7 Festival Mid-Autumn di Asia dan Tradisi Unik di Baliknya
- Festival Mid-Autumn dirayakan pada hari ke-15 bulan ke-8 kalender lunar sebagai momen panen, dengan tradisi umum berkumpul, menikmati bulan, lampion, dan kuliner khas.
- China dan Hong Kong menonjolkan kue bulan serta kebersamaan keluarga, sementara Hong Kong memiliki Tarian Naga Api Tai Hang yang berlangsung tiga malam dan diarak ratusan peserta.
- Korea Selatan, Jepang, Vietnam, Thailand, dan Kamboja memberi warna berbeda melalui penghormatan leluhur, perenungan bulan, tarian singa, doa kepada Guanyin, hingga lomba perahu.
Festival Mid-Autumn termasuk waktu yang dinantikan oleh sebagian warga Asia, terutama Asia Timur dan Asia Tenggara. Sesuai dengan namanya, perayaan ini kerap kali digelar pada pertengahan musim gugur, bertepatan dengan hari ke-15 bulan ke-8 dalam kalender lunar. Mereka juga menjadikannya sebagai perayaan panen.
Meski akar budayanya serupa, warga Asia di setiap negara punya cara yang berbeda untuk memeriahkannya. Ada yang menggantung lampion, membuat kue bulan, hingga mengamati bulan. Mau tahu lebih lanjut? Simak artikel ini sampai selesai, ya!
1. Zhongqiu Jie, China

ilustrasi makan bersama keluarga saat Festival Mid-Autumn (pexels.com/Nam Tran) Festival Mid-Autumn di China disebut Zhongqiu Jie, yang punya nama lain Festival Kue Bulan atau Festival Bulan. Perayaan ini menjadi hari yang paling penting setelah Tahun Baru China. Seiring waktu, festival tersebut juga mendapat makna tambahan yang kini mencakup doa untuk kesehatan dan kebahagiaan.
Secara tradisional, orang China Daratan mempercayai bentuk bulan yang bulat melambangkan berkumpulnya keluarga. Mereka juga merayakannya dengan menyantap kue bulan dan memberikannya kepada kerabat atau teman sebagai ungkapan kasih sayang dan harapan terbaik. Tidak ketinggalan makan malam bersama dengan menu hasil panen musiman, melihat bulan, dan menyalakan lampion.
2. Zung-cau-zit, Hong Kong
ilustrasi Tarian Naga Api Tai Hang (commons.wikimedia.org/Dilontai) Bergeser sedikit ke Hong Kong, Festival Pertengahan Musim Gugur punya penyebutan yang hampir sama dengan di China, yakni Zung-cau-zit dalam pelafalan Kanton. Perayaan festival tersebut secara tradisional tidak jauh berbeda dengan di China Daratan, yakni berkumpul bersama keluarga, menikmati keindahan bulan purnama, dan berbagi kue bulan. Selain itu, banyak acara meriah, mulai dari karnaval lampion hingga Tarian Naga Api Tai Hang.
Tarian Naga Api Tai Hang inilah yang membuat perayaan Festival Mid-Autumn di Hong Kong berbeda dari lainnya. Informasi buat kamu, tarian tersebut telah berusia seabad dan masuk dalam daftar Warisan Budaya Nasional China sejak 2011. Pertunjukan tersebut biasanya berlangsung selama tiga malam berturut-turut dengan ratusan peserta yang mengarak liong sepanjang puluhan meter.
3. Chuseok, Korea Selatan

ilustrasi keluarga Korea berkumpul (pexels.com/Paul Bill) Chuseok berarti malam musim gugur dalam bahasa Korea, disebut juga Hari Thanksgiving Korea. Tradisi ini sedikit berbeda karena berkaitan dengan festival panen yang berlangsung selama 3 hari berturut-turut. Hari perayaannya berdasarkan kalender lunar Korea, tetapi selalu bertepatan dengan ekuinoks musim gugur, yang biasanya jatuh pada akhir September.
Hampir sama seperti di China Daratan maupun Hong Kong, warga Korea Selatan menjadikan Chuseok sebagai waktu untuk mengunjungi kampung halaman dan berpesta di sana. Namun, rangkaian acaranya meliputi menyantap makanan tradisional seperti songpyeon dan buah musiman, upacara peringatan leluhur, dan kunjungan ke makam leluhur mereka.
Tidak hanya itu, sebagian orang Korea melakukan tarian lingkaran kuno dengan mengenakan pakaian mewah untuk menyambut panen melimpah yang disebut ganggangsullae. Tarian ini menjadi salah satu ciri khas perayaan pertengahan musim gugur modern di Korea Selatan. Menariknya lagi, kesenian ini telah terdaftar dalam Warisan Budaya Tak Benda UNESCO sejak tahun 2009.
4. Tsukimi, Jepang
Festival bulan purnama dan panen musim gugur di Jepang disebut Tsukimi, yang berarti melihat bulan. Sedikit berbeda dari budaya di China, Hong Kong, maupun Korea Selatan yang lebih terkenal dengan tradisi pulang kampung dan festival meriah. Tsukimi cenderung memberikan nuansa syahdu dan lebih tenang, meski tetap berkumpul bersama orang terdekat untuk mengagumi keindahan bulan purnama.
Secara tradisional dirayakan dengan memajang rumput susuki, tsukimi dango, dan makanan musiman. Orang Jepang menganggap perayaan ini sebagai hari penuh perenungan, bukan pesta, melainkan jeda untuk bersyukur atas hasil panen dan menikmati pergantian musim. Selain itu, mereka biasanya mengunjungi taman untuk piknik atau ke kuil pada malam hari untuk menyaksikan bulan.
Kamu juga masih bisa menikmati cara merayakan yang lebih modern, terutama di kota besar. Biasanya akan ada instalasi seni bertema bulan dan kelinci di sekitar pusat kota. Banyak pula gerai makanan yang menawarkan menu khusus tsukimi dengan tambahan telur sebagai salah satu ciri khasnya.
5. Tet Trung Thu, Vietnam
Tet Trung Thu (commons.wikimedia.org/Viethavvh) Ternyata bukan hanya di negara di Asia Timur, Festival Mid-Autumn pun dirayakan dalam skala nasional di sejumlah negara di Asia Tenggara, salah satunya Vietnam. Mereka menyebutnya Tet Trung Thu, yang juga mengacu pada hari ke-15 bulan ke-8 kalender lunar. Sama seperti negara sebelumnya, budaya ini berakar dari China.
Suasana festival ini begitu meriah di Vietnam, karena diwarnai lampion, tarian, dan nyanyian di jalanan. Tarian singa atau mua lan merupakan elemen penting dalam perayaan ini. Anak-anak berkumpul, membawa lentera merah, dan bernyanyi mengelilingi lingkungan mereka.
Ada pula karakter lain, seperti penari yang mengenakan topeng bulat berwajah ceria sebagai lambang bulan. Tidak ketinggalan penari barongsai dan Dewa Bumi, Ong Dia. Keberadaan karakter Ong Dia mewakili kelimpahan bumi dan mengingatkan para penonton untuk bersyukur atas rezeki yang telah diberikan.
6. Wai Phra Chan, Thailand

Tambon Bang Kaeo, Chang Wat Chachoengsao, Thailand (pexels.com/Siamways Individualreisen) Berbeda dari masyarakat China yang mengaitkan Festival Pertengahan Musim Gugur dengan legenda Chang’e dan kenaikannya ke bulan. Di sisi lain, orang Thailand merayakannya untuk menghormati hari kelahiran Guanyin, Dewi Welas Asih. Mereka menyebutnya Wai Phra Chan atau Moon Praying Festival.
Pada hari perayaan tersebut, mereka mempersembahkan buah persik dan kue bulan kepada Guanyin untuk keberuntungan, sambil memajang patung Delapan Dewa. Hampir sama dengan beberapa negara sebelumnya, momen ini juga dimanfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga, makan kue bulan, berdoa memohon kesehatan dan kebahagiaan, serta menikmati parade budaya. Tidak ketinggalan lampion yang menghiasi berbagai sudut kota untuk memeriahkan suasana.
7. Bon Om Touk, Kamboja

Bon Om Touk, Kamboja (commons.wikimedia.org/Codas) Kamboja merayakan berakhirnya musim hujan dan panen musim gugur dengan serangkaian festival selama 3 hari pada bulan November, kadang-kadang pada Oktober. Hari pertama dimulai dengan Bon Om Touk, kedua adalah Og Ambok dan Sampeah Peah Khae, dan yang ketiga merupakan hari terakhir pemotongan pita. Lomba balap perahu menjadi ikonnya dan berlangsung selama 3 hari, dan pesertanya berasal dari setiap provinsi di Kamboja.
Bon Om Touk merupakan lomba balap perahu yang panjangnya antara 15–85 meter dengan lukisan naga di kedua sisinya.Og Ambok dan Sampeah Peah Khae atau Festival Bulan, yang biasanya dirayakan tengah malam bersama keluarga atau di kuil maupun pagoda dengan menyalakan lampion serta lilin. Hari ketiga merupakan hari terakhir pemotongan pita sekaligus penentuan pemenang Bon Om Touk, yaitu perahu tercepat.
Sekarang rasa penasaranmu sudah terjawab, kan? Ada banyak cara untuk memeriahkan Festival Mid-Autumn di Asia. Lampion, kuliner, hingga aktivitas yang berkaitan dengan bulan menjadi ciri khas dari festival tersebut.





















