Bahaya Mengemudi Satu Tangan di Atas Setir, Bisa Berakibat Fatal

- Ancaman proyektil dari jam tangan dan perhiasan
- Bahaya tangan yang terlempar ke arah wajah
- Pergeseran standar posisi jam sembilan dan jam tiga
Kebiasaan mengemudi dengan satu tangan di posisi arah jam 12 atau bagian atas setir sering kali dianggap sebagai gaya yang santai dan nyaman. Banyak pengemudi tidak menyadari bahwa estetika berkendara seperti ini menyimpan risiko fatal yang dapat mengubah fitur keselamatan mobil menjadi senjata yang menyerang balik tubuh sendiri.
Kenyamanan semu tersebut mengabaikan prinsip kerja sistem keselamatan pasif kendaraan yang dirancang dengan perhitungan milidetik. Ketika situasi darurat memaksa sistem pelindung bekerja, posisi tangan yang tidak ideal serta penggunaan aksesori tangan yang mencolok dapat memicu cedera serius yang sebenarnya bisa dihindari dengan edukasi yang tepat.
1. Ancaman proyektil dari jam tangan dan perhiasan

Di era modern, penggunaan jam tangan pintar atau smartwatch berukuran besar serta perhiasan yang menonjol telah menjadi bagian dari gaya hidup. Namun, benda-benda berbahan keras ini berubah menjadi ancaman mematikan apabila berada tepat di jalur ledakan kantung udara. Saat terjadi benturan, airbag akan meledak keluar dari modul di tengah setir dengan kekuatan yang sangat masif guna menahan laju tubuh pengemudi.
Jika posisi tangan berada di atas setir, jam tangan atau cincin besar yang dikenakan akan berada langsung di atas kantung udara yang sedang mengembang. Kecepatan ledakan yang mencapai ratusan kilometer per jam tersebut akan mengubah aksesori tersebut menjadi proyektil tajam. Benda-benda keras ini dapat terlempar ke arah wajah atau mata dengan kekuatan destruktif, menyebabkan luka robek permanen atau kerusakan penglihatan yang fatal sebelum tubuh sempat menyentuh bantalan lembut airbag.
2. Bahaya tangan yang terlempar ke arah wajah

Menyetir dengan posisi satu tangan di arah jam 12 sangat berbahaya karena mekanisme pengembangan airbag selalu dimulai dari titik tengah kemudi menuju ke luar. Dalam waktu kurang dari 0,04 detik, kantung udara akan mengembang dengan dorongan gas yang sangat kuat. Jika lengan atau tangan berada di bagian atas setir, ledakan tersebut akan menghantam lengan pengemudi dan melemparkannya ke arah wajah dengan kecepatan tinggi.
Dampak dari kejadian ini sering kali berupa patah tulang lengan atau cedera benturan pada kepala akibat hantaman tangan sendiri yang terdorong oleh airbag. Posisi tangan di arah jam 12 secara efektif menghalangi jalur keluar kantung udara, sehingga energi ledakan yang seharusnya terserap untuk membentuk bantalan justru berpindah menjadi gaya dorong yang mematahkan persendian tangan pengemudi. Risiko ini jauh lebih besar daripada manfaat kenyamanan yang didapatkan dari posisi menyetir tersebut.
3. Pergeseran standar posisi jam sembilan dan jam tiga

Dahulu, sekolah mengemudi sering menyarankan posisi tangan "jam 10 dan jam 2" untuk kendali optimal. Namun, seiring dengan standarisasi airbag pada hampir semua mobil modern, pakar keselamatan kini lebih menyarankan posisi tangan di arah "jam 9 dan jam 3". Posisi ini memberikan ruang terbuka yang luas di tengah setir agar kantung udara dapat mengembang sempurna tanpa terhalang oleh lengan pengemudi.
Selain memberikan ruang bagi airbag, posisi jam 9 dan jam 3 juga menurunkan risiko cedera akibat puntiran tangan saat terjadi ledakan. Dengan tangan berada di sisi samping kemudi, gaya ledakan gas akan mendorong lengan ke arah luar, menjauh dari jalur wajah dan tubuh. Perubahan kecil pada kebiasaan memegang setir ini terbukti secara medis dapat mengurangi tingkat keparahan cedera pada area wajah dan anggota gerak atas saat terjadi kecelakaan hebat di jalan raya.

















