Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Benarkah EV Lebih Boros Saat Melaju Kencang daripada Mobil Bensin?

Benarkah EV Lebih Boros Saat Melaju Kencang daripada Mobil Bensin?
ilustrasi mobil listrik (unsplash.com/Benjamin Brunner)
  • EV tetap efisien, terutama di kota, tetapi konsumsi energinya meningkat saat melaju kencang karena hambatan udara bertambah drastis dan dapat memangkas jarak tempuh.
  • Pada kecepatan tinggi yang konstan, motor listrik membutuhkan tenaga besar untuk melawan angin, gesekan ban, dan hambatan mekanis; efisiensi EV dibanding bensin bergantung sejumlah faktor kendaraan.
  • Regenerative braking minim bekerja di jalan tol tanpa banyak perlambatan, sementara AC, kondisi ban, beban, arah angin, dan kontur jalan turut memengaruhi konsumsi energi EV.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mobil listrik atau electric vehicle (EV) dikenal punya efisiensi energi yang sangat baik, terutama ketika digunakan di dalam kota. Sistem penggeraknya mampu memanfaatkan energi baterai secara efisien tanpa proses pembakaran seperti mesin bensin.

Namun, ketika masuk jalan tol dan melaju dalam kecepatan tinggi, konsumsi energi EV bisa meningkat cukup signifikan. Bahkan, pengurangan jarak tempuh yang dirasakan bisa lebih besar dibandingkan ketika mobil digunakan pada kecepatan rendah.

  1. 1. Hambatan angin semakin besar

    ilustrasi mobil listrik
    ilustrasi mobil listrik (pexels.com/David Viorel)

    Salah satu penyebab utama EV lebih boros ketika melaju kencang adalah hambatan udara atau aerodynamic drag. Semakin tinggi kecepatan mobil, semakin besar tenaga yang dibutuhkan untuk melawan udara di depan kendaraan. Hambatan ini meningkat secara drastis ketika kecepatan bertambah.

    Kondisi tersebut sebenarnya juga dialami mobil bensin. Bedanya, motor listrik sangat efisien pada berbagai kondisi sehingga konsumsi energi pada kecepatan rendah bisa sangat hemat. Ketika kecepatan tinggi, keuntungan efisiensi tersebut mulai tertutupi oleh energi besar yang dibutuhkan untuk melawan hambatan udara.

  2. 2. Motor listrik tetap membutuhkan energi besar

    ilustrasi jalan tol
    ilustrasi jalan tol (pexels.com/setengah lima sore)

    Motor listrik memang memiliki efisiensi tinggi, tetapi bukan berarti konsumsi energinya selalu rendah. Ketika mobil harus mempertahankan kecepatan tinggi dalam waktu lama, motor listrik perlu terus menghasilkan tenaga untuk melawan hambatan udara, gesekan ban, serta hambatan mekanis lainnya.

    Pada mobil bensin, mesin juga bekerja lebih keras ketika kecepatan meningkat. Namun, karakteristik konsumsi bahan bakar mesin pembakaran internal berbeda dengan motor listrik. Karena itu, perbandingan efisiensi antara keduanya dapat berubah tergantung kecepatan, desain kendaraan, rasio transmisi, bobot, dan kondisi perjalanan.

  3. 3. Regenerasi energi tidak banyak membantu

    ilustrasi kualitas baterai mobil listrik (unsplash.com/Priscilla Du Preez 🇨🇦)
    ilustrasi kualitas baterai mobil listrik (unsplash.com/Priscilla Du Preez 🇨🇦)

    EV memiliki regenerative braking yang dapat mengubah sebagian energi ketika kendaraan melakukan perlambatan menjadi energi listrik untuk disimpan kembali ke baterai. Fitur ini sangat berguna ketika berkendara di perkotaan karena mobil sering melakukan deselerasi dan berhenti.

    Di jalan tol dengan kecepatan tinggi, situasinya berbeda. Jika perjalanan berlangsung relatif konstan tanpa banyak pengereman, regenerative braking jarang bekerja. Energi yang sudah digunakan untuk mempertahankan kecepatan tidak bisa begitu saja dikembalikan ke baterai. Karena itu, perjalanan jauh dengan kecepatan tinggi dapat membuat konsumsi energi EV meningkat.

    Selain itu, penggunaan AC, kondisi ban, beban kendaraan, arah angin, hingga kontur jalan juga dapat memengaruhi konsumsi energi. Angin dari depan misalnya, dapat membuat mobil membutuhkan tenaga lebih besar untuk mempertahankan kecepatan.

    Jadi, bukan berarti mobil listrik selalu lebih boros daripada mobil bensin saat melaju kencang. EV tetap memiliki efisiensi energi tinggi, tetapi keunggulannya paling terasa pada kondisi tertentu. Semakin tinggi kecepatan, semakin besar pula pengaruh hambatan udara terhadap konsumsi energi, sehingga jarak tempuh aktual EV dapat turun lebih cepat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More