisata saat Ramadan berikut supaya jadi inspirasi kamu!

1. Menjelajahi kawasan keraton sambil menunggu waktu berbuka

Keraton Surakarta
Keraton Surakarta (commons.wikimedia.org/Gunarta)

Kota seperti Solo, Yogyakarta, serta Cirebon memiliki kawasan keraton yang tetap buka selama Ramadan sehingga kamu masih dapat menikmati tur sejarah tanpa harus berdesakan dengan rombongan wisata lain. Lingkungan sekitar biasanya lebih lengang pada siang hari karena masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, kondisi ini membuat kunjungan terasa lebih fokus saat mengamati arsitektur, koleksi benda pusaka, hingga tata ruang tradisional yang sarat makna filosofis. Akses menuju area keraton relatif mudah karena umumnya berada di pusat kota serta terhubung dengan transportasi umum, sehingga perjalanan tidak membutuhkan banyak tenaga selama berpuasa.

Jadwal kunjungan sebaiknya dilakukan pada pagi menjelang siang agar tubuh tidak terlalu lelah, lalu kamu dapat beristirahat di area alun-alun sambil menunggu suasana sore yang biasanya mulai ramai oleh pedagang takjil khas daerah. Banyak pelancong memanfaatkan momen ini untuk mengikuti tur budaya singkat yang menjelaskan sejarah kerajaan, tradisi Ramadan lokal, hingga perubahan aktivitas masyarakat selama bulan puasa. Pengalaman seperti ini memberi nilai tambah karena perjalanan tidak hanya bersifat rekreatif, melainkan juga edukatif serta relevan dengan nuansa spiritual yang sedang berlangsung.

2. Mengunjungi masjid bersejarah sebagai bagian dari rute perjalanan

Masjid Raya Baiturrahman
Masjid Raya Baiturrahman (commons.wikimedia.org/Si Gam Acèh)

Masjid besar di berbagai kota dapat menjadi destinasi utama karena memiliki nilai arsitektur sekaligus sejarah panjang yang menarik dipelajari. Bangunan seperti Masjid Raya Baiturrahman di Aceh, Masjid Istiqlal di Jakarta, atau Masjid Agung Jawa Tengah menghadirkan pengalaman visual megah namun tetap menghadirkan rasa teduh yang sesuai dengan atmosfer Ramadan. Kunjungan dapat dilakukan di luar waktu salat utama agar kamu memiliki kesempatan mengamati detail interior, kaligrafi, serta struktur bangunan tanpa mengganggu aktivitas ibadah jamaah.

Area pelataran masjid biasanya menjadi pusat kegiatan menjelang berbuka karena banyak masyarakat berbagi makanan, sehingga kamu bisa merasakan pengalaman berbuka bersama yang hangat serta penuh interaksi. Perjalanan menuju masjid-masjid ini juga mudah dirancang karena lokasinya berada di jalur wisata, memungkinkan kamu menyusun itinerary singkat tanpa berpindah terlalu jauh. Banyak pelancong memilih berjalan santai di sekitar kawasan religi setelah salat magrib untuk menikmati suasana malam Ramadan yang hidup namun tetap tertib lalu melanjutkan salat tarawih berjamaah.

3. Menyusun agenda siang hari dengan kunjungan museum yang sejuk

Museum Tsunami Aceh
Museum Tsunami Aceh (commons.wikimedia.org/Rachmat04)

Museum menjadi pilihan ideal untuk mengisi waktu siang karena ruangannya tertutup, berpendingin udara, serta tidak menguras energi selama berpuasa. Tempat seperti Museum Nasional di Jakarta, Museum Sonobudoyo di Yogyakarta, atau Museum Tsunami Aceh menawarkan pengalaman visual, narasi sejarah, serta tata galeri yang memungkinkan kamu belajar sambil beristirahat dari panas di luar ruangan. Durasi kunjungan dapat diatur antara satu hingga dua jam agar tubuh tetap nyaman. Lalu perjalanan dapat dilanjutkan menuju lokasi berbuka puasa tanpa tergesa-gesa.

Banyak museum juga menyediakan fasilitas duduk, ruang audio visual, hingga kafe yang mulai beroperasi menjelang sore sehingga kamu memiliki tempat transit sebelum melanjutkan aktivitas lain. Kelebihan lainnya dari kunjungan museum saat Ramadan terletak pada jumlah pengunjung yang cenderung lebih sedikit dibandingkan musim liburan sekolah. Kondisi ini membuat pengalaman melihat koleksi terasa lebih personal karena kamu dapat membaca informasi secara perlahan tanpa harus pusing akibat keramaian.

4. Menikmati destinasi alam dengan perjalanan yang lebih santai

Kepulauan Derawan
Kepulauan Derawan (commons.wikimedia.org/consigliere ivan)

Wilayah seperti Labuan Bajo, Bunaken, Luwuk Banggai, serta Kepulauan Derawan menawarkan bentang alam yang tetap menarik dikunjungi karena aktivitas wisata dapat disesuaikan dengan kondisi fisik selama berpuasa. Perjalanan di tempat-tempat ini tidak menuntut mobilitas tinggi jika kamu memilih kegiatan ringan seperti menikmati panorama, fotografi, atau berjalan santai di sekitar penginapan. Waktu terbaik untuk beraktivitas biasanya berada pada pagi hari atau menjelang matahari terbenam karena suhu lebih bersahabat serta cahaya alami menghadirkan pemandangan yang memukau.

Banyak hotel atau resort telah menyesuaikan layanan selama Ramadan dengan menyediakan sahur tepat waktu serta menu berbuka khas daerah setempat, sehingga logistik perjalanan tetap terjaga tanpa kesulitan mencari makanan. Transportasi lokal di kawasan wisata alam umumnya fleksibel karena pengelola memahami kebutuhan wisatawan yang ingin bergerak lebih santai selama bulan puasa. Pengalaman menikmati senja di tepi laut setelah sehari beraktivitas sering menjadi momen paling berkesan dalam perjalanan, menghadirkan rasa tenang yang sulit ditemukan pada musim liburan ramai.

5. Menyelami kehidupan kampung adat yang tetap menjalankan tradisi Ramadan

Kampung Adat Ratenggaro
Kampung Adat Ratenggaro (commons.wikimedia.org/Allwyn Wawyn)

Kampung Adat Ratenggaro di Sumba, Desa Sasak di Lombok, serta Kampung Pegayaman di Bali memperlihatkan bagaimana tradisi lokal berjalan berdampingan dengan praktik keagamaan selama bulan puasa. Lingkungan desa menawarkan pengalaman tinggal yang lebih dekat dengan masyarakat sehingga kamu dapat melihat langsung persiapan sahur, kegiatan sosial, hingga tradisi berbagi makanan menjelang magrib. Akomodasi di kawasan adat biasanya berbentuk homestay yang dikelola warga setempat sehingga perjalanan terasa lebih autentik sekaligus mendukung ekonomi lokal.

Interaksi seperti mengikuti aktivitas memasak, berjalan di area permukiman tradisional, atau berbincang dengan tokoh masyarakat memberi perspektif baru tentang perjalanan berbasis budaya. Kunjungan ke kampung adat juga tidak membutuhkan jadwal padat karena daya tarik utamanya terletak pada suasana kampung. Perjalanan wisata seperti ini justru cocok untuk Ramadan karena kamu dapat menyesuaikan energi, menikmati ketenangan desa, serta merasakan perjalanan yang lebih menyenangkan.

Perjalanan yang disusun secara bijak membuat wisata saat Ramadan tetap terasa menyenangkan tanpa kehilangan makna bulan suci, bahkan sering menghadirkan pengalaman yang lebih berkesan dibandingkan liburan biasa. Setiap destinasi memberi kesempatan menikmati Indonesia dari sisi yang lebih tenang serta penuh interaksi budaya. Dari berbagai pilihan tersebut, tempat mana yang paling ingin kamu kunjungi terlebih dahulu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febrianti Diah Kusumaningrum
EditorFebrianti Diah Kusumaningrum
Follow Us

Latest in Travel

See More